Rabu 20 Nov 2013 11:12 WIB

Fenomena Terpendam Jilbab Polwan

 Seorang anggota Polwan tengah berinteraksi dengan siswa siswi TK.
Foto: Republika/Rakhmawaty La'lang
Seorang anggota Polwan tengah berinteraksi dengan siswa siswi TK.

Oleh Nur Hasan Murtiaji

hasan@redaksi.republika.co.id

REPUBLIKA.CO.ID, Mengenakan jilbab ukuran lebar, dengan baju dan rok yang longgar, saya benar-benar tak mengira sosok yang saya ajak bicara adalah seorang polisi wanita atau polwan. Apalagi, dengan ukuran tubuh yang tergolong kebanyakan, tidak terlalu tinggi dan juga tidak pendek, rata-ratalah.

Hanya dari gaya bicaranya yang bernada tegas memang menyiratkan perempuan 52 tahun ini bukanlah orang sembarangan. Apalagi, kalau berbicara mengenai perannya sebagai seorang Muslim. Terlebih lagi jika disinggung tentang jilbab yang dikenakannya dalam balutan pakaian cokelat baju dinasnya.

Atas permintaannya, saya tak menyebutkan identitas sang polwan ini. Dan, masalah identitas memang tidaklah seberapa penting dibandingkan materi pembicaraan dengannya.

Bermula dengan keluhannya sebagai polwan yang kesulitan mengenakan jilbab, ibu beranak empat ini panjang lebar mengungkapkan bagaimana kisah dukanya memperjuangkan jilbab di Korps Bhayangkara. Bagaimana dia sempat 'diinterogasi' oleh Divisi Propam karena jilbab yang dikenakannya.

Bagaimana pula dia 'diasingkan' oleh atasannya selama beberapa waktu. Termasuk guyonan maupun pertanyaan bernada sindiran oleh sesama anggota lantaran kain penutup kepala yang dikenakannya.

"Semua itu tak menghalangi saya untuk mengenakan jilbab. Alhamdulillah, saya konsisten mengenakannya selama enam tahun terakhir," kata sang polwan.

Memang, tak semuanya kisah duka. Beberapa kali dia merasa gembira karena jilbab yang dikenakannya menuai dukungan, dan bahkan simpati. Dia bercerita, suatu saat pimpinannya berganti dan kebetulan atasannya itu non-Muslim. Saat itu memang dia sedang cuti dinas. Ketiadaannya diketahui atasannya yang non-Muslim tersebut.

"Saya ditelepon oleh istri atasan saya, mengapa saya tidak masuk dinas. Apakah karena takut karena mengenakan jilbab?" Ternyata, atasannya yang non-Muslim itu justru mempersilakan dia mengenakan jilbab selama berdinas. Hal yang di luar perkiraannya.

Namun, tak semua polwan berjiwa dan bermental baja seperti dirinya. Tak sedikit polwan yang berminat untuk mengenakan jilbab akhirnya mundur dari Korps Bhayangkara.

Mereka memilih 'mengalah' demi menunaikan aturan bagi Muslimah itu. "Ada yang kemudian menjadi pedagang, ibu rumah tangga, ataupun pengajar ngaji," kata sang polwan.

"Sebenarnya, seberapa banyak polwan yang ingin mengenakan jilbab?" Begitu saya bertanya kepadanya. Ternyata, menurut pengakuannya, banyak polwan yang menginginkan mengenakan jilbab.

Tak hanya di kota-kota besar di Jawa, tapi juga merambah hingga ke kepolisian di daerah. Beberapa kali dia mendapat telepon dari polwan langsung atau melalui suaminya yang kebetulan seorang polisi juga.

"Mereka menanyakan mengapa saya bisa mengenakan jilbab. Ya, saya jawab saja, kalau takut pada Allah, kenakan jilbab, jangan takut pada atasan," kata sang polwan ini.

Dia mengibaratkan keinginan polwan mengenakan jilbab itu bak fenomena gunung es. Jika aturannya diizinkan, akan mengalir beramai-ramai polwan mengenakan jilbab. Tentu, jilbabnya itu dipadupadankan dengan seragam yang mereka kenakan.

Dan, mulai hari ini, seperti yang ditegaskan Kapolri Jenderal Sutarman, polwan Muslimah dipersilakan mengenakan jilbabnya. Semoga pernyataan Kapolri ini tak hanya sebatas pernyataan, tapi dalam implementasinya tidak bisa direalisasikan karena terbentur aturan resmi dalam bentuk peraturan kapolri (perkap).

Semoga pula, langkah Polri ini segera diikuti oleh Korps Wanita TNI. Keluar aturan yang memungkinkan mereka mengenakan jilbab dengan bebas. Patut kiranya kita simak komentar pembaca dalam thread-nya di Republika Online berikut.

"Hijab harus dipakai di segala bidang. Mau polisi atau lainya. Harusnya di negara mayoritas Muslim hijab bukan hal sulit untuk diterapkan."Alhamdulillah ya. Akhirnya terbuka juga peluang kerja baru buat para Muslimah yang pemberani ...." "Semoga Korps Wanita TNI segera menyusul untuk berhijab."

sumber : Harian Republika
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement