Kamis 01 Oct 2026 05:10 WIB

Iran dan Proksinya di Yaman: Saat Houthi Memperkuat Pengaruh dan Menghindari Ekspansi

Iran merupakan elemen kunci dalam mengembangkan dan mengarahkan kemampuan Houthi.

Kelompok militan Houthi mendukung Iran lewat aksi massa di Sanaa, Yaman, Jumat (10/7/2026).
Foto: EPA/Yahya Ahrab
Kelompok militan Houthi mendukung Iran lewat aksi massa di Sanaa, Yaman, Jumat (10/7/2026).

Oleh: Dr. CA. Jamaluddin, LC. Ms.J, Pemerhati Hubungan Indonesia-Timur Tengah dan Isu-isu Global

REPUBLIKA.CO.ID, Dalam Pekan ini kita disuguhkan sebuah pergerakan simultan di tiga front utama, di Timur Tengah. Milisi Houthi yang berupaya memperkuat posisi mereka di Pantai Barat Yaman dan menghindari intervensi langsung AS, dan faksi bersenjata Irak berupaya memastikan kelanjutan pengaruh dan persenjataan mereka, sementara Iran bergerak untuk mengurangi isolasi ekonomi dan menahan tekanan internal pascadikeluarkan sanksi AS yang baru.

Banyak pertanyaan yang datang kepada saya, baik saat melakukan obrolan santai atau saat mencoba mengorek tentang perkembangan serangan yang dilakukan milisi Houthi di Yaman terhadap kota-kota di Arab Saudi. Pertanyaan-pertanyaan tersebut berfokus pada perdebatan seputar bagaimana peran Iran dalam serangan yang dilakukan milisi Houthi ke Arab Saudi? Kedua mengapa AS tidak melakukan intervensi militernya untuk mendukung Arab Saudi di Yaman? Dan bagaimana posisi UEA mengenai apakah mereka mendukung Houthi untuk menekan Arab Saudi?

Baca Juga

Dukungan Iran untuk milisi Houthi sudah berlangsung sejak lama dan berkelanjutan, ketegangan pekan lalu bukanlah perkembangan baru dalam konflik Yaman. Namun demikian, kiranya tingkat dukungan langsung Iran untuk proksinya (Houthi) di kawasan tersebut tampaknya lebih rendah dibanding fase sebelumnya, hal itu dikarenakan tekanan militer, ekonomi, dan politik yang dialami Teheran dan jaringan regionalnya pada saat ini. 

Meskipun demikian, serangan yang dilakukan Houthi saat ini jelas menunjukkan jejak Iran dalam membantu perencanaan operasional, manajemen informasi, pengintaian, pengerahan kemampuan rudal dan drone, serta pengaitan operasi darat dengan tekanan angkatan laut dan strategi yang diberikan. Sebaliknya, pengalaman militer yang telah dimiliki Houthi selama bertahun-tahun perang, dan kemampuan mereka untuk mengelola dan melaksanakan operasi di lapangan dengan tingkat kemandirian operasional yang wajar, juga tidak boleh diabaikan. 

Karena itu, nampaknya peran Iran ini merupakan elemen kunci dalam mengembangkan dan mengarahkan kemampuan Houthi, tanpa mengasumsikan setiap detail keputusan militer dan implementasinya di lapangan berasal langsung dari Teheran. Sementara itu, posisi AS dalam krisis Yaman kali ini bukanlah hal baru. Posisi ini telah didefinisikan sejak peluncuran “Operasi Badai Penentu” pada 2015, yang terbatas pada dukungan intelijen dan logistik untuk koalisi pendukung pemerintahan sah di Yaman pimpinan Arab Saudi. 

Seiring berjalannya waktu, keterlibatan langsung AS dalam perang Yaman telah berkurang, dan Washington menjadi lebih ragu untuk campur tangan secara militer atas nama Arab Saudi melawan Houthi, terutama dalam operasi yang terkait dengan perang darat. Sebaliknya, AS bertindak secara militer langsung ketika aktivitas Houthi mengancam navigasi di Laut Merah dan Selat Bab al-Mandab, atau menargetkan pasukan, kapal, dan kepentingan AS.

Tampaknya Houthi sangat menyadari sensitivitas perbatasan ini. Karena itu, pada level ini, mereka berkepentingan untuk menghindari pembukaan front baru yang luas dan langsung dengan AS, Mesir, atau pasukan militer internasional yang hadir di wilayah tersebut, selama mereka dapat mencapai tujuan lapangan mereka tanpa memprovokasi pihak-pihak tersebut untuk melakukan intervensi yang lebih luas terhadap mereka. Namun, kemungkinan eskalasi tetap ada jika operasi saat ini berkembang menjadi ancaman langsung dan berkelanjutan terhadap navigasi atau jika intervensi militer regional terhadap Houthi semakin meluas.

Di sisi lain, untuk memahami posisi UEA terhadap keberhasilan Houthi di Yaman saat ini, perlu dibedakan antara keuntungan pembalasan jangka pendek dan kepentingan strategis jangka panjang. Benar, tekanan Houthi terhadap Arab Saudi secara tidak langsung dapat menciptakan keuntungan politik bagi UEA, baik dengan meningkatkan tekanan pada Riyadh atau dengan mengubah keseimbangan kekuatan di dalam kubu anti-Houthi. Namun, keuntungan ini tetap terbatas dibandingkan dengan kerusakan strategis yang dapat diakibatkan oleh perluasan kendali Houthi atas pantai barat atau kemajuan mereka yang merangsek lebih dekat ke Bab al-Mandab.

Sebagaimana dimaklumi, visi UEA di Yaman didasarkan pada beberapa kepentingan utama, dan yang terpenting adalah melindungi wilayah pengaruhnya di Selatan dan sepanjang pantai, mendukung pasukan lokal sekutu, mengamankan jalur maritim di Bab al-Mandab dan Teluk Aden, serta melindungi pelabuhan, perdagangan, dan investasi yang terkait dengan lokasi maritim Yaman. UEA juga berfokus pada penanggulangan kekuatan dan organisasi ideologis bersenjata yang dianggapnya sebagai ancaman terhadap keamanannya atau proyek regionalnya, terutama kelompok-kelompok yang terkait dengan Iran dan arus Islam politik tertentu. Dari perspektif ini, keberhasilan Houthi saat ini menimbulkan ancaman langsung terhadap beberapa kepentingan UEA, yaitu antara lain:

Pertama, melemahkan pasukan lokal yang bersekutu dengan Abu Dhabi, baik di Selatan maupun di pantai barat, dan mengurangi kemampuan mereka untuk bermanuver secara politik dan militer. Kedua, ekspansi Houthi di sepanjang pantai meningkatkan kemampuan mereka untuk mengancam navigasi internasional di Laut Merah dan Selat Bab al-Mandab, yang secara langsung berdampak pada kepentingan ekonomi dan keamanan UEA sebagai pusat utama perdagangan, transportasi maritim, dan logistik.

Ketiga peningkatan kekuatan militer Houthi meningkatkan kemungkinan serangan rudal dan drone yang menargetkan jantung UEA, ancaman yang telah dihadapi UEA secara langsung. Faktor ini merupakan salah satu alasan Abu Dhabi mengadopsi kebijakan dalam beberapa tahun terakhir untuk mengurangi konfrontasi langsung dengan Houthi dan meminimalkan keterlibatan militernya di Yaman, sambil terus mendukung pasukan lokal yang bersekutu.

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.
Berita Lainnya

Rekomendasi