REPUBLIKA.CO.ID, Semalam, saya melihat pujangga besar Taufiq Ismail membacakan puisi di salah satu stasiun televisi swasta. Saya tak menyimak apa judul puisi itu. Hanya, beberapa baitnya menghujam saya.
Taufiq bilang, pemimpin kita sekarang sudah berubah. Dari pemimpin yang jujur, menjadi penjahat comberan sekelas copet dan maling.
Saya pun mafhum dengan apa yang terucap itu. Ungkapan yang mungkin dirasakan oleh jutaan warga lain di nusantara, tatkala melihat banyak pemimpin yang diduga terlibat dalam pekerjaan comberan. Mereka tertangkap tangan saat bakal menerima uang haram.
Dengan wajah tertunduk lesu, para pemimpin ini mengenakan rompi oranye menuju Rutan KPK di Kuningan, Jakarta Selatan.
Publik sudah terlalu jengah dengan para imam. Kalau saya analogikan, kentut mereka saat memimpin sholat berjamaah, seperti disengaja. Baunya pun kemana-mana. Menyeret imam lain yang sedang memimpin jamaah di kampung tetangga.
Pemimpin sekelas Ketua Mahkamah Konstitusi, Kepala SKK Migas, pimpinan partai politik, hingga kepala daerah tertangkap tangan saat diduga menerima uang haram. Tak ketinggalan beragam profesi terhormat macam pengacara, hakim, jaksa, pegawai pajak hingga pengusaha jatuh terjerembab karena terlibat pekerjaan haram itu.
Di tengah pemberitaan mengenai maraknya korupsi, ada sedikit pelipur dari lapangan sepak bola. Anak-anak muda binaan Indra Sjafri berhasil memenangkan juara Piala AFF U-19. Gelar juara yang mengobati kerinduan publik akan prestasi dalam kurun waktu 22 tahun.
Lewat pertandingan dramatis di Final melawan Vietnam, mereka berhasil menang melalui drama adu pinalti. Kemenangan manis yang membuat rekaman pertandingan di You Tube pun amat sering dikunjungi warga.
Buku kemenangan di Sidoarjo sudah ditutup. Kini, Evan Dimas dan kawan-kawan sedang berjuang di babak kualifikasi Grup G Prapiala Asia yang berlangsung di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta.
Dua pertandingan sudah dilalui dengan kemenangan. Melawan Laos dan Filipina, Timnas berhasil menggasak dua tetangga ini dengan skor 4-0 dan 2-0.
Hanya, masih ada satu pertandingan tersisa. Malam ini, mereka akan meladeni juara bertahan Piala Asia U-19, Korea Selatan. Bukan lawan mudah, mengingat timnas tak pernah menorehkan kemenangan melawan tim negeri gingseng.
Beban yang ditanggung pun semakin berat setelah Korsel mampu menang dengan skor yang lebih besar melawan Filipina dan Laos, yakni 4-0 dan 5-1. "Tak ada cerita, kita harus menang,"kata pelatih Indra Sjafri.
Soal menang-kalah, saya percaya itu kombinasi urusan manusia dan Tuhan. Manusia berusaha, Tuhan menentukan. Jika sudah ada niat, pasti ada jalan. Keajaiban pun tak jarang datang kepada orang yang sudah berpeluh dengan sungguh-sungguh.
Keajaiban ini pernah terjadi di lapangan es pada 1980. Saat Olimpiade Musim Dingin 1980 di New York, tim hockey Amerika Serikat dipaksa untuk berhadapan melawan 'Si Beruang Merah' Uni Soviet di semi final, 22 Februari 1980. Pertandingan ini lebih seperti Daud melawan Jalut.
Uni Soviet berisi barisan pemain profesional berkemampuan di atas rata-rata. Mereka menyandang status sebagai juara bertahan pemegang medali emas cabang hockey pada Olimpiade Musim Dingin sebelumnya. Ketika pertandingan persahabatan, tim ini pun berhasil menggasak AS dengan skor telak, 10-3.
Lain halnya dengan tim hockey Amerika Serikat. Pasukan Herb Brooks hanya berisi sekelompok anak muda amatir. Mereka dipilih dari tim-tim terbaik di liga universitas. Boleh dibilang, saat menghadapi raksasa seperti Uni Soviet, atlet yang juga berstatus sebagai mahasiswa ini hanya bermodal semangat.
Sayangnya, statistik ramalan para pengamat, jauh dengan kenyataan di lapangan. Tim ini mampu bermain luar biasa untuk menghadapi juara bertahan. Anak-anak amatir asuhan Brooks berhasil menang 4-3 merontokkan atlet-atlet Rusia yang perkasa.
Akhirnya, tim hockey Amerika Serikat berhasil menaklukkan musuh perang dingin yang dikenang hingga saat ini. Tim ini melaju hingga ke final dan berhasil memenangkan medali emas usai melawan Finlandia dengan skor 4-2.
Anak-anak kuliahan ini bukan sekadar menang. Dari torehan sejarah yang diulas oleh National Geography, kemenangan mereka berhasil membangkitkan optimisme publik Amerika Serikat yang sedang dilanda resesi ekonomi.
Berhasil menang melawan musuh utama dalam perang dingin pun membuat harapan akan apa yang disebut dengan "American Dreams" bangkit.
Bagaimana dengan mimpi Indonesia? Malam ini, Evan Dimas dan kawan-kawan harus berhadapan dengan Korea Selatan. Meski bukan tim terbaik dunia seperti Brasil atau Spanyol, Korsel punya reputasi di Asia. Tim besutan Pelatih Kim Sang Ho ini adalah pengoleksi gelar terbanyak Piala Asia U-19 dengan raihan 12 kali juara.
Korsel sudah 20 kali tampil di Piala Dunia U-20. Pada 1983, tim ini berhasil menduduki peringkat ke empat di Piala Dunia U-20. Prestasi sepak bola Korea Selatan mencapai puncaknya saat mereka menjadi tuan rumah Piala Dunia 2002 lalu. Ketika itu, Korsel meraih peringkat keempat.
Hanya, sekali lagi, sepak bola bukanlah matematika. Semua rekam jejak di atas kertas itu tak lagi berarti di lapangan. Penentu kemenangan adalah usaha dan doa. Keajaiban pun akan datang dengan sendirinya. Keajaiban juga untuk rakyat Indonesia, di tengah kejengahan tentang korupsi yang merajalela.