
Oleh : Hery Haryanto Azumi, Pencetus Gerakan Kebangkitan Baru NU
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA-Sejarah Islam di Indonesia tidak pernah terlepas dari peran ulama. Sejak masa Wali Songo, perjuangan dakwah Islam Nusantara dibangun melalui pendekatan kultural, kebijaksanaan sosial, dan keberpihakan kepada umat.
Ulama tidak hanya menjadi penyampai ajaran agama, tetapi juga pemimpin moral, perekat sosial, sekaligus penentu arah peradaban.
Nahdlatul Ulama (NU), yang telah memasuki usia satu abad lebih, lahir dari kesadaran historis tersebut.
NU bukan sekadar organisasi keagamaan, melainkan manifestasi perjuangan Islam Ahlussunnah wal Jamaah di Indonesia — yang menautkan agama, budaya, dan kebangsaan dalam satu tarikan napas.
Namun, memasuki abad kedua, NU dihadapkan pada ujian besar berupa konflik internal di tingkat Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Konflik ini tidak bisa dipandang semata sebagai pertarungan kepentingan elite, tetapi harus dibaca sebagai fenomena sejarah yang menguji kematangan organisasi Islam terbesar di dunia ini.
Ulama warastatul anbiya
Dalam tradisi Islam, ulama memiliki kedudukan istimewa. Rasulullah SAW bersabda:
“Al-‘ulama waratsatul anbiya (para ulama adalah pewaris para nabi).” (HR Abu Dawud dan Tirmidzi)
Sebagai pewaris para nabi, ulama bukan hanya penjaga ilmu, tetapi juga penjaga akhlak, persatuan umat, dan arah perjuangan. Karena itu, konflik internal di tubuh NU sejatinya menjadi panggilan moral bagi para ulama—terutama ulama sepuh—untuk tampil sebagai peneduh, bukan bagian dari polarisasi.
Alquran secara tegas mengingatkan:
“Dan berpegangteguhlah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai.” (QS Ali Imran: 103)