REPUBLIKA.CO.ID, Oleh : Heryadi Silvianto *)
Selama 10 hari Barack Obama mengunjungi Indonesia, membawa serta keluarga dan saudaranya. Inilah kunjungan luar negeri pertama bagi Presiden AS ke 44 itu selepas digantikan oleh Donald Trump.
Kehadirannya di sini murni sebagai turis, untuk berlibur. Layaknya seorang pelancong, maka dirinya menikmati alam indah di Bali dengan berarung jeram dan mengunjungi pura. Dilanjutkan dengan menyambangi hutan rimbun Becici di Yoyakarta, Candi Prambanan dan Borobudur di Jawa Tengah. Hingga, trip itu diakhiri dengan pertemuan hangat bersama Presiden Jokowi dan tukar gagasan dalam kongres diaspora Indonesia. Kesemuanya, "just for having fun".
Banyak yang menduga bahwa kunjungan kali ini untuk melepas rindu, atas kenangan lama obama yang pernah bersekolah dan tinggal di Jakarta saat usia belia. Jikapun untuk memenuhi undangan diaspora Indonesia, itu bagian dari pelengkap terbaik dari rangkaian liburan; tukar gagasan. Nice!
Kita paham, bahwa ini, bukanlah kunjungan pertama kali obama ke Indonesia sebagai seorang yang "famous". Tahun 2010, dirinya pernah melakukan kunjungan resmi kenegaraan tidak lebih dari 24 jam ke Indonesia. Saat itu dilewati semua kenangannya sekilas saja. Dengan protokoler yang rigid dan penjagaan secret service ketat. Hari kemarin, obama tampak lebih santai dan apa adanya.
Tak dipungkiri, meskipun obama bukan Presiden AS lagi. Tapi, dirinya tetap magnet yang luar biasa bagi masyarakat Indonesia dan dunia internasional. Jika, dalam konsep analisis jaringan komunikasi seorang Obama adalah salah satu agen atau aktor kunci yang dapat berperan ganda selain sebagai penghubung (jembatan/bridge) juga sebagai pemuka pendapat (opinion leader). Konsep ini tidak menentukan penilaiannya pada status aktor,namun kemampuannya dalam menjadi penyampai pesan yang efektif.
Sebagai opinion leader obama bisa mempengaruhi orang lain dalam kelompok (global). Bahkan jika mengutip Watts dan odds, individu ini mendapat informasi dari luar dan meneruskan informasi ini kepada kelompoknya.
Persinggungan Obama secara personal dengan beragam budaya, membantunya membangun komunikasi yang lebih luwes dengan kalangan yang berbeda. Ayah kandungnya orang Afro Amerika, sedangkan ibunya kaukasoid. Ayah tirinya orang Indonesia dan beragam irisan yang tidak banyak dimiliki aktor lainnya. Selaras dengan pendekatan tersebut, maka sudah sepantasnya kedatangan obama dapat dikapitalisasi atau dimonetasi untuk menyempurnakan strategi Nation Branding Indonesia di tingkat global.
Ada baiknya, kini, kita sudah harus berpikir bahwa kedatangan orang-orang macam obama bukan sebuah proses kebetulan: karena pernah sekolah, makan baso, santap nasi goreng di Indonesia. Tapi, harus secara sadar direkayasa bergerak menjadi sebuah kesadaran kolektif bagi masyarakat global bahwa Indonesia adalah destinasi utama untuk berwisata dan berkunjung.
Bukan pilihan kesekian dari skala prioritas yang telah direncanakan. Sekedar ilustrasi, cukup banyak orang indonesia mengumpulkan dan menabung sejumlah uang agar satu waktu bisa trip ke Eropa, Amerika atau Asia Timur. Dengan harapan apa yang selama ini mereka ketahui, menjadi kenyataan yang dirasakan.
Di sisi inilah, Indonesia sebagai sebuah gambar besar harus tersampaikan secara sempurna ke muka publik. Ironisnya, hingga saat ini, masih ada anggapan Indonesia sebagai negara berkembang yang koruptif, tidak teratur dan yang terkini di cap "intoleran". Mengapa semua stigma demikian terjadi? Karena pesan yang selama ini disampaikan tidak sesuai harapan, ditambah publikasi yang diinformasikan oleh media internasional seringkali kurang berimbang.
Diingat dan diharapkan
Hukum pasar itu tidaklah kaku, dia seperti air. Mengalir ke tempat yang rendah dan mengisi ruang yang kosong. Dalam upaya mengokohkan Nation Branding, maka diperlukan strategi komunikasi yang terencana dan fokus dapat menyentuh seluruh level pasar serta efektif mengisi seluruh ceruk yang ada.
Setidaknya, untuk menggapai itu semua diperlukan proses dan tahapan yang harus ditempuh, setidaknya dengan model pendekatan R.A.C.E mungkin tahapan itu bisa lebih membumi.
Research, perlu studi atau riset mendalam dan komprehensif yang bisa menjelaskan secara terperinci mengenai kehendak yang melatarbelakangi obama untuk berkunjung ke Indonesia. Meminjam konsep Lazarfield dan Robert K Merton, Obama merupakan agen yang bersifat homifili, yakni individu yang lebih cenderung berkumpul dengan orang yang mempunyai karakteristik yang sama.
Setelah hasil riset dengan seluruh variannya terpapar dengan baik, langkah selanjutnya adalah mencanangkan action atau aksi nyata. Berbekal peta yang telah dirumuskan dari studi yang dilakukan, maka Pemerintah segera menetapkan action plan. Darinya beragam pendekatan kreatif terus direproduksi, penggunan sarana komunikasi yang dinamis dan fokus dalam penguatan kapasitas sumber daya manusia.
Bersamaan dengan itu, proses communication dilakukan untuk mempromosikan langkah-langkah yang telah dan akan dilakukan. Terakhir, evalution seluruh langkah yang telah dilakukan sehingga fase ini menjadi mata rantai yang menyempurnakan strategi komunikasi yang telah ditetapkan. Agar proses evaluasi berjalan efektif, maka evaluasi harus dilakukan secara input, output dan outcome.
Kita percaya bahwa alam yang indah, kehidupan yang beragam dan damai. Menjadi modal yang penting dalam penguatan positioning Indonesia.
*) Dosen Komunikasi UMN