
Oleh: Nana Sudiana, Waka 4 BAZNAS Jawa Barat
REPUBLIKA.CO.ID, Transformasi pengelolaan Sumber Daya Manusia (SDM) Amil Zakat di Organisasi Pengelola Zakat (OPZ) telah memasuki era baru. Seiring meningkatnya kepercayaan masyarakat dan kompleksitas tata kelola zakat nasional, Amil kini bukan lagi sekadar petugas lapangan atau administrator, melainkan modal strategis (capital) yang menentukan keberlanjutan dan integritas lembaga.
Sebagai organisasi yang mengemban amanah mengentaskan kemiskinan, OPZ bertumpu pada ekosistem SDM yang masif. Laporan Pengelolaan Zakat Nasional (LPZN) mencatat jumlah amil pelaksana secara nasional mencapai 9.202 orang (data per Februari 2026 dari pelaporan tahun 2025).
Total OPZ saat ini tercatat 748 organisasi, yang terdiri dari BAZNAS dan LAZ. BAZNAS terdiri dari 1 BAZNAS RI, 34 BAZNAS Provinsi dan 508 BAZNAS Kab/Kota. Sedangkan LAZ terdiri dari 56 LAZ Nasional, 44 LAZ Provinsi dan 105 LAZ Kab/Kota. Skala organisasi yang besar ini menuntut modernisasi tata kelola SDM Amil secara mutlak.
Konsep dan Perbedaan HR-HC
OPZ perlu membedakan peran operasional (Human Resources) dan peran strategis (Human Capital). HR berfokus pada fungsi administratif dan operasional harian, sedangkan HC memandang Amil sebagai aset jangka panjang yang nilainya terus dikembangkan.
Penguraian komparatif keduanya terlihat dalam tiga dimensi utama. Pertama, dari perspektif, HR menganggap Amil sebagai penunjang operasional, sedangkan HC memandangnya sebagai aset modal yang nilainya ditingkatkan melalui pelatihan dan investasi potensi.
Kedua, dari ruang lingkup, HR mengurus administrasi, absensi, payroll, cuti, dan regulasi agar operasional harian lancar. Sebaliknya, HC berfokus pada pengembangan kompetensi, jalur karier, budaya kerja islami, serta strategi dampak jangka panjang OPZ.
Ketiga, dari tolok ukur penilaian (metrics), HR dinilai dari kepatuhan administrasi dan efisiensi biaya pendek. Sebaliknya, HC diukur dari peningkatan skill, retensi Amil, dan kontribusi inovasi terhadap pertumbuhan kelolaan ZIS.
Meski berbeda, keduanya saling melengkapi. Pendekatan terbaik bagi OPZ adalah menjadikan HC sebagai paradigma utama, dengan didukung administrasi HR yang kokoh. Administrasi HR yang rapi menjadi fondasi agar strategi pengembangan jangka panjang HC dapat berjalan berkesinambungan.