Sabtu 10 Jan 2026 11:50 WIB

Agama, Etos Kerja, dan Tanggung Jawab Kemanusiaan

Agama seyogianya menjadi ruh aktivitas kemanusiaan.

Bangunan masjid Pesantren Darul Mukhlisin yang dikepung oleh tumpukan kayu gelondongan di Desa Menanggini, Aceh Tamiang, Aceh, Jumat (19/12/2025). Tumpukan gelondongan kayu masih mengepung area Pesantren Darul Mukhlisin setelah 23 hari bencana banjir bandang menimpa kawasan tersebut. Warga berharap ribuan kayu gelondongan tersebut segera dibersihkan agar aktivitas warga dan pesantren tidak terhambat.
Foto: Republika/Thoudy Badai

Oleh : Prof Dr Imam Subchi MA, Wakil Rektor II UIN Jakarta, dosen S3 Antropologi Islam

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA- Akhir tahun kerap menjadi ruang jeda: saat yang tepat untuk menimbang ulang arah langkah, merumuskan kembali harapan, sekaligus menata ikhtiar yang berdampak bagi kehidupan bersama.

Di titik inilah refleksi keagamaan menemukan relevansinya. Bukan semata sebagai ritual penutup tahun, melainkan sebagai muhasabah kolektif—sejauh mana agama sungguh hadir dalam kerja-kerja perbaikan bangsa.

Baca Juga

Luka di Sumatra, misalnya, belum benar-benar pulih. Bencana ekologis yang terjadi tidak dapat dilepaskan dari relasi manusia dengan alam yang kerap timpang.

Hutan dirambah, bukit dipapas, sungai dialihfungsikan, seolah alam hanyalah objek bisu yang dapat dieksploitasi tanpa batas. Padahal, alam menyimpan daya balik. Ketika keseimbangan dilanggar secara serampangan, prahara menjadi harga yang harus dibayar bersama.

Di titik ini, kesadaran keagamaan seharusnya berbicara lantang. Manusia—sebagaimana diingatkan oleh bencana—tidak pernah sepenuhnya berdaulat atas semesta. Kesadaran akan keterbatasan inilah yang menjadi fondasi etis menuju predikat insan kamil: manusia yang paripurna bukan karena kuasa, melainkan karena tanggung jawabnya.

Karena itu, langkah Kementerian Agama RI yang mengarusutamakan paradigma ekoteologi patut diapresiasi. Paradigma ini menegaskan bahwa pengakuan bertuhan tidak dapat dipisahkan dari kecintaan dan tanggung jawab terhadap alam.

Menjaga lingkungan bukan sekadar agenda teknokratis, melainkan bagian integral dari laku keberagamaan itu sendiri. Jalan menuju peradaban, pada akhirnya, selalu beririsan dengan cara manusia memperlakukan alam.

Orientasi etis

Dalam kehidupan sosial yang semakin kompleks, agama tidak cukup dipahami sebagai sistem kepercayaan spiritual. Ia juga merupakan sumber nilai, orientasi etis, dan penuntun moral dalam merespons persoalan nyata masyarakat.

Di Indonesia—dengan keragaman agama dan budaya—agama memiliki peran strategis sebagai sumber kohesi sosial sekaligus kritik moral atas praktik-praktik yang merusak kemanusiaan.

photo
Umat islam berdoa saat mengikuti Zikir dan Doa Kebangsaan 80 Tahun Indonesia Merdeka di Tugu Proklamasi, Jakarta, Jumat (1/8/2025). Acara tersebut merupakan rangkaian kegiatan menyambut HUT ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia. - (ANTARA FOTO/Asprilla Dwi Adha)

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement