Ahad 10 Feb 2013 08:25 WIB

Robohnya Kedai Kami

Suasana sebuah pasar tradisional di Bali
Foto: Antara
Suasana sebuah pasar tradisional di Bali

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Dahnil Anzar Simanjuntak*

Pak Din, begitu saya sering panggil beliau, ketua umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, dalam berbagai pidatonya, kerapkali menggunakan plesetan dari cerita pendek karya AA Navis, “Robohnya Surau Kami” menjadi “Robohnya Kedai Kami” untuk menggambarkan kegagalan ekonomi umat Islam.

Meminjam istilah Pak Din, dengan sudut pandang yang berbeda tentunya, saya hendak menggambarkan TKO-nya ekonomi tradisional dipukul oleh ekonomi modern.

Joseph Stiglitz mendefenisikan bahwa pembangunan adalah proses dari kegiatan ekonomi yang tradisional menuju pola-pola kegiatan ekonomi yang modern. Pertanyaannya, apakah tradisional selalu identikal dengan simbol-simbol kegiatan-kegiatan ekonomi yang manual sedang modern adalah elektronikisasi? Apakah tradisional selalu ditandai oleh bangunan-bangunan tak tertata, agak kotor, informal dan panas, sedangkan modern adalah bangunan megah, bersih, formal dan sejuk karena tersedia pendingin ruangan?

Apakah ekonomi tradisional itu adalah “Pasar Tradisional”,”Warung Kecil Pak Tung”, “Kedai Bang Nasution”, dan ekonomi modern adalah Mal Senayan City, Careffour, Giant dan Alfamart, Indomart itu?

Pikiran kita di-setting untuk menggambarkan ekonomi modern adalah ekonomi yang secara teknikal memberikan kemudahan dan kenyamanan bagi hidup, sedangkan ekonomi tradisional itu menyusahkan dan tak nyaman. Kita meninggalkan makna substansi kegiatan ekonomi, yakni “Nilai”. Nilai yang membentuk prilaku kita untuk bersosialisasi dalam interaksi yang manusiawi dengan ciri khas manusia tentunya, bukan ciri khas robot.

“Pak Tung, Jahe satu ya!”. “Siap!”, jawab Pak Tung, sambil tersenyum Pak Tung datang membawakan sepotong jahe kepada pelanggan kedai Sego Kucing miliknya, yang terletak dipinggir jalan dekat kampus Universitas Diponegoro tersebut.

Si Pelanggan tertawa terbahak-bahak…hahaha…, Pak Tung pun tertawa riang, “Lah katanya minta jahe?, ini jahe!” oceh Pak Tung. Aku pun terbawa tertawa riang, sambil melahap mie rebus ku, Pak Tung lucu, “celoteh ku dalam hati”.

Adegan tersebut terjadi, di sudut jalan, kedai atau warung makan murah meriah milik Pak Tung yang seringkali menjadi pahlawan bagi mahasiswa yang memiliki keterbatasan uang saku.

Pak Tung, bukan tidak paham, apa yang dimaksud pesanan “Jahe satu”, tetapi secara cerdas, Pak Tung menggunakan kalimat yang tak lengkap itu, sebagai aksi humor segar, yang membuat semua pengunjung yang sedang makan di kedai Pak Tung tertawa riang.

Potret transaksi di atas adalah gambaran kehidupan ekonomi tradisional yang banyak kita temui dipinggir jalan, di pasar tradisional didekat rumah kita yang masih hadir menjaga kemanusiaan kita.

Ya, “kemanusiaan”, karena bagi saya ekonomi tradisional yang ditandai dengan interaksi informal dan tak kaku tanpa keberpura-puraan tersebut hadir menjadi penjaga ekonomi yang manusiawi, kehidupan ekonomi yang tidak mencerabut diri kita dari hakikat kemanusian sebagai mahluk sosial yang membutuhkan interaksi langsung tanpa keberpura-puraan.

Di Pasar Tradisional, atau “Kedai-kedai tradisional”, hampir semua penjual hapal pelanggannya, kalau pun tidak, maka penjual tidak akan sungkan menyapa, dengan sapaan akrab, lengkap dengan candaan. Interaksi sosial didalam pasar membangun peradaban ekonomi dengan berbagai etikanya. Kecurangan pedagang, Kejujuran, kebaikan hati, perjuangan hidup, premanisme, kebencian, perasaan terpinggirkan, terabaikan menjadi satu kesatuan.

Semua etika kemanusiaan seakan termanifestasikan didalam kegiatan pasar tradisional, interaksi sosial yang terintegarasi di pasar tradisional  membangun konstruksi budaya ekonomi manusia, yang khas.

Mari tengok, ekonomi modern yang ditandai dengan simbol-simbol kemewahan gedung nan bersih dan sejuk di sana, yang diisi oleh para perempuan muda nan candik lagi menawan, yang selalu menyambut kita dengan senyuman manis ketika kita hendak berkunjung walaupun belum tentu membeli. Tuluskah senyuman itu?

Apakah hanya sekadar keberpura-puraan ala senyuman teller bank? Saya harus meyakini pembaca, senyuman itu adalah senyuman palsu karena keterpaksaan, dan akan mendumel ketika anda berkunjung, menengok bahkan sok memilih, tapi tak membeli, berbeda dengan ekonomi tradisional ketidaksukaan dan ketidakrelaan selalu tampak diawal.

Ketika Pak Tung sedang kesal, dan tak mood, saya tak pernah menemui senyum dan candaan di kedai itu, tetapi ketika riang, maka semua keriangan akan memenuhi kedai Pak Tung dengan berbagai dialog yang lepas dan informal, datanglah ke pasar tradisional, kita akan temukan transaksi tawar menawar khas manusia dengan berbagai trik, tak suka jangan beli tak perlu senyum pura-pura, suka ya beli dan bayar dengan senang, tapi di Mal di pasar modern, semua-nya telah dibandrol,  tidak ada kesempatan untuk melakukan tawar menawar dan tidak ada pula candaan yang lepas nan informal, kamu birisik!, satpam bertindak.

Ekonomi modern yang ditandai dengan mal super mewah, sistem eletronikisasi telah mecerabut ekonomi manusiawi, menjadi ekonomi robotic. Telah merobohkan banyak kedai kita, dengan kekuatan modalnya dan perubahan perilaku manusia-nya, yang cenderung simplifikasi dan robotik.

Pemerintah terjebak pada laku rakus mengumpulkan pundi pendapatan daerah maupun pendapatan pusat melalui pajak yang dibayarkan oleh mal-mal mewah, mini market dan simbol-simbol ekonomi modern lainnya, dan membiarkan kedai kita roboh, dan bersamaan dengan robohnya kedai kita maka roboh pula ekonomi manusiawi.

Dan kita yang masih berusaha menjaga agar kedai kita berdiri kokoh hanya bisa berteriak melawan dengan tetap menghidupkan kedai kita dengan datang belanja dan berinteraksi di kedai itu, jangan biarkan “Robohnya Kedai Kami”.

* Penulis Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement