Rabu 13 Dec 2017 07:30 WIB

Tidak Merdeka

Harri Ash Shiddiqie
Foto: dokpri
Harri Ash Shiddiqie

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh : Harri Ash Shiddiqie *)

Kemerdekaan Katalunya dideklarasikan.

Kenapa sebuah negeri ingin merdeka, Amerika contoh riil.  Deklarasi  tahun 1776 itu memberi inspirasi negara-negara lain. Kemerdekaan yang dilakukan 13 koloni untuk lepas dari Inggris dipicu urusan pajak. Menyusul peristiwa lain yang membuat koloni merasa diperlakukan tidak adil, mulai kebebasan berdagang, pengadilan pidana, kesewenangan perwira-perwira Inggris yang mendapat kekebalan meski korup dan kasar. 

Dasar deklarasi di antaranya ada pada kalimat : “Semua orang diciptakan sama”.  Artinya semua orang berhak menentukan tujuan hidupnya, menjalaninya, sampai memahami kehidupannya sendiri. Itulah eksistensi. Amerika Serikat kala itu berjuang menegakkannya melalui pahit dan sakit di perang di musim dingin Valley Forge, sampai kemenangan terakhir di Yorktown, 1781.

Eksistensi itu juga yang hendak diraih Katalunya. Negeri dengan  sejarah panjang dalam pahit getir, suka dan duka  ratusan tahun, membentuk rasa senasib sepenanggungan. Alam yang kaya, budaya yang unggul,  bahkan bahasa yang spesifik. Mereka ingin punya eksistensi politik, ekonomi dan  budaya. Bukan eksistensi di bawah Spanyol.  Mereka berteriak : Katalunya bukan Spanyol.

Apakah eksistensi itu penting?

Manusia selalu dalam kecemasan, bukan saja tidak tahu tentang hari esok, tentang kecelakaan atau gempa bumi, tapi setiap saat harus berjaga-jaga dengan datangnya kematian. Manusia berusaha menjawabnya. Memang tak pernah selesai, tetapi usaha itu juga mendorong manusia menghargai dan hendak mencapai  kehidupan yang bermakna. Semuanya seiring dengan kesadaran potensi dan tanggung jawab  atas pilihan bebasnya.

Seseorang yang memahami kehidupan bermakna lalu mengambil keputusan meneguhkan dirinya berjuang mencapainya, berarti ia memiliki eksistensi.

Eksistensi selalu berubah seiring kondisi, umur dan kematangan. Apalagi makna hidup tidak bisa diciptakan. Makna itu berupa sesuatu yang “sakral dan mulia”, yang ditentukan oleh pandangan pemiliknya maupun nilai masyarakat di mana dia berada. Makna yang selalu berkembang,  membuat eksistensi bisa  dilihat secara internal maupun sosial.

Ber-selfi ria sambil bergaya, lalu meng-upload di media sosial, adalah salah satu cara mendapatkan pengakuan, eksistensi eksternal. Dan ketika pemulung memberikan uang kepada istrinya untuk makan malam dan esok hari, ia meneguhkan ekstensi dirinya mampu mencari nafkah yang halal. 

Adakah orang yang tidak memiliki eksistensi?  Banyak. Bahkan mengalami depresi.  Di sebuah situs obrolan ada keluhan  demikian, “Saya tidak tahu mengapa saya sangat bodoh, padahal saudara-saudara  saya pintar, mungkin kepala saya jatuh saat bayi. Saya memiliki kecemasan, depresi, dan depersonalisasi. Saya tidak punya teman, hobi, dan tidak tertarik dengan apapun.  Apalagi menanggung hutang besar. Saya tidak mendapatkan kenikmatan hidup. Saya bermasalah dengan eksistensi saya.”

 Ada yang membalas : “Saya pikir  anda tidak puas dengan kehidupan. Anda belajar di sekolah sambil bersaing dengan pelajar yang lain.  Anda bekerja, itu pun bersaing dengan orang lain.  Anda berhutang ketika menginginkan mobil  atau rumah,  dan anda harus membayarnya di sisa hidup yang sedih berkepanjangan.”

Komentar merasa senasib : “Pesimis di dalam diriku menjerit,  bahwa hidup tidak memiliki tujuan, semua sia-sia.  Jadi saya terjebak, seperti anda, bertanya-tanya mengapa saya ada. Saya marah karena saya tidak bisa menjawabnya, saya terlahir untuk makan, bercinta, lalu mati. Betapa menyedihkan.”

Ada balasan yang lebih tragis : “Hidup, itu kejam,  tajam. Manusia melahap apa saja sampai tidak ada yang tersisa, binasa. Membenarkan pembantaian, penindasan, dan penaklukan, hanya untuk mendapatkan lebih banyak sumber daya, lebih banyak bercinta. Terus, terus dan terus. Makan, minum, tidur, kotoran, kencing, lalu mati.  Hidup tidak layak dipuji, hidup itu parasit dan mengerikan. Hidup itu melahap semua dan mengambil semua. Hidup adalah neraka yang sebenarnya.”

Keluhan di atas adalah keluhan hidup tanpa tujuan,  akhirnya merasa tidak bereksistensi. Memang ada orang-orang dengan tujuan hidup  adalah uang,  benda dan materi kemewahan. Mereka jalani hidup dengan biasa dan tertawa-tawa, sakit, tua, lalu mati. Sudah. Tetapi bagi mereka yang sadar bahwa tujuan materi itu tujuan rendah, tak ada kemuliaan di sana, maka hidup terasa tak bermakna, mereka rasakan hidup yang hampa, kosong, sia-sia.  Apakah merasa tidak merdeka? Yang jelas : Merasa neraka.

Setiap muslim  pasti memiliki tujuan hidup, memiliki eksistensi. Persoalannya, disadari atau tidak?  Jika tidak disadari,  itu karena yang memberi tahu adalah orang lain lewat nasihat atau buku.  Sekedar tahu,  tapi tidak pernah sengaja menanamnya,  akhirnya tidak pernah memelihara dan meneguhinya, dan pasti tidak pernah  mendalami tujuan hidup, tujuan dalam garis besar, tujuan jangka pendek, apalagi detil program harian dan target-targetnya. Hidup lantas mengalir begitu saja : Lahir, dewasa, bekerja, nikah, berkeluarga, tua lalu selesai.  Berkaitan dengan tujuan itu Penulis pernah mengutarakan dalam judul : Kebingungan Tujuan Hidup Sastrawan Besar,  di ROL 9 Maret 2017. 

Ada pertanyaan penting : Apakah tujuan hidup kita?

Tak perlu gelagapan,  meraba-raba. Semoga benar-benar telah meneguhinya. Amin.

*) Dosen, penyuka sastra dan teknologi, di Jember.

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement