Sabtu 17 Mar 2018 15:35 WIB

Memoles Pemain Muda di Dalam dan Luar Lapangan

IBL musim ini banyak dihuni pemain-pemain muda yang mentereng.

Wartawan Republika, Hazliansyah
Foto: Dok. Pribadi
Wartawan Republika, Hazliansyah

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Hazliansyah * 

"Udah mau semifinal, tapi geregetnya masih belum terlalu kerasa nih," ujar salah satu pemain basket senior tanah air pada suatu obrolan ringan pagi hari di pinggir lapangan basket Jakarta Selatan. Sambil sesekali menyeruput kopi hitam, ia melanjutkan ucapannya.

"Kenapa ya antar tim kayak adem-adem aja, nggak ada semacam psywar. Padahal kalau di luar (NBA), pasti udah rame banget," ujarnya lebih lanjut.

"Hahaha dia galau, kemaren dia udah mikir tuh mau berhenti (menjadi pemain,red), mau ngelatih-ngelatih aja," timpal salah satu teman dari balik laptopnya menyambung obrolan.

Ucapan itu sontak membuat saya sedikit terkejut. Sedikit menerawang, menduga-duga, apa yang membuat si pemain berpikir demikian. Sebab, dari berjalannya regular season dan playoff IBL musim 2017/2018 ini, antusiasme masyarakat saya nilai sudah cukup tinggi.

Lihat saja bagaimana Gor C-Tra Arena Bandung yang penuh dan riuh ramai dengan pekikan pendukung Garuda Bandung saat playoff menghadapi BSB Hangtuah kemarin.

Dari segi penyelenggaraan juga semakin baik. Pemain-pemain asing yang di-draft dan berlaga di IBL memberikan daya tarik tinggi. Mereka memberi suguhan permainan dan teknik yang dapat menarik penikmat bola basket. Lokasi penyelenggaraan seri regular pun ada yang baru. Di Cirebon.

Hal-hal itu tentu menunjukkan bagaimana kasta tertinggi kompetisi bola basket di tanah air ini sudah "seksi" di masyarakat.

"Ya tapi harusnya sih bisa lebih," jawab si pemain menanggapi.

Nah, untuk hal ini saya cukup sependapat. Gereget kompetisi bola basket di tanah air seharusnya memang bisa lebih tinggi. Atau setidaknya sama seperti kompetisi bola basket di medio tahun 1990-2000.

Masih ingat bagaimana Hall A Basket Senayan Jakarta selalu penuh dengan penonton. Pertandingan disiarkan secara langsung di televisi swasta.

Rommy Candra, Fictor Roring, M Rinaldo, Ocky Tamtelahitu, Riko Hantono, I Made Sudiadnyana, menjadi nama-nama yang kerap disebut komentator. Membuat mereka menjadi idola.

Kala itu bisa disebut sebagai masa dimana bola basket menjadi idola masyarakat. Bola basket selalu menjadi perbincangan yang hangat pada satu hari pascapertandingan. Mungkin popularitasnya bisa sama dengan sepak bola.

Lalu bagaimana dengan saat ini? Bagaimana caranya bisa meningkatkan atmosfer bola basket nasional?

Salah satunya adalah dengan lebih mendorong sosok pebola basket itu sendiri. Jika nama-nama di atas berjaya di masa mudanya, maka kini pebasket muda lah yang harus didorong. Dengan sokongan pemain-pemain senior, pebasket muda itu bisa di-create menjadi sosok yang dapat menjadi magnet.

Apalagi perkembangan bola basket dan industrinya kini sudah semakin luas. Juga dengan perkembangan teknologi, media sosial, seharusnya bola basket harus lebih menggoda. Tim-tim harus lebih memikirkan bagaimana bisa menciptakan daya tarik dari pemainnya.

Terlebih IBL musim ini banyak dihuni pemain-pemain muda yang mentereng. Dari empat klub yang berhasil menembus semifinal saja, sudah banyak yang bisa menjadi daya tarik.

Dari Stapac Jakarta misalnya, ada nama-nama seperti Andakara Prastawa, Oki Wira Sanjaya. Di Pelita Jaya ada Respati Pamungkas dan Daniel Wenas. Di BSB Hangtuah ada pemain yang meraih gelar Rookie of the Year, Abraham Wenas. 

Begitu juga dengan SM Pertamina yang banyak diisi pemain muda potensial. Ada Laurentius Oei, Audy Bagastyo, Juan Laurent, dan masih banyak lagi. Tidak sekadar style dan gaya bermain, urusan skill di lapangan mereka sangat mumpuni. 

Andakara Prastawa misalnya. Selama regular season ia berhasil mencetak rata-rata 10 PPG dan 1 APG. Bahkan pada pertandingan pembuka musim menghadapi Hangtuah, pemain yang sudah menembus tim nasional ini mencetak 20 poin dalam 29 menit berlaga di lapangan.

Sementara di Pelita Jaya, Respati Ragil Pamungkas mencetak rata-rata PPG 9.86, 1.36 APG dan 1.86 RPG. Begitu juga dengan Daniel Wenas. Pemain kelahiran 8 Agustus 1992 itu rata-rata mencetak 5.41 PPG, 2.71 APG dan 4.71 RPG.

Shooting Guard Hangtuah Sumsel, Abraham Wenas mencetak rata-rata 4.67 PPG, 0.83 APG dan 2 RPG.

Di kubu SM Pertamina Laurentius Oei juga mencetak rata-rata yang cukup tinggi. Pemain kelahiran 1 September 1994 ini mencetak rata-rata 6.44 PPG, 1.33 APG dan 3.44 RPG.

Audy Bagastyo juga mencetak rata-rata 3.13 PPG, 3.38 APG dan 2.56 RPG. Sementara Rookie of the Year tahun lalu, Juan Laurent Kokodiputra memiliki catatan 3.93 PPG, 1.57 APG dan 3.14 RPG.

Semuanya tentu bukanlah catatan buruk. Di usia muda, mereka bisa menembus kasta tertinggi kompetisi bola basket tanah air dan mencetak torehan positif. Semua itu tentunya bisa menjadi modal yang kuat untuk dapat meng-create daya tarik pemain.

Di sinilah peran klub untuk bisa membuat atau menciptakan daya tarik. Klub tidak hanya menciptakan pola latihan dan permainan yang baik, tapi juga bagaimana menerapkan manajemen orang.

Bagaimana mereka bisa membuat sang pemain lebih dikenal. Membuat pemain menjadi lebih memberikan inspirasi bagi masyarakat. Bagaimana memanfaatkan basis penggemar mereka untuk semakin mengangkat atmosfer bola basket tanah air.

Bahkan bila perlu, klub bisa memanfaatkan jasa seorang advisor untuk lebih meningkatkan lagi citra klub. Karena jika demikian, bukan tidak mungkin bola basket tanah air bakal semakin mentereng.

Atmosfernya bakal semakin meningkat. Klub juga semakin banyak cara untuk berkreasi untuk meningkatkan performa mereka di luar lapangan. Bukankah community marketing based adalah yang paling efektif saat ini?

Sehingga jika semuanya bisa berkembang, maka yang dapat diuntungkan adalah pemain itu sendiri.

Sudah saatnya klub benar-benar memikirkan hal ini. Memoles pemain tidak hanya untuk di dalam, tapi juga di luar lapangan.

 

*) Penulis adalah Redaktur Republika.co.id

 

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement