Ahad 24 Feb 2019 22:02 WIB

Jangan Sampai Gila karena Pemilu

Sehat secara mental dalam menghadapi pemilu sangat penting.

 Indira Rezkisari
Foto: Republika/Kurnia Fakhrini
Indira Rezkisari

REPUBLIKA.CO.ID, oleh: Indira Rezkisari*

 

Pagi tadi ibu saya menelepon. “Si Mbak berantem sama tukang bubur,” ujarnya, di ujung telepon. Langsung saya kaget. Bagaimana tidak kaget, asisten rumah tangga ibu saya sudah bekerja belasan tahun di rumah. Sang tukang bubur juga bukan sosok baru. Keduanya sudah dalam usia memiliki cucu dan telah mengenal satu sama lain tahunan.

Perkaranya ternyata, karena tukang bubur memaksa asisten rumah tangga ibu saya untuk memilih paslon A. Pilihan yang berbeda membuat mereka ribut.

Kondisi tersebut rasanya sangat jamak. Rasanya terjadi di mana saja. Di kehidupan nyata dan kehidupan media sosial. Terutama ketika pemilu tinggal puluhan hari saja.

Keributan di media sosial pun tidak kalah kisruhnya. Berapa orang terpaksa ‘left’ dari WhatssApp Group karena tertekan berbeda pendapat dengan kawan atau kolega yang beda pilihan. Belum lagi kabar hoaks yang sudah pasti membuat otak berkerut dan kepala otomatis menjadi pening.

Sehat secara mental dalam menghadapi pemilu sangat penting. Oh ya, saya paling tidak suka kalau ada yang menyebut pemilu sebagai pesta demokrasi.

Alasan saya, pemilu itu bukan pesta. Pemilu lebih mirip ujian bagi saya. Sebelumnya kita harus belajar dulu. Dalam kasus ini yang dipelajari adalah rekam jejak calon legislatif dan calon presiden serta wakil presiden. Setelah itu cermat menentukan pilihan.

Dan seperti akan ujian penting, tak lupa kita berdoa setelahnya. Agar pilihan yang telah diberikan sanggup memberi manfaat terbaik bagi bangsa, siapapun itu yang akhirnya menang.

Kalau pesta, di benak saya adalah sesuatu pilihan. Boleh didatangi, boleh tidak. Yang dipikirkan sebatas unsur senang-senangnya. Mau memakai pakaian apa, hendak berdandan seperti apa, hingga siapa teman yang akan ditemui di sana.

Beda, ya. Saya juga tidak pernah berdoa agar saya bahagia di sebuah pesta. Lain dengan ujian yang hasilnya biasanya saya doakan agar lulus dengan nilai terbaik.

Kembali ke pemilu dan kemungkinannya menyebabkan kepusingan di kepala. Menurut ahli syaraf dr Adre Mayza, SPS (K), situasi sosial seringkali memicu penyakit. Salah satunya adalah meningkatkan risiko hipertensi atau tekanan darah tinggi. Dalam situasi tegang, seringkali banyak orang juga terpancing emosi, tidak sabar hingga stres.

Keseringan mengalami hipertensi, katanya, akan berimbas pada kemungkinan terjadinya strok. Tidak hanya itu penyakit lain yang mungkin terpicu adalah penglihatan berkurang, penyempitan pembuluh darah jantung, gagal jantung, gagal ginjal, termasuk gangguan fungsi seksual.

"Habis bicara sebagai caleg juga misalnya tiba-tiba kena serangan, ini juga yang menjadi waswas kita,” katanya, memberi contoh dampak tekanan darah tinggi.

Ia mengatakan, keadaan tidak nyaman juga bisa memicu tekanan darah tinggi. Hipertensi atau tekananan darah tinggi merupakan gangguan pada sistem peredaran darah yang dapat  menyebabkan kenaikan tekanan darah di atas nilai normal, yaitu melebihi 140/90 mmHg.

Apalagi jika Anda sudah berusia lebih dari 50 tahun bagi pria dan melebihi 65 tahun bagi wanita, atau ketika sudah memasuki masa menopause. Jangan salah kondisi sosial saat ini dikatakan dr Adre juga rentan memicu tekanan darah tinggi dan stress bagi mereka yang masih dalam rentang usia milenial.

Kerentanan terhadap penyakit fisik maupun mental tidak hanya terjadi ke publik peserta pemilu. Para caleg pun rentan stres.

Jangan heran bila sejumlah rumah sakit di Tanah Air mengumumkan siap menampung caleg yang terganggu jiwanya akibat kalah di pemilu 2019. Beberapa rumah sakit itu adalah Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Tampan Provinsi Riau dan RSUD Dr R Koesma Tuban di Jawa Timur. Bahkan ruangan khusus caleg yang stres disediakan di rumah sakit tersebut.

Stres menjelang pemilu tidak boleh dianggap sepele. Ketika Amerika mengalami pemilihan presiden yang mempertarungkan Hillary Clinton dengan Donald Trump, sebagian warganya terimbas kondisi yang terus menerus memaparkan persaingan politik keduanya.

Ternyata ditemukan ketika itu banyak warga Amerika yang mengalami kondisi yang disebut election stress disorder atau kira-kira diterjemahkan dengan gangguan stres akibat pemilu. Banyak penderitanya tidak sanggup terpapar dengan pemberitaan tentang pemilu, entah itu didapat dari kanal media, media sosial, blog, atau jalur-jalur lain. Membacanya membuat mereka merasa dalam kondisi hidup dengan torpedo yang tidak bisa berhenti meledak.

Kondisi itu bukan cuma dialami mereka yang usia matang. Di Amerika stres akibat pemilu juga dialami golongan usia kuliah, mulai dari 18 tahun. Kelompok usia tersebut tercatat sangat bergantung pada gawainya. Sehingga paparan berita negatif terkait pemilu justru banjir di akun media sosial atau media lain yang dimiliki golongan usia 18 hingga 29 tahun. Kondisi tersebut berkontribusi pada tingkat stres.

Masih bicara soal pemilu di Amerika, stres tidak hanya terjadi sebelum pemilu. Ketika Donald Trump menang ternyata banyak warga Amerika yang menjadi cemas. Muncullah kondisi post election stress disorder atau kondisi stres pascapemilu.

Laman Psychological Today menyebut, efek stres pascapemilu di antaranya adalah perasaan sakit hati, bingung, dan gamang menghadapi iklim politik dan mada depan bangsa. Kondisi yang akhirnya bisa menimbulkan stres itu bisa mempengaruhi kehidupan sosial dan pekerjaan.

Tidak pernah ada cara mudah atau simpel untuk menghadapi stres. Tapi untungnya ada cara-cara yang bisa membantu mengelola stres. Salah satu yang direkomendasikan adalah melalui berolahraga atau langkah relaksasi.

Aktivitas seperti yoga, meditasi, olahraga atau aktivitas fisik, mendekatkan diri kepada Allah, dan lainnya terbukti bisa membantu mengelola stres. Gejala gangguan psikologis juga bisa diredam melalui pola pikir, misalnya dengan belajar menerima kondisi. Atau berupaya untuk melalukan sesuatu untuk membuat perubahan kondisi jadi lebih baik.

Jangan lupakan pentingnya intervensi sosial seperti mendapatkan dukungan dari orang lain, berkonsultasi dengan psikolog, hingga bergabung dengan komunitas yang sehat biasanya bisa membantu menghilangkan stres.

Apapun pilihan Anda semoga bisa membawa ketenangan di hati. Siapapun yang terpilih mari yakini dia sosok terbaik bagi bangsa. Saya sih menolak sampai stres karena pilihan saya tidak jadi juara.

*penulis adalah redaktur Republika.co.id

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement