
Oleh: Ustadz Imam Nur Suharno, Kepala Divisi Humas dan Dakwah Pesantren Husnul Khotimah, Kuningan, Jawa Barat
REPUBLIKA.CO.ID, Bangsa Indonesia akan kembali memperingati Hari Santri Nasional (HSN), tepatnya pada tanggal 22 Oktober. Tema yang diusung pada HSN 2026 kali ini adalah “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas”. Hal ini menegaskan bahwa santri senantiasa siap untuk mendukung visi Indonesia emas 2045. Karakter santri seperti apa yang siap mewujudkan Indonesia emas 2045?
Pertama, berakidah ahlus sunnah waljamaah. Santri yang mempunyai akidah ahlus sunnah waljamaah adalah santri mampu mempersembahkan semua potensinya hanya untuk Allah semata (QS al-An’am [6]: 162). Ia hanya bersandar kepada-Nya dalam setiap amal dan aktifitasnya. Orientasi hidupnya hanya untuk Allah semata sebagaimana janji yang diucap ulang. Indikatornya antara lain: tidak menyekutukan Allah; semangat berteman dengan orang saleh; berusaha meraih rasa manisnya iman; dan berusaha meraih rasa manisnya ibadah.
Kedua, benar dalam ibadah. Santri yang benar ibadahnya adalah santri yang dalam menjalankan setiap aktifitasnya dalam rangka untuk beribadah kepada-Nya. Dalam menjalankan aktifitas ibadah itu harus sesuai dengan apa yang dicontohkan oleh Nabi SAW. Indikatornya antara lain: rajin melakukan shalat Tahajud; semangat bersedekah; berpuasa sunnah dua hari dalam sebulan; banyak bertaubat; beramar makruf dan nahi munkar; merutinkan ibadah sunah rawatib; khusyuk membaca Alquran; meluruskan niat; dan selalu bertafakur.
Ketiga, berakhlak mulia. Santri yang memiliki akhlak mulia adalah santri yang dalam menjalankan setiap aktifitasnya terbingkai dengan akhlak mulia dan menjadikan Nabi sebagai teladan dalam kehidupannya. Indikatornya antara lain: tidak banyak mengobrol; sedikit bercanda; tidak hasad; menjalin hubungan baik dengan tetangga; menjenguk orang sakit; komitmen dengan adab meminta izin; menyambung silaturrahim, memuliakan tamu; merendahkan suara; dan menebar senyum kepada orang lain.
Keempat, sehat jasmaninya. Santri yang berbadan sehat, bugar, dan kuat, sehingga dapat menjalankan aktifitas kehidupannya sesuai tuntunan Islam. Indikatornya antara lain: mengatur waktu makan; tidak berlebihan dalam mengkonsumsi makanan berlemak; membersihkan peralatan makan dan minum; menjauhkan dari makanan yang diawetkan; tidur 6-8 jam dan bangun sebelum fajar; berolah raga 10-15 menit setiap hari; dan berjalan 2-3 jam setiap pekan.
Kelima, berwawasan luas. Ialah santri yang mau belajar dan belajar serta mengajarkannya sehingga ilmunya bermanfaat untuk umat. Ia menjalankan aktifitas kesehariannya berlandaskan llmu pengetahuan, bukan asal-asalan. Indikatornya antara lain: mengetahui problematika umat Islam; membaca buku 7 jam setiap pekan; memiliki kemampuan mengulas apa yang dibaca; membaca tafsir Alquran; dan senang mengikuti seminar keislaman dan kebangsaan.
Keenam, mampu mengendalikan hawa nafsunya. Yaitu santri yang mampu mengendalikan hawa nafsunya, bukan yang memperturuti nafsu, sehingga ia mampu berempati terhadap masyarakat di sekitarnya. Indikatornya antara lain: menjadikan dirinya bersama orang baik; menyumbangkan sebagian harta untuk amal Islami; sabar atas bencana; menyesuaikan perbuatan dengan ucapan; menerima dan memikul beban dakwah; memerangi dorongan nafsu; tidak berlebihan mengkonsumsi yang mubah; dan makan apa yang disuguhkan dengan keridhaan.
Ketujuh, mampu mengelola waktu. Santri yang mampu mengelola waktu adalah tanda sebagai pribadi yang produktif. Ia kerahkan setiap waktunya untuk memikirkan kepentingan umat (masyarakat). Indikatornya antara lain: menjaga janji; mengisi waktu dengan hal yang bermanfaat; dan memperhatikan adab-adab Islam dalam berkunjung dan mempersingkat pemenuhan hajatnya (keperluannya).
Kedelapan, teratur semua urusannya. Santri yang memiliki keteraturan dalam menjalankan aktifitasnya yang dapat mengantarkan kesuksesan dalam menjalani kehidupan. Indikatornya antara lain: shalat menjadi barometer manajemen waktunya; teratur dalam urusan pekerjaan (dan rumah tangga bagi yang telah berkeluarga); menertibkan ide dan pikirannya; dan bersemangat memenuhi janji-janji dalam kerja.
Kesembilan, mampu mandiri. Yaitu santri yang mampu hidup mandiri bukan menjadi beban hidup orang lain. Ia berusaha membangun kemandirian diri, bukan yang selalu minta belas kasihan orang lain. Indikatornya antara lain: berusaha memiliki spesialisasi dalam usaha; mengutamakan produk-produk dalam negeri; menjaga kepemilikan khusus; mengutamakan spesialisasi langka yang penting dan dinamis; dan berusaha memperbaiki kualitas produk dengan harga yang sesuai.
Kesepuluh, bermanfaat untuk umat. Yaitu, santri yang selalu berusaha untuk memberikan manfaat kepada orang lain (umat). Indikatornya antara lain: komitmen dengan adab Islam di rumah; melaksanakan hak-hak anak; memberikan hadiah kepada tetangga; memberikan pelayanan umum karena Allah; mendorong orang lain untuk berbuat baik; membantu yang kesulitan; membantu yang terkena musibah; dan berusaha untuk memenuhi hajat orang lain.
Semoga Allah membimbing ustadz/ah di pesantren agar mampu membimbing para santri menjadi manusia yang berkarakter dan senantiasa siap mewujudkan Indonesia emas 2045. Amin.