Senin 28 Sep 2026 17:14 WIB

Jasmerah Kebencanaan

Bencana mengingatkan kita pada satu pertanyaan mendasar.

Personel TNI dan Brimob membubarkan warga yang berkerumun di lokasi dekat kebakaran pabrik lampu di Batuceper, Kota Tangerang, Banten, Rabu (16/9/2026). Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Tangerang mengerahkan sebanyak 15 unit armada dan 60 personel untuk memadamkan kebakaran yang terjadi sekitar pukul 13.00 WIB dan penyebabnya masih dalam penyelidikan pihak berwajib.
Foto: ANTARA FOTO/Putra M. Akbar
Personel TNI dan Brimob membubarkan warga yang berkerumun di lokasi dekat kebakaran pabrik lampu di Batuceper, Kota Tangerang, Banten, Rabu (16/9/2026). Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Tangerang mengerahkan sebanyak 15 unit armada dan 60 personel untuk memadamkan kebakaran yang terjadi sekitar pukul 13.00 WIB dan penyebabnya masih dalam penyelidikan pihak berwajib.

Oleh: Agus Wibowo*

REPUBLIKA.CO.ID, Banjir, longsor, dan galodo yang berulang di berbagai wilayah Sumatra kembali mengingatkan kita pada satu pertanyaan mendasar: apakah setiap bencana benar-benar merupakan kejadian baru, atau kita yang terlalu cepat melupakan kejadian sebelumnya?

Almarhum Letjen TNI (Purn.) Doni Monardo, Kepala BNPB periode 2019–2021, pernah mengingatkan, “Bencana alam itu sesuatu yang berulang. Hanya saja, kita tidak tahu kapan peristiwa itu akan terjadi.”

Pernyataan itu disampaikan pada 2020 ketika membahas rekam sejarah gempa dan tsunami di Sulawesi Utara. Pesannya sederhana, tetapi mendasar bagi penanggulangan bencana: jangan hanya melihat bencana dari apa yang terjadi hari ini. Lihatlah apa yang pernah terjadi di tempat yang sama.

Dalam konteks inilah pesan Presiden Soekarno, Jasmerah—Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah, memperoleh makna baru: Jasmerah Kebencanaan.

Ketika Sejarah Menyelamatkan

Simeulue memberikan salah satu contoh terbaik.

Pada 1907, gempa kuat diikuti tsunami menerjang pulau tersebut. Pengalaman itu tidak berhenti sebagai cerita tentang sebuah bencana. Masyarakat menyimpannya dalam ingatan kolektif dan mewariskannya melalui tradisi lisan yang dikenal sebagai Smong.

Pesannya sederhana. Jika terjadi gempa kuat dan air laut surut secara tidak biasa, segera menjauh dari pantai dan menuju tempat tinggi.

Hampir satu abad kemudian, 26 Desember 2004, gempa sangat besar mengguncang kawasan barat Sumatra dan memicu tsunami dahsyat di Samudra Hindia.

Ketika gempa terjadi dan laut menunjukkan tanda-tanda tidak biasa, ingatan tentang Smong hidup kembali. Masyarakat bergerak menuju tempat tinggi. Pengalaman 1907 berubah menjadi tindakan penyelamatan pada 2004. Smong memperlihatkan bahwa sejarah bencana dapat menjadi sistem peringatan dini. Teknologinya bukan sensor, sirene, atau satelit. Teknologinya adalah ingatan manusia yang dipelihara lintas generasi.

Kita bahkan tidak selalu harus membuka arsip berusia seratus tahun untuk menemukan contoh keberulangan bencana.

Pada 12 Desember 1992, Flores diguncang gempa M7,5 yang membangkitkan tsunami.

Katalog BMKG mencatat sekitar 2.500 orang meninggal atau hilang. Tsunami masuk hingga sekitar 300 meter ke daratan dan di lokasi tertentu mencapai ketinggian sekitar 25 meter.

Tiga puluh empat tahun kemudian, pada 15 Agustus 2026, gempa M7,7 kembali mengguncang kawasan Flores dan kembali membangkitkan tsunami. BMKG mencatat pusat gempa 2026 sekitar 70 kilometer dari pusat gempa-tsunami 1992.

Sumber kedua tsunami tersebut tidak persis sama, tetapi keduanya mengingatkan bahwa Flores berada pada lingkungan tektonik yang aktif.

Tiga puluh empat tahun bukan waktu yang panjang. Banyak orang yang mengalami bencana 1992 masih hidup ketika gempa 2026 terjadi.

Pertanyaannya adalah: seberapa jauh memori 1992 telah diterjemahkan menjadi tata ruang, jalur evakuasi, sistem peringatan dini, latihan masyarakat, dan kesiapsiagaan pada 2026?

Jika Simeulue mampu menjaga memori Smong hampir satu abad, seharusnya kita mampu menjaga memori bencana selama satu generasi.

Sungai Juga Mempunyai Sejarah Prinsip yang sama berlaku pada bencana hidrometeorologi.

Banjir besar yang melanda Sumatera pada akhir November 2025 terjadi bersamaan dengan hujan ekstrem ketika Siklon Tropis Senyar berkembang di sekitar Selat Malaka. Namun menjelaskan banjir hanya dengan kalimat “karena Siklon Senyar” dapat membuat kita kehilangan perspektif yang lebih panjang.

Aceh Tamiang memberikan contoh menarik.Penelusuran arsip menunjukkan bahwa banjir di Tamiang bukan fenomena baru. Koloniaal Weekblad edisi 17 Juni 1904  mencatat banjir di Kwala Simpang menyebabkan sebuah sampan terbalik dan enam orang tenggelam.

Catatan kolonial lainnya bahkan menggambarkan luapan Sungai Tamiang, khususnya di Tamiang Hilir, sebagai bahaya yang berulang setiap tahun. Perbedaan muka air hingga sekitar 10 meter pernah dicatat.

Lebih dari satu abad lalu manusia ternyata sudah mengetahui karakter banjir Sungai Tamiang. Kemudian pada 2025 banjir besar datang lagi. Tentu Tamiang hari ini tidak sama dengan Tamiang seratus tahun lalu. Penduduk bertambah, permukiman berkembang, tutupan dan penggunaan lahan berubah, demikian pula kondisi DAS dan sungainya.

 

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.
Berita Lainnya

Rekomendasi