REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Hadi Suwarno *)
Kegiatan mengajar merupakan jenis pekerjaan yang amat tua. Kegiatan mengajar sama umurnya dengan peradaban manusia itu sendiri. Seiring dengan munculnya sistem pendidikan sekolah, terungkapnya penemuan dalam psikologi serta majunya teknologi informasi, bagaimana menjalankan tugas mengajar ini dengan benar?
Pada prinsipnya ada lima hal yang menjadi prinsip pengelolaan mengajar di kelas yaitu ajak siswa bergembira, kaitkan belajar dengan dunia nyata, atur waktu kegiatan, gunakan modalitas siswa dan lakukan variasi kegiatan belajar
Prinsip pertama: ajak siswa bergembira. Berprinsiplah ‘learning is fun’ belajar itu menyenagkan. Rasa senang yang tercipta dalam suasana belajar akan memudahkan siswa menerima materi pelajaran. Hal ini sesuai dengan cara kerja otak manusia ketika belajar berlangsung dengan mengasyikkan dan menyenangkan maka pintu masuk informasi akan terbuka. Makin menyenangkan makin banyak informasi yang diperoleh olelah siswa.
Rasa senang dalam belajar adalah masalah suasana hati yang bisa diciptakan guru. Jangan menunggu suasana hati gembira kemudian belajar dimulai. Akan tetapi mulailah kegiatan yang bisa membuat seuasana hati gembira muncul. Nah untuk hal itu lakukanlah hal-hal berikut: desain ruang kelas dengan berbagai warna dan gambar yang menarik.
Ciptakan kelas dengan setting yang berganti-ganti temanya bahkan bisa jadi seperti suasana pesta. Lengkapi dengan sound audio yang memungkinkan untuk diputar musik pengiring baik klasik maupun kontemporer. Gunakan aroma terapi yang memungkinkan siswa dalam keadaan relaks namun siaga. Lakukan kegiatan apersepsi dan selingan berupa permainan kelompok, sosiodrama, bernyayi, tebak kata, kuis, kontes berhadiah dan sebagainya
Prinsip kedua: kaitkan belajar dengan dunia nyata. Pembelajaran intinya mendewasakan peserta didik sesuai potensi dan kebutuhannya. Pemikiran inilah yang menjadi dasar pembelajaran kontekstual.
Untuk melaksanakan pembelajaran kontekstual yang dilakukan adalah: mengkaitkan informasi baru dengan pengetahuan yang telah dimiliki siswa. Mengaitkan dengan kehidupan nyata yang dihadapi siswa sehari-hari. Memulai pembelajaran dengan keadaan terdekat siswa. Memilih informasi berdasarkan kebutuhan siswa. Membangun kegiatan belajar atas dasar partisipasi siswa untuk menemukan, menggali, berdiskusi, berpikir kritis, atau mengerjakan proyek dan pemecahan masalah. Serta, membangun kesadaran perilaku positif atas dasar keperluan bersama
Prisip ketiga: atur durasi. Tidak ada ketentuan yang baku tentang pembagian waktu antara kegiatan guru dan kegiatan siswa. Namun secara umum pengaturan durasi kegiatan belajar terdiri dari 30 persen untuk kegiatan guru dan 70 persen untuk kegiatan siswa. Untuk kegiatan yang bersifat banyak kegiatan motorik bisa membuat pengaturan 20 persen umpengaturan kegiatan guru dan 70 persen untuk kegiatan siswa.
Dengan demikian pengaturan durasi tersebut proporsi kegiatan guru lebih banyak porsinya daripada kegiatan siswa. Meskipun durasi kegiatan guru terlihat sedikit namun meliputi rangkaian kegiatan yang utuh untuk seluruh pembelajaran. Sehingga fungsi tersebut lebih banyak digunakan sebagai fasilitator daripada sebagai narasumber.
Prinsip keempat: gunakan modalitas siswa dalam belajar. Modalitas siswa ada tiga tipe yaitu visual, auditori dan kinestetik. Siswa dengan tipe visual akan lebih mudah belajar dengan cara mengamati. Siswa tipe auditori lebih mudah belajar dengan cara mendengar. Sedangkan siswa dengan tipe kinestetik akan lebih mudah dengan cara praktek langsung.
Melaksanakan kegiatan belajar dengan mengoptimalkan modalitas seperti dalam prinsip Quantum Teaching, Bobbi DePorter adalah sebagai berikut: untuk mengajar siswa dengan modalitas visual. Gunakan kertas tulis dengan tulisan berwarna daripada papan tulis. Lalu, gantungkan grafik berisi informasi penting di sekeliling ruangan pada saat Anda menyajikannya. dan rujuklah kembali grafik itu nanti.
Dorong siswa untuk menggambarkan informasi, dengan menggunakan peta, diagram, dan warna. Berikan waktu untuk membuatnya. Berdiri tenang saat menyajikan segmen informasi, bergeraklah di antara segmen. Bagikan salinan frase-frase kunci atau garis besar pelajaran, sisakan ruang kosong untuk catatan. Beri kode warna untuk bahan pelajaran dan perlengkapan, dorong siswa menyusun pelajaran mereka dengan aneka warna.
Gunakan bahasa ikon dalam presentasi Anda, dengan menciptakan simbol visual atau ikon yang mewakili konsep kunci
Untuk mengajar siswa dengan modalitas auditorial. Gunakan variasi vokal (perubahan nada, kecepatan, dan volume) dalam presentasi. Ajarkan sesuai dengan dengan cara Anda menguji: jika Anda menyajikan informasi dalam urutan atau format tertentu, ujilah informasi itu dengan cara yang sama.
Gunakan pengulangan, minta siswa menyebutkan kembali konsep kunci dan petunjuk. Setelah setiap segmen pengajaran, minta setiap siswa memberitahukan teman di sebelahnya satu hal yang dia pelajari. Nyanyikan konsep kunci atau minta siswa mengarang lagu/rap mengenai konsep itu.
Kembangkan dan dorong siswa untuk memikirkan jembatan keledai untuk menghafal konsep kunci. Gunakan musik sebagai aba-aba untuk kegiatan rutin (misalnya musik sirkus untuk membersihkan pekerjaan). Untuk mengajar siswa dengan modalitas kinestetik. Gunakan alat bantu saat mengajar untuk menimbulkan rasa ingin tahu dan menekankan konsep-konsep kunci. Ciptakan simulasi konsep agar siswa mengalaminya.
Jika bekerja dengan siswa perseorangan, berikan bimbingan pararel dengan duduk di sebelah mereka, bukan di depan atau di belakang mereka. Cobalah berbicara dengan setiap siswa secara pribadi setiap hari - sekalipun hanya salam kepada para siswa saat mereka masuk atau "Ibu senang kamu berpartisipasi" saat mereka keluar kelas.
Peragakan konsep sambil memberikan kesempatan kepada siswa untuk mempelajarinya langkah demi langkah. Ceritakan pengalaman pribadi mengenai wawasan belajar Anda kepada siswa, dan dorong mereka untuk melakukan hal yang sama. Izinkan siswa berjalan-jalan di kelas.
Prinsip kelima: lakukan variasi kegiatan. Dr Vernon A Magnesen (1983) menegaskan, bahwa persentase keberhasilan kita menyerap informasi dan menyimpannya dalam memori ketika belajar adalah: 10 persen dari apa yang kita baca, 20 persen dari apa yang kita dengar, 30 persen dari apa yang kita lihat, 50 persen dari apa yang kita lihat dan dengar, 70 persen dari apa yang kita katakan, dan 90 persen dari apa yang kita katakan dan kerjakan.
Oleh sebab itu guru hendaknya memilih dan menggunakan strategi yang melibatkan siswa secara aktif dalam proses belajar mengajar baik secara mental, fisik maupun sosial. Guru inspiratif itu bagaimana mengajarkannya untuk kita. Kita tak hanya mendengar guru yang sedang bicara. Tak hanya mengamati apa yang didemonstrasikan. Tetapi kita juga bisa berperan, menghayati, melakukan hal spesesifik dalam pelajaran. Kita diberi peran yang sesungguhnya dalam pembelajaran itu.
*) Manajer Pendididikan Sekolah Bakti Mulya 400 Jakarta