Oleh Ahmadie Thaha, Kolumnis
REPUBLIKA.CO.ID, Stadion Gelora Bung Karno tadi malam benar-benar bergelora. Bukan karena lampu stadion menyala terang, tetapi justru karena lampu itu dipadamkan.
Puluhan ribu telepon genggam kemudian menyala di tangan penonton. Dari kejauhan, cahaya kecil itu tampak seperti ribuan lilin yang ditanam di tengah kegelapan.
Lalu terdengar alunan syahdu “Tanah Airku”, lagu ciptaan Ibu Sud, dinyanyikan Anggun C Sasmi dengan suara tegarnya. Dalam gelap, lagu itu terdengar lebih khidmat. Seolah-olah Indonesia sedang menyanyikan dirinya sendiri.
Stadion seolah tak membutuhkan tata cahaya canggih untuk menciptakan suasana. Ia hanya membutuhkan manusia yang merasa memiliki sesuatu.
Malam itu, yang dimiliki bersama bukan sekadar pertandingan sepak bola. Ada perasaan yang lebih tua dan lebih besar: tanah air. Dan tanah air memang sering menjadi paling terasa ketika seseorang takut kehilangannya.
Beberapa jam sebelumnya, GBK adalah arena pertandingan. Indonesia menghadapi Thailand dalam final FIFA ASEAN Cup 2026. Setelah 90 menit, skor 1-1.
Perpanjangan waktu kembali melahirkan drama: Thailand unggul 2-1, Indonesia menyamakan menjadi 2-2. Akhirnya, pertandingan harus diselesaikan lewat adu penalti.
Di situlah sepak bola berubah menjadi ujian saraf nasional. Tendangan maut Kevin Diks masuk. Gol. Dean James. Gol. Elkan Baggott. Gol. Shayne Pattynama. Gol.
Di pihak Thailand, dua penendang terakhir gagal. Emil Audero menjadi penjaga gerbang terakhir.
Indonesia pun menang 4-2 dalam adu penalti dan, dengan skor pertandingan keseluruhan 6-4, mengangkat trofi yang selama ini hanya boleh dipandangi dari jauh.
Malam itu Indonesia akhirnya mempunyai juara senior di Asia Tenggara. Penantian 35 tahun selesai.
Tiga puluh lima tahun bukan waktu sebentar. Anak yang lahir ketika Indonesia terakhir merebut gelar pada 1991 sudah bisa menjadi orang tua ketika Garuda kembali mengangkat piala.
Karena itu, kemenangan ini terasa seperti seseorang akhirnya membayar utang yang sudah lama dianggap macet.
Tetapi sepak bola Indonesia memang punya hubungan unik dengan kata “menunggu”. Kita sudah terlalu sering menunggu. Menunggu juara. Menunggu lolos. Menunggu stadion penuh. Menunggu pemain matang.
Kita terlalu lama menunggu pembinaan membaik. Menunggu kompetisi sehat. Bahkan kadang menunggu pelatih baru sambil berharap pelatih lama tiba-tiba menjadi lebih baik.
Malam ini, setidaknya satu penantian selesai. Karena itu pula kemenangan ini penting bagi Presiden Prabowo Subianto, yang hadir di tengah penonton.
Prabowo baru akan genap dua tahun menjabat pada 20 Oktober 2026. Ia dilantik bersama Gibran Rakabuming Raka pada 20 Oktober 2024. Jadi final ini berlangsung sekitar dua pekan sebelum ulang tahun kedua pemerintahannya.
Timing semacam itu sulit diabaikan. Pemerintah tentu membutuhkan cerita keberhasilan yang dapat dirasakan publik secara langsung.
Piala sepak bola punya kelebihan yang tidak dimiliki banyak indikator pembangunan: ia dapat dirayakan bersama-sama, tanpa perlu membaca tabel statistik terlebih dahulu.
Orang tak perlu mengerti pertumbuhan ekonomi untuk ikut berteriak ketika penalti Thailand gagal. Tak perlu memahami APBN untuk memeluk orang di sebelahnya ketika Baggott mencetak gol. Mereka sudah merasa bangga.
Itulah kekuatan olahraga. Ia mengubah statistik menjadi emosi.
Namun justru di sinilah pemerintah harus berhati-hati. Jangan sampai kemenangan Garuda diperlakukan seperti stiker prestasi yang ditempelkan ke laporan dua tahun pemerintahan.
Piala itu milik para pemain, pelatih, suporter, federasi, dan seluruh ekosistem sepak bola yang bekerja jauh sebelum malam final.
Presiden boleh ikut bangga. Negara wajib memberi apresiasi. Tetapi jangan mencuri seluruh cahaya dari mereka yang memang berlari di bawah lampu stadion.
Sebab kemenangan sepak bola juga mengajarkan satu hal yang sering dilupakan birokrasi: hasil akhir lahir dari kerja panjang yang tidak selalu masuk kamera.
Malam ini kita melihat empat penendang penalti. Kita tidak melihat seluruh latihan yang membawa mereka sampai ke titik itu.
Kita melihat Emil Audero menepis bola. Kita tidak melihat seluruh proses yang membuat seorang penjaga gawang mampu berdiri tenang ketika satu tendangan dapat menentukan nasib jutaan orang.