Selasa 22 Sep 2026 09:52 WIB

Hibah Kapal Induk Italia: Kemandirian Pertahanan Dan Geopolitik RI di ASEAN?

Indonesia akan dan sedang melakukan modifikasi ulang pada kapal induk.

Kapal induk ITS Giuseppe Garibaldi bersiap bersandar setibanya di Dermaga 107, Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Jumat (18/9/2026). Kedatangan kapal induk ITS Giuseppe Garibaldi yang dihibahkan Pemerintah Italia kepada Indonesia ini nantinya akan berfungsi untuk Operasi Militer Selain Perang (OMSP) khususnya dalam penanganan bencana dan bantuan kemanusiaan dan mempertegas langkah maju TNI dalam memperkuat dan memodernisasi Sistem Senjata Armada Terpadu (SSAT) TNI AL, sekaligus menunjukkan komitmen Indonesia terhadap pertahanan dan pengamanan wilayah laut Indonesia.
Foto: Republika/Prayogi
Kapal induk ITS Giuseppe Garibaldi bersiap bersandar setibanya di Dermaga 107, Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Jumat (18/9/2026). Kedatangan kapal induk ITS Giuseppe Garibaldi yang dihibahkan Pemerintah Italia kepada Indonesia ini nantinya akan berfungsi untuk Operasi Militer Selain Perang (OMSP) khususnya dalam penanganan bencana dan bantuan kemanusiaan dan mempertegas langkah maju TNI dalam memperkuat dan memodernisasi Sistem Senjata Armada Terpadu (SSAT) TNI AL, sekaligus menunjukkan komitmen Indonesia terhadap pertahanan dan pengamanan wilayah laut Indonesia.

Oleh: Dr. CA. Jamaluddin. LC, Ms.J, Pemerhati Hubungan Indonesia – Timur Tengah dan Isu-isu Global

REPUBLIKA.CO.ID, Hubungan diplomasi militer Indonesia dengan Italia dalam beberapa tahun terakhir telah mengalami peningkatan secara signifikan, baik melalui pakta pertahanan strategis formal, operasi awak gabungan, maupun kerangka kerja sama perdagangan pertahanan bilateral pascapengalihan (hibah) eks kapal induk AL Italia, ITS Giuseppe Garibaldi (C 551) ke Indonesia. Langkah ini menjadi tonggak penting dalam diplomasi militeral bilateral, menyusul penandatanganan Surat Pernyataan Kehendak (Letter of Intent) antara kedua negara untuk kerja sama pertahanan maritim serta membentuk Komite Koordinasi Italia-Indonesia khusus untuk mengelola rincian hibah tersebut. 

Menurut informasi, 100 calon awak kapal asal Indonesia menjalani pelatihan di Italia, selain itu, tim awak gabungan yang terdiri dari pelaut Italia serta Indonesia telah mengawaki kapal induk (C 551) tersebut secara bersama-sama selama dalam pelayarannya menuju Indonesia yang berlangsung hampir satu bulan, dari tanggal 24 Agustus hingga 18 September 2026. 

Baca Juga

Selanjutnya apa makna dan definisi hibah dalam konteks hubungan diplomatik? Benarkah militer Indonesia telah naik level dan mandiri dalam pertahanan? Bagaiman dampak akuisisi kapal induk (C 551) ini terhadap bobot geopolitik RI di ASEAN di tengah dinamika tatanan dunia saat ini?

Hibah diplomatik dalam konteks hubungan internasional, adalah bantuan dana yang diberikan pemerintah atau badan internasional tertentu kepada organisasi nirlaba, kelompok akademis, atau organisasi masyarakat sipil untuk mendukung tujuan kebijakan luar negeri dan pemahaman budaya negara tersebut. Hibah ini dapat dipandang sebagai instrumen praktis dalam diplomasi bantuan dan soft power (kekuatan lunak), di mana negara berinvestasi secara langsung pada proyek-proyek berbasis masyarakat alih-alih menggunakan pengaruh politik atau militer konvensional yang dimilikinya. 

Sebagai contoh, Departemen Luar Negeri AS atau European External Action Service menggunakan hibah untuk menyebarluaskan nilai-nilai, budaya, dan perspektif mereka ke luar negeri. Dana biasanya disalurkan kepada kelompok masyarakat lokal, lembaga kajian (think tank), atau sekolah guna membina persahabatan internasional jangka panjang. 

Proyek-proyek tersebut sering kali berfokus pada tema-tema seperti hak asasi manusia, pendidikan, kerja sama di bidang Science, Technology, Engineering and Mathematics (STEM), pertumbuhan ekonomi, atau literasi media dst. 

Contoh umum lainnya, hibah bersekala kecil dalam diplomasi publik. Biasanya program ini dikelola oleh Kedutaan Besar setempat (misalnya Kedutaan Besar AS di negara tuan rumah tertentu) melalui penyaluran dana, mulai dari 1.000 dolar AS hingga lebih dari 100.000 dolar AS untuk lokakarya regional, program pertukaran, atau pelatihan kepemudaan. Contoh lain, hibah dalam bentuk dukungan bagi masyarakat sipil, seperti inisiatif (UN Democracy Fund) yang mendanai kelompok-kelompok lokal yang bergerak di bidang tata kelola pemerintahan yang transparan dan hak asasi manusia.

Sementara dalam konteks diplomasi pertahanan, hibah (atau pengalihan bantuan militer) merupakan kesepakatan antar-pemerintah di mana aset militer utama diserahkan tanpa biaya, tanpa melalui prosedur pengadaan komersial standar ataupun pembayaran harga beli tunai.

Terkait kasus pengalihan eks kapal induk Angkatan Laut Italia, ITS Giuseppe Garibaldi (C 551), ke Indonesia tersebut, Indonesia tidak membayar harga pasar modal atau nilai dasar (yang diperkirakan sekitar 54 juta Euro atau Rp1,1 triliun) untuk badan kapal (hull) fisik dan struktur dasar kapal yang sudah pensiun dan berusia lebih dari 40 tahun tersebut. 

Hal ini melambangkan kerja sama pertahanan bilateral yang mendalam serta kemitraan strategis antara Roma dan Jakarta, yang memungkinkan Italia melepas kapal andalan (flagship) yang telah dinonaktifkan secara elegan sekaligus mempererat hubungan di kawasan Indo-Pasifik. Meskipun kapal itu sendiri merupakan "hadiah", pengalihan pertahanan tingkat negara seperti ini sering kali membuka peluang industri yang lebih luas, kontrak pemeliharaan, dan pertukaran teknologi (memanfaatkan kerja sama pertahanan yang lebih luas senilai miliaran bagi pemasok Eropa). 

Biaya "tersembunyi" dari hibah militer ini, bahwa aset gratis dalam diplomasi tidak berarti anggaran nol. Indonesia harus mengeluarkan biaya besar—dengan estimasi berkisar antara Rp7,2 triliun hingga Rp16,8 triliun (400 juta dolar AS hingga 936 juta dolar AS)—untuk proses dry-docking (perbaikan di dok kering), pembongkaran komponen lama, dan retrofit kapal guna mengintegrasikan sistem tempur, radar, serta operasi drone/helikopter modern milik Angkatan Laut TNI. Mengoperasikan kapal induk berbobot 13.000 hingga 14.000 ton menimbulkan biaya operasional bulanan rutin yang besar (diperkirakan lebih dari Rp101 miliar per bulan).

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.
Berita Lainnya

Rekomendasi