Selasa 29 Sep 2026 06:50 WIB

Hasan Piker dan Politik yang Selalu Online

Dari Twitch ke gelanggang kampanye Amerika

Hasan Piker
Foto: Wikipedia
Hasan Piker

Oleh: Aria Prima Novianto, Presiden Indonesian Muslim Society in America (IMSA)

REPUBLIKA.CO.ID,Hasan Piker mempunyai sekitar 3,1 juta pengikut di Twitch dan 1,8 juta pelanggan di YouTube. Mereka bermain video berjam-jam sambil berbicara tentang perang, budaya populer dan komentar apa saja yang diunggah penonton. Sekarang, politisi yang ingin menjangkau pemilih muda singgah di siarannya. 

Hasan Doğan Piker lahir di New Jersey pada 1991 dari orang tua Turki, lalu besar di Istanbul dan Ankara. Ayahnya ilmuwan politik dan ibunya sejarawan arsitektur. Setelah lulus cum laude dari Rutgers University dalam ilmu politik dan ilmu komunikasi, ia bergabung dengan The Young Turks (TYT), jaringan berita progresif yang didirikan pamannya, Cenk Uygur. Ia memulai sebagai pekerja magang, bekerja dalam penjualan iklan dan produksi, kemudian menjadi pembawa acara. Seri Facebook-nya, The Breakdown, meraih puluhan juta tayangan.

Baca Juga

Pada 2020, Piker meninggalkan TYT untuk melakukan siaran di Twitch. Ia melihat bahwa ruang daring interaktif telah banyak dikuasai suara ekstrem kanan, sedangkan kubu kiri belum membangun kehadiran yang sebanding. Ia hadir dalam siaran langsung setiap hari berbicara tanpa naskah dan menjadi bagian dari kehidupan penontonnya. Politik, hiburan, humor, dan komunitas hadir dalam ruang yang sama.

Penampilannya juga berbeda dengan stereotip tokoh kiri. Piker berbicara tentang sosialisme, hak buruh, dan imperialisme, tetapi nyaman dalam budaya kebugaran, mode, permainan video, dan dunia bro. Kombinasi itu memberinya akses kepada laki-laki muda yang jauh dari politik institusional. Para pendukung melihatnya sebagai jalur alternatif dari toxic masculinity dan teori konspirasi. Kehadirannya memberi politik kiri sebuah rumah dalam budaya digital.

Piker menggambarkan dirinya sebagai Muslim kultural, bukan pengamal ritual yang ketat. Namun nama Turki, masa kecil di negeri mayoritas Muslim, dan pembelaannya terhadap warga Muslim membuatnya tetap dibaca sebagai figur Muslim dalam politik Amerika. Ia menghubungkan Islamofobia di dalam negeri dengan bahasa pembenaran intervensi Amerika: masyarakat yang digambarkan berbahaya di luar negeri akan lebih mudah dicurigai di bandara, perbatasan, dan arena politik.

Hubungan tersebut menjadi konkret pada Mei 2025, ketika Piker diperiksa selama lebih dari dua jam di Bandara Chicago setelah kembali dari luar negeri. Menurut penuturannya, petugas menanyakan pandangannya mengenai Trump, Hamas, dan kelompok Houthi. Piker menganggap pemeriksaan itu sebagai usaha menimbulkan efek gentar terhadap kebebasan berbicara. Departemen Keamanan Dalam Negeri AS menolak tuduhan tersebut dan menyatakan pemeriksaannya rutin serta sah, tanpa menjelaskan alasan khusus ia diperiksa.

Pengalaman tersebut bersinggungan dengan tema yang telah lama menonjol dalam komentar Piker: hubungan antara kebijakan luar negeri Amerika, kekerasan negara, dan kekerasan kelompok non—negara.

 

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.
Berita Lainnya

Rekomendasi