REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Alex Yungan (Peneliti di Carbon and Environmental Research (CER) Indonesia)
Kelapa sawit mendapat banyak sorotan negatif dari berbagai LSM/NGO lingkungan dalam satu dekade terakhir. Sumber daya sawit ibarat "Peragawati", judul lagu yang diciptakan Ari Wibowo pada 1985 dengan salah satu petikan liriknya, ''terkenal dan banyak puja-puji, tapi banyak pula duri-duri".
Pertama, "terkenal dan banyak puja puji" karena sawit berkontribusi besar bagi devisa negara. Kontribusi lainnya, meningkatkan penerimaan pemerintah (bea ekspor dan pajak), menumbuhkan ekonomi mikro daerah sekitar, hingga menyerap banyak tenaga kerja.
Kedua, "banyak duri-duri" karena pembangunan kelapa sawit sering dikumandangkan sebagai penyebab rusaknya hutan (deforestasi) Indonesia, hilangnya keanekaragaman hayati, terjadinya konflik sosial, dan perubahan iklim.
Terhadap hal kedua, ada sinyal kuat asosiasi negatif terhadap sumber daya sawit tersebut begitu dimasifkan oleh para LSM/NGO. Benarkah persoalannya murni karena kepedulian mereka terhadap lingkungan atau jangan-jangan ada motif lain di balik tindakan tersebut?
Berbagai Fakta
Berbagai sorotan negatif yang sering diteriakkan para LSM/NGO terhadap sumber daya sawit itu menyimpan fakta menarik. Sawit sebagai tanaman penghasil minyak memiliki banyak komoditas tandingan di tingkat global, mulai dari kedelai (soybean), bunga matahari (sunflower), dan biji rapa (rapeseed).
Komoditas-komoditas tandingan itu merupakan sumber daya andalan penghasil minyak dari Eropa dan Amerika. Biji rapa banyak dihasilkan negara-negara Uni Eropa, Amerika, dan Kanada, termasuk Cina. Penghasil kedelai utama dunia berasal dari Amerika Serikat dan Brasil.
Penghasil biji bunga matahari utama dunia adalah Rusia dan Prancis, juga Cina dan India di Asia. Berbagai komoditas tandingan tersebut sayangnya tak mampu mengalahkan sawit.