Senin 28 Jul 2025 07:30 WIB

Laporan dari Jantung Hilirisasi Nikel Indonesia, Bagaimana Nikel Mengubah Morowali

Hilirisasi nikel memang menguntungkan, tapi ada dampak serius ke lingkungan dan warga

Rep: Stevy Maradona/ Red: Stevy maradona
Pekerja industri nikel mengendarai sepeda motor usai bekerja di kawasan PT IMIP di Kecamatan Bahodopi, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, Rabu (3/1/2024).
Foto: ANTARA FOTO/Mohamad Hamzah
Pekerja industri nikel mengendarai sepeda motor usai bekerja di kawasan PT IMIP di Kecamatan Bahodopi, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, Rabu (3/1/2024).

REPUBLIKA.CO.ID, MOROWALI -- "Lho, bisa bahasa Indonesia?"

Saya menyapa Sita (23 tahun) yang melintas di depan saya. Perempuan berseragam kerja pabrik warna abu-abu, rambutnya cokelatnya ditutupi helm proyek. Wajahnya bulat, berkeringat. Kacamata tebal nangkring di depan matanya. Ia menoleh, tersenyum, lalu mengangguk melihat saya.

Pada Senin (21/7/2025) siang, kami berdiri di mulut pabrik pengemasan batangan alumunium (ingots). Ada ribuan batangan ditumpuk menunggu untuk masuk truk lalu dikirim ke pembeli atau pabrik di dekat situ. Hawa panas pabrik meruap ke udara. Bau logam amat kuat terendus. Debu tebal tertiup angin. Baju dan rompi pabrik yang saya kenakan sudah basah oleh peluh.

Ada sekitar dua puluhan orang di dalam pabrik itu, sebagiannya adalah jurnalis dari Jakarta, sebagian lainnya adalah pekerja pabrik dan staf PT Indonesian Morowali Industrial Park (IMIP). Saya dan beberapa jurnalis diundang PT IMIP untuk berkeliling melihat langsung aktivitas hilirisasi nikel dan dampak sosial lingkungan di kawasan pabrik, selama beberapa hari.

"Bahasa Indonesianya bagus sekali," saya lanjut bertanya.

"Saya belajar di universitas di Cina," jawab Sita, agak pelan. Gaya bicara Sita terdengar janggal di kuping saya. Bisa jadi karena tidak ada logat daerah Indonesia yang ia miliki. Suara bising pabrik meredam percakapan kami. Saya meminta Sita menuliskan namanya di notes saya. Ia menulis: Sita.

"Nama asli kamu?"

Ia menulis 'Xu Yuan Yuan'.

Sita adalah tenaga kerja asing (TKA) asal Tiongkok. Ia sedikit pekerja Cina yang mampu berbahasa Indonesia di PT HCAI (Hua Chin Alumunium Indonesia). Selain Sita, ada seorang teman perempuannya lagi yang sedang berbincang agak jauh dari kami. Ia menyebut namanya, tapi tidak terdengar. Dari puluhan pekerja TKA di PT HCAI, dan yang mayoritas laki-laki, hanya mereka inilah yang bisa berbahasa Indonesia.

PT HCAI memproduksi alumunium dan ingots atau batangan alumunium. Sebanyak sejuta ton alumunium per tahun keluar dari mesin pabrik, dan 500 ribu ton ingots yang berwarna perak itu.

Sita baru bekerja di PT HCAI kurang dari setahun. Sebelumnya ia kuliah di Universitas Negeri Surabaya, mengambil jurusan bahasa Indonesia. Setahun sebelum itu, Sita kuliah bahasa Indonesia selama dua tahun di Cina. Ia mengaku dari Kota Sichuan, yang terletak di tengah Cina.

"Ada tujuh universitas di Cina yang memiliki jurusan bahasa Indonesia," kata Sita membuka kisahnya. "Teman kuliah saya ada 14 orang," sambung dia. Umumnya yang belajar bahasa Indonesia adalah laki-laki.

"Ada teman lain dari universitas yang bekerja di sini?" tanya saya. Sita menggeleng. Kawan sekelasnya ada yang bekerja di Indonesia, tapi tidak di Morowali.

Mengapa Sita tertarik belajar bahasa Indonesia? Soal pekerjaan adalah motivasi utamanya. Ia tahu bahwa peluang bekerja di luar Cina amat terbuka. Ia juga sudah tahu ada lowongan kerja di industri tambang di Indonesia. "Gaji lebih tinggi kalau saya bisa berbahasa Indonesia," ujar Sita. Saya bertanya berapa nominal gaji Sita, ia enggan menjawab. Hanya menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum.

Bagaimana dengan keluarga? Sita mengaku belum menikah. Bapak dan ibunya khawatir karena anak perempuan mereka harus merantau cukup jauh dari rumah. "Mereka menangis," kata Sita sambil tertawa.

Saya bertanya apa makanan Indonesia favoritnya? Ia menjawab,"Rawon!" Kami berdua tertawa. Ia bahkan tahu nama internasional dari makanan khas arek Jawa Timur itu, "Black soup..black meat soup," kata dia. "Itu enak sekali!"

Harus diakui, bagi saya, menemukan TKA Cina yang bisa dan mau berbahasa Indonesia di kawasan hilirisasi nikel Morowali luar biasa sukar. Padahal TKA berseliweran di hadapan saya mulai dari Jakarta. Maksud saya, penerbangan transit dari Jakarta - Makassar - Morowali, hampir pasti setengah pesawat diisi oleh TKA yang berakhir di PT IMIP itu. Umumnya mereka pulang dari liburan di Pulau Jawa, setelah beberapa bulan bekerja. Sejak dari Jakarta saya coba membuka percakapan dengan beberapa orang yang menurut saya pastinya TKA hilirisasi nikel Morowali. Mereka menggelengkan kepala. Satu dua orang menjawab pendek dengan nada ketus, "No english!"

Bahkan di kawasan pabrik pun. Rombongan jurnalis diajak mengelilingi hampir 10 pabrik dalam dua hari. Dari seluruh pabrik milik investor Tiongkok itu, kurang dari lima pabrik yang membiarkan TKA plus penerjemahnya menjelaskan ihwal pabrik mereka. Sisanya mereka memilih diam, menyorongkan staf lokal yang menjelaskan.

Isu TKA memang hangat di kawasan industri IMIP seluas 2.000 hektare yang terletak di tepi laut. PT IMIP adalah pengelola kawasan industri hilirisasi nikel itu, mungkin salah satu yang terbesar di dunia. Di dalam kawasan industri itu ada puluhan pabrik, sampai dengan pertengahan 2025 ada 60 pabrik di sana. Di sini semua terintegrasi. Antar pabrik bisa membeli dan mengolah, mulai dari bahan mentah, bahan baku, barang setengah jadi, lalu diekspor ke luar negeri, utama ke Eropa dan Cina untuk produk akhir.

Soal jumlah tepatnya tenaga kerja, baik lokal maupun asing di PT IMIP punya informasi yang berbeda. Dalam paparannya kepada jurnalis, PT IMIP menyatakan per akhir 2024 ada 84 ribuan tenaga kerja. Dalam rilis terbarunya Agustus 2025 disebutkan jumlah tenaga kerja PT IMIP mencapai 85.423 orang. Sementara saat berbincang dengan pers, ada yang menyebut total seratusan ribu tenaga kerja hingga 120 ribu orang. Jumlah TKA berkisar antara belasan ribu orang.

Dari jumlah ini sebanyak 15 ribuan pekerja merupakan warga lokal. Yang dimaksud warga lokal, bukan hanya warga asli di kecamatan tempat IMIP berdiri, tapi juga warga pendatang yang sudah memiliki kartu tanda penduduk lokal. Warga pendatang ini kebanyakan berasal dari Makassar, Palu, dan Nusa Tenggara Barat, baru dari Jawa.

Para TKA bermukim di dalam kawasan. Mereka ditempatkan di mess, rumah susun, hingga ke sekelas hotel. Mereka dipisahkan antara permukiman pekerja TKA perempuan dan TKA laki-laki. Begitu juga pekerja lokal menempati mess dan rusun-rusun yang tersebar di dalam kawasan industri maupun di luar kawasan. Mereka bekerja dalam sistem tiga shift, per shift delapan jam plus. Para pekerja datang menggunakan motor. Antar jemput pekerja menuju pabrik menggunakan bus-bus.

Direktur Komunikasi PT IMIP Emilia Bassar memerinci komposisi pekerja itu, sebanyak 80 ribuan merupakan tenaga kerja lokal. Sisanya TKA, yang didominasi Cina, kemudian Korea, Jepang, dan Australia. Emilia mengakui mengelola seratusan ribu tenaga kerja itu amat tidak mudah. Konflik antarpekerja, kata dia, beberapa kali terjadi. Bahkan mengetik kata 'PT IMIP Morowali' di laman pencarian Google pun muncul banyak berita soal bentrok pekerja lokal dan Cina.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement