Sabtu 30 May 2015 21:00 WIB

Menanti Kejayaan di Indonesia Open

Bilal Ramadhan
Foto: doc pri
Bilal Ramadhan

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Bilal Ramadhan

Twitter: @abramdhanial

Turnamen BCA Indonesia Open Super Series Premier 2015 akan digelar di Istora Senayan pada 2-7 Juni 2015 mendatang. Masih teringat dengan jelas bayang-bayang kegagalan Indonesia pada turnamen tersebut tahun lalu.

Saat itu Indonesia hanya mengirimkan satu wakilnya di babak final melalui Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan dan harus bertekuk lutut oleh rivalnya Lee Yong Dae/Yoo Yeon Seong dari Korea Selatan. Indonesia Open 2014 merupakan kali kelima Indonesia tak meraih gelar juara satu pun sejak awal penyelenggarannya pada 1982.

Kali pertama Indonesia tidak meraih gelar juara satu pun yaitu pada Indonesia Open 2007. Saat itu kejayaan pemain tunggal putra Indonesia yang juga peraih medali emas Olimpiade 2004, Taufik Hidayat telah memudar.

Sejak itu, bisa dikatakan prestasi bulu tangkis Indonesia menurun. Dari penyelenggaraan Indonesia Open 2007 hingga 2014, Indonesia hanya bias meraih empat gelar juara yang masing-masing satu gelar per tahunnya. Sisanya, Indonesia hanya menjadi penonton melihat negara lain tersenyum bangga menjadi juara di turnamen prestisius dengan hadiah terbesar kedua setelah Super Series Final ini.

Padahal berjayanya para pemain Indonesia sebagai tuan rumah di Indonesia Open tidak bisa dianggap remeh. Indonesia beberapa kali pernah menyapu bersih gelar juara di Indonesia Open yaitu pada 1983, 1996, 1997 dan terakhir pada 2001.

Indonesia tercatat juga telah mengantongi 81 gelar juara di Indonesia Open. Cina yang kerap mendominasi bulu tangkis pun tidak berkutik di Indonesia Open dengan mengantongi kurang dari setengah jumlah gelar juara Indonesia yaitu 40 gelar juara.

Dan yang harus menjadi catatan, para pemain Indonesia di tunggal dan ganda putra juga begitu mendominasi di Indonesia Open. Selama ini ada dua pemain Indonesia yang meraih gelar juara terbanyak dengan enam kali juara di Indonesia Open.

Ardy B Wiranata menjadi juara pada 1990, 1991, 1992, 1994, 1995 dan 1997. Tongkat estafet kejayaan Ardy diteruskan Taufik Hidayat yang juga menyamai prestasinya meraih enam gelar juara pada 1999, 2000, 2002, 2003, 2004 dan 2006.

Selanjutnya dominasi tunggal putra diteruskan pemain Malaysia, Lee Chong Wei dengan menjuarai Indonesia Open sebanyak lima kali pada 2007, 2009, 2010, 2011 dan 2013. Dua pemain Indonesia mencuri gelar Indonesia Open di tengah-tengah kejayaan Lee Chong Wei yaitu Sony Dwi Kuncoro pada 2008 dan Simon Santoso pada 2012.

Cina juga tidak dapat menembus kejayaan Indonesia di sektor pria di Indonesia Open. Cina hanya dapat meraih dua gelar juara dari ganda putra Cai Yun/Fu Haifeng  pada 2007 dan 2011. Bandingkan dengan Indonesia yang menguasai gelar juara di ganda putra selama dua dasawarsa pada 1982-2006.

Sedangkan di tunggal putra, Cina tak meraih gelar juara satu pun dalam 20 tahun terakhir. Sejarah mencatat hanya ada tiga orang pemain tunggal putra Cina yang mampu menjuarai Indonesia Open yaitu Han Jian pada 1985, Yang Yang pada 1987 dan Xiong Guobao pada 1989.

Setelah itu, tak ada satu pun pemain Cina yang sanggup menembus dominasi para pemain tunggal putra Indonesia dan ketatnya persaingan dari negara lain. Tak ada nama pemain nomor satu dunia saat ini, Chen Long.

Tak ada juga nama Lin Dan yang merupakan peraih dua medali emas olimpiade dan lima gelar juara dunia. Kerap tidak beruntungnya di Indonesia Open, hingga munculnya rumor Lin Dan enggan tampil di turnamen ini di tahun-tahun sebelumnya. Akan tetapi tahun ini Lin Dan tampil di Indonesia Open dan jika menjadi juara, tentu akan menyempurnakan perjalanan kariernya.

Namun hal itu hanya data statistik yang manis untuk dikenang. Saat ini, Indonesia terus berbenah untuk mengembalikan kejayaannya. Ketua Umum PBSI, Gita Wirjawan mengatakan sangat optimistis untuk meraih gelar juara dari dua sektor, ganda putra dan ganda campuran di Indonesia Open 2015 ini.

Ganda putra melalui Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan serta pelapisnya yang baru saja menjuarai Singapore Open 2015, Angga Pratama/Ricky Karanda. Sedangkan di ganda campuran melalui Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir (Owi/Butet) yang meraih gelar Juara Asia tahun ini.

Target ini diperkirakan juga tidak akan mudah. Hendra/Ahsan sempat menurun performanya karena Ahsan yang cedera. Di turnamen Australia Open Super Series 2015 pekan ini, Hendra/Ahsan juga kalah di babak pertama oleh pasangan Korea Selatan, Ko Sung Hyun/Shin Baek Choel.

Sedangkan Owi/Butet, meskipun telah menjadi juara dunia dan menjuarai turnamen All England sebanyak tiga kali berturut-turut, juga selalu tidak beruntung di Indonesia Open. Owi/Butet selalu tersingkir di babak empat besar.

Pada Indonesia Open 2011 dan 2012, Owi/Butet harus puas menjadi //runner up//. Namun prestasi Owi/Butet semakin melorot dengan hanya menjadi semifinalis di dua turnamen Indonesia Open terakhir.

Harapan lainnya ada di tangan ganda putri melalui Greysia Polii/Nitya Krishinda Maheswari yang meraih medali emas di Asian Games 2015 lalu. Namun prestasi Greysia/Nitya pun belum konsisten di turnamen-turnamen sebelumnya.

Di dua sektor lainnya yaitu di tunggal putra dan putri, Indonesia tidak bisa berharap banyak. Penerus Taufik Hidayat di tunggal putra dan penerus Susi Susanti di tunggal putri pun belum terlihat. Gita Wirjawan pun secara jujur mengakui saat ini sedang menunggu kejutan dari para pemain muda yang akan berlaga di Indonesia Open seperti Jonatan Christie dan Hana Ramadhini.

“Indonesia Open tahun lalu dinyatakan sebagai the best tournament. Kita berharap ingin juga melakukan kesuksesan dalam prestasi atlet. Kami menargetkan dua gelar dari ganda campuran dan putra. Serta bisa melihat prestasi para pemain muda di tunggal putra dan putri,” kata Gita beberapa waktu lalu.

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement