
Oleh : Afrizal Akmal; Founder IKHW
REPUBLIKA.CO.ID, Indonesia kembali tergoda oleh solusi instan. Ketika produktivitas sawit stagnan, yang disalahkan bukan lanskap yang rusak, bukan tanah yang lelah, bukan pula monokultur yang menua. Yang disalahkan justru serangga. Maka, jawaban pun dicari jauh: dari Tanzania.
Para pengusaha sawit berencana mengimpor serangga penyerbuk dari Tanzania—Sebagaimana di lansir CNBC Indonesia, 7 Januari 2026. Alasannya terdengar teknokratis: penyerbuk lokal dianggap “tak lagi mempan”. Seolah alam telah gagal, dan manusia harus turun tangan dengan paket impor. Padahal, yang gagal bukan alam—melainkan cara kita memperlakukannya.
Ini bukan pertama kalinya Indonesia bermain-main dengan spesies asing. Kita pernah mendatangkan Elaeidobius kamerunicus pada era sebelumnya, juga dengan dalih efisiensi. Hasil jangka pendek mungkin ada. Tapi diskusi tentang dampak ekologis jangka panjang selalu dipinggirkan. Seperti biasa, risiko diletakkan di kaki generasi berikutnya.
Masalahnya sederhana: introduksi spesies asing bukan sekadar urusan produktivitas, melainkan urusan ekologi yang kompleks. Serangga bukan mesin. Ia membawa sejarah evolusi, relasi dengan patogen, dan potensi menjadi spesies invasif. Sekali dilepas, ia tak bisa “dipanggil pulang” jika ekosistem terganggu.
Kebun sawit Indonesia sendiri adalah ekosistem yang sudah rapuh. Monokultur luas, minim vegetasi pendukung, disiram pestisida, dan miskin ruang hidup bagi serangga lokal. Dalam kondisi seperti itu, kegagalan penyerbukan bukan misteri. Ia adalah akibat. Mengimpor serangga ke dalam sistem yang sakit sama seperti menambah alat bantu napas tanpa mengobati paru-parunya.
Yang lebih mengkhawatirkan: logika ketergantungan. Jika penyerbukan bergantung pada serangga impor, maka keberlanjutan industri sawit bergantung pada rantai pasok biologis lintas negara. Ini bukan kedaulatan pangan, ini ketergantungan ekologis. Hari ini impor serangga, besok mungkin impor mikroba, lusa impor tanah.