Ahad 13 Dec 2020 07:52 WIB

In memoriam: Mas Daru, Priambodo, Selamat Rehat

in memoriam Daru Priambodo legenda Rehat Republika

Daru Priambodo
Foto: tweeter
Daru Priambodo

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Nasihin Masha, Mantan Pimred Republika

------------

Ada tiga kata, atau mungkin empat. Kata-kata itu bisa menggambarkan ciri Mas Daru Priambodo: rileks, cerdas, dan lucu. Jika mau ditambah bisa juga: kritis. Namun yang utama yang tiga itu.

Mas Daru orangnya tinggi besar. Rambutnya bergelombang, cenderung jarang, seperti kumisnya. Pakaiannya selalu sederhana, lebih rutin bersandal jika ke kantor. Itu saat di Republika. Saya tidak tahu setelah pindah ke Tempo.

Saya kali pertama kenal dengan Mas Daru saat ikut seleksi masuk Republika. Pada 1992, setelah dinyatakan lulus kuliah, saya melihat pengumuman penerimaan reporter. Iklan kolom di Kompas. Tak disebutkan iklan itu untuk media apa.

Saya yang belum diwisuda buru-buru mengurus surat keterangan sudah lulus, lalu lamaran pun dikirim. Ternyata saya dipanggil. Ikut seleksi psikotes dan Bahasa Inggris. Wah banyak juga yang ikut. Kedua tes itu di kantor BPPT.

Aneh juga. Setelah itu ikut tes pengetahuan umum dan tes wawancara. Kali ini tempatnya di Pasar Minggu, tepatnya di Jl Warung Buncit No 37. Nah, saat tes wawancara itulah saya berjumpa dengan Mas Daru. Ternyata pewawancara saya adalah Mas Daru dan Mas Farid Gaban. Mas Daru lulusan Sosiologi Universitas Airlangga, sedangkan Mas Farid jebolan ITB.

Karena saya juga lulusan sosiologi, Mas Daru banyak menguji saya soal ini, termasuk tentang komunisme Tiongkok. Singkat cerita, sekitar akhir November saya dinyatakan diterima. Ada 10 orang yang diterima.

Itulah perjumpaan saya yang pertama. Perjumpaan kedua adalah saat acara pidato kebudayaan Nurcholish Madjid di TIM pada November 1992 (Pidato itu berjudul “Beberapa Renungan tentang Kehidupan Keagamaan di Indonesia untuk Generasi Mendatang”). Pidato ini semacam peringatan 20 tahun pidato Cak Nur di tempat yang sama yang menjadi heboh, pada Oktober 1972 (Pidato itu berjudul “Menyegarkan Paham Keagamaan di Kalangan Umat Islam Indonesia”).

Saat itu saya masih kuliah jurnalistik pada program pascasarjana non-gelar di Lembaga Pers Dr Soetomo, Jakarta. Saat menunggu masuk ke auditorium, para pengunjung duduk-duduk di halaman. Maklum pintu belum dibuka. Di situ saya melihat ada orang yang senyum-senyum ke arah saya. Saya ikut senyum. Tapi lupa-lupa ingat. Setelah pulang dari acara, saya baru ingat bahwa orang yang ramah itu yang mengetes saya. Duh!

 

 

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.
Berita Terkait
Berita Lainnya

Rekomendasi