REPUBLIKA.CO.ID,Indonesia menjadi surga untuk banyak hal.
Ada yang bilang Indonesia menjadi surganya industri rokok. Dengan jumlah perokok mencapai 90 juta, angka perokok Indonesia melebihi perokok di Cina, India, Rusia, dan Amerika yang mempunyai populasi lebih banyak.
Tidak cuma rokok, ada juga yang beranggapan Indonesia surganya narkoba, saking besarnya jumlah pemakai, potensi pasar, dan lemahnya hukum atau pengawasan.
Label lain yang sempat disematkan adalah surganya koruptor. Nilai korupsi seorang pejabat rendahan di Indonesia bahkan bisa lebih tinggi dari nilai korupsi seorang perdana menteri atau presiden di negara maju.
Barangkali hanya di Indonesia, koruptor leluasa memamerkan kekayaannya. Seorang pegawai atau pejabat rendahan bisa dengan santai mengenakan jam tangan yang nilainya 5 kali gaji bulanan, mengendarai mobil senilai 10 kali gaji tahunan atau memiliki rumah besar yang harganya 100 kali gaji tahunan. Semua kasat mata.
Belum selesai kita membenahi surga (baca: neraka) tersebut, kini kita masuk ke dalam fenomena baru, Indonesia sebagai surga para pencinta klenik, pesugihan, supranatural dan sihir.
Contoh terkini, ketika ada sosok yang mengaku bisa menggandakan uang, semua yang menggunakan akal sehat dan iman, pasti berkata, hanya orang bodoh dan miskin saja yang bisa percaya lelucon seperti ini. Akan tetapi di negeri surganya klenik ternyata orang berpendidikan tinggi, profesor, sarjana lulusan luar negeri, bahkan mereka yang kaya raya bisa mempercayainya.
Atau ketika seorang yang sehari-hari terlihat mengenakan sorban, menawarkan narkoba untuk mendekatkan diri pada Tuhan. Di dunia normal di mana akal sehat dan iman digunakan, respons yang timbul harusnya; hanya orang bodoh dan miskin iman saja yang bisa percaya lelucon demikian. Akan tetapi di negeri surganya klenik ternyata mereka yang memiliki profesi terhormat, pejabat, dan selebriti bisa mempercayai.
Klenik di Indonesia mengakar bahkan menjadi kegiatan turun temurun yang bertahan berpuluh hingga ratusan tahun.
Apa yang baru-baru ini terjadi hanya percikan dari gambaran betapa besar potensi bisnis supranatural di negeri surganya klenik.
Sesuatu yang hanya mungkin terjadi bila rakyat suatu negeri kehilangan akal sehat dan iman.
Contoh lain terjadi di Gunung Kemukus Kabupaten Sragen, demi mendapatkan berkah dari pesugihan di gunung tersebut, seseorang harus melakukan berhubungan badan dengan pasangan tidak resmi. Jadi tidak dibolehkan melakukannya dengan istri atau suami sendiri. Jika hal ini dijalankan, maka rezeki dijamin lancar.
Konon di zaman dulu, Pangeran Samudro seorang bangsawan di Majapahit jatuh cinta dengan ibunya sendiri Dewi Ontowulan. Ayahanda sang pangeran yang murka, mengusirnya. Ia pun pergi ke Gunung Kemukus. Tak lama sang ibunda menyusul untuk melepaskan kerinduan.
Sial bagi mereka, sebelum sempat melakukan hubungan intim, penduduk sekitar memergoki dan merajam keduanya hingga tewas. Namun sebelum menghembuskan napas terakhir, sang pangeran sempat bersumpah kepada siapa saja yang dapat melanjutkan hubungan suami-istri mereka yang tidak sempat terlaksana di gunung tersebut, maka akan terkabul semua permintaannya.
Tidak masuk akal? Ya. Tapi jangan tanya berapa banyak yang telanjur percaya.
Tempat seperti ini ada puluhan bahkan mungkin ratusan tersebar di seluruh Indonesia. Banyak di antaranya menuntut pesugihan tidak lazim apalagi masuk akal, tetap saja banyak juga yang mematuhi.
Sebenarnya pesugihan tidak hanya mencoreng iman, tapi juga intelektualitas bangsa. Lebih buruk lagi, jika kepercayaan seperti ini pun diamini para pejabat, bukan mustahil akan mengeruk keuangan negara. Uang negara digunakan untuk membiayai kepercayaan yang tidak jelas.
Setiap anak bangsa harus menguatkan iman dan intelektual untuk mengurangi kesia-siaan ini.
Apalagi Allah sudah mengingatkan sejak lama:
Dan bahwasanya ada beberapa orang di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan. (Al-Jin: 6)
Saatnya bangsa Indonesia membangun dan menjadikan negeri tercinta sebagai surga kebaikan, surga bagi kebenaran, surga keadilan, dan surga yang membawa rakyatnya ke surga hakiki di akhirat nanti.