
Oleh: Bagong Suyanto, Guru Besar Sosiologi Ekonomi dan Ketua Badan Pertimbangan Fakultas (BPF) FISIP Universitas Airlangga
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Wartawan adalah profesi yang penuh risiko. Mereka tidak hanya dihadapkan pada berbagai tekanan dari pemegang kekuasaan dan kelompok kepentingan, tetapi juga tak jarang dihadapkan pada keselamatan saat menjalankan tugas peliputan di daerah rawan. Kasus hilangnya lima wartawan dan tiga kru kapal yang tengah melakukan peliputan erupsi Gunung Anak Krakatau adalah salah satu contoh.
Rombongan wartawan yang melakukan peliputan itu berangkat menuju Gunung Anak Krakatau pada Senin, 7 September 2026. Mereka bertolak pukul 14.00 WIB dari Dermaga Pandeglang Carita, Pandeglang, Banten menuju Gunung Anak Krakatau dengan estimasi waktu perjalanan selama dua jam. Tetapi, entah karena apa, kapal yang mereka tumpangi hilang kontak pada pukul 14.42 WIB pada hari yang sama. Saat itu rombongan diperkirakan berada di area antara Carita dan Gunung Anak Krakatau. Pada pukul 18.13 WIB, posisi mereka terdeteksi di sekitar Gunung Anak Krakatau. Hingga artikel ini ditulis, polisi masih memperluas area pencarian hingga ke wilayah peraiaran sekitar Lampung.
Seperti diberitakan media massa, para wartawan dan kru kapal diketahui pertama hilang kontak saat berada di atas Perairan Selat Sunda, Banten. Namun, aparat mengantisipasi potensi para korban terbawa arus hingga menuju ke perairan Lampung. Tidak hanya melakukan pencarian melalui kapal laut, polisi juga melakukan upaya pencarian melalui udara dengan menggunakan helikopter apabila kondisi cuaca di sekitar lokasi mendukung.
Keselamatan Wartawan
Kasus wartawan yang mengalami musibah tatkala melakukan peliputan tidak hanya terjadi sekali-dua kali. Di Indonesia, di tahun 2018 dua wartawan dilaporkan meninggal dunia ketika melakukan peliputan acara gathering kantor PLN. Akibat tsunami setinggi 3-5 meter, yang dipicu longsornya tubuh Gunung Anak Krakatau, tsunami menerjang Pantai Tanjung Lesung Banten dan menyebabkan dua orang wartawan dari TV One meninggal karena digulung ombak.
Bencana yang terjadi dan dialami wartawan ketika melakukan peliputan erupsi Gunung Anak Krakatau kembali terjadi. Lima orang wartawan yang tengah menjalankan tugas merekam denyut amuk alam di sekitar perairan Selat Sunda, dilaporkan hilang saat meliput erupsi Gunung Anak Krakatau. Kabar duka yang menyelimuti dunia kewartawanan ini adalah indikasi betapa rapuhnya perlindungan keselamatan bagi para pekerja media yang berdiri di garis depan bencana.
Selama ini, kasus yang mengancam keselamatan wartawan biasanya berkaitan dengan peliputan yang menyangkut kekuasaan dan kepentingan komersial. Sudah lazim bila wartawn menghadapi intimidasi ketika meliput kasus yang melibatkan orang-orang penting atau kebijakan yang berkaitan dengan pemagang kekuasaan. Kasus yang terjadi di peraiaran Selat Sunda ini berbeda. Wartawan mempertaruhkan nyawa ketika mereka meliput kejadian bencana. Mereka pergi membawa kamera, catatan, dan semangat untuk mengabarkan kebenaran kepada publik, namun justru terjebak dalam skenario terburuk dari sebuah peliputan lapangan.
Apa yang terjadi dan dalami lima orang wartawan ketika meliput erupsi Gunung Anak Krakatau memaksa kita untuk kembali merenungkan satu diktum tua dalam dunia jurnalistik yang sayangnya sering kali terlupakan dalam derasnya arus kompetisi media modern: "Tidak ada berita seharga nyawa."
Di era digital yang bergerak dalam hitungan detik, para wartawan menyadari bahwa ruang redaksi kerap kali dirundung kepanikan massal yang disebut dengan sindrom fear of missing out (FOMO). Siapa yang paling cepat menayangkan visual lava pijar yang membelah malam? Siapa yang paling dekat mengambil gambar kepulan asap tebal yang membubung ke angkasa? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang sering kali mendikte keputusan di ruang redaksi, terkadang melampaui pertimbangan rasional mengenai keselamatan wartawan yang menjalankan tugas jurnalistik.
Erupsi gunung berapi, khususnya Anak Krakatau yang memiliki karakteristik tak tertebak dan berada di tengah laut, bukanlah medan konflik politik yang bisa dinegosiasikan. Alam yang sedang marah tidak mengenal kartu pers. Ketika gelombang tinggi berpadu dengan runtuhan material vulkanik dan gas beracun, keberanian tanpa perhitungan matang niscaya akan berisiko mempertaruhkan keselatan dan nyawa.
Kita tidak bisa menutup mata bahwa dalam industri media yang kian kompetitif, jurnalis lapangan—terutama jurnalis foto, videografer, dan kontributor lokal—sering kali berada di bawah tekanan psikologis yang menjejas. Mereka dituntut menyajikan materi yang unik, spesifik, dan dramatis untuk memuaskan syahwat public dan rating pemirsa. Tekanan struktural dari para pemirsa dan viewer inilah yang kerap memaksa para jurnalis di lapangan untuk mengabaikan intuisi keselamatan mereka sendiri, menerobos zona bahaya demi sebuah sudut pengambilan gambar yang "sempurna".
Semoga Kembali
Gunung Anak Krakatau hingga kini masih sulit diprediksi. Gunung berapi ini masih terus bergolak, sebagai bagian dari siklus alami bumi yang hidup. Menjadi tugas wartawan untuk senantiasa mengabarkan perkembangan terbaru pergolakan yang terjadi di Gunung Anak Krakatau.
Untuk meliput fenomena Gunung Anak Krakatau, wartawan tentu harus menyadari risiko terjadinya bencana vulkanologikal. Peliputan yang dilakukan membutuhkan lebih dari sekadar rompi bertuliskan "PERS" dan helm proyek standar. Jurnalis yang dikirim ke medan yang rawan bencana seperti Gunung Anak Krakatau seharusnya dibekali dengan pelatihan mitigasi bencana yang spesifik, alat pelindung diri (APD) yang memadai seperti masker gas berspesifikasi militer, alat komunikasi satelit ketika jaringan seluler runtuh, serta jaminan asuransi jiwa yang komprehensif.
Sayangnya, realita di lapangan sering kali berbicara sebaliknya. Banyak jurnalis, terutama jurnalis lepas (freelancer) atau kontributor daerah, dikirim ke area bencana dengan modal nekat. Mereka menyewa perahu nelayan lokal yang mungkin tidak laik dipakai melaut demi mendekati pulau vulkanik, tanpa jaket pelampung yang memadai, dan tanpa rencana evakuasi darurat yang terukur. Ketika situasi memburuk, mereka benar-benar terisolasi dari dunia luar.
Kasus hilangnya lima wartawan di prairan Selat Sunda ini harus menjadi momentum untuk menggugah tanggung jawab moral para pemilik dan jajaran direksi perusahaan media. Mengirim wartawan ke daerah bencana tanpa perlindungan dan persiapan yang matang boleh jadi adalah bentuk kelalaian korporasi. Keuntungan dari jutaan views atau klik pada video erupsi tidak akan pernah bisa membiayai air mata keluarga yang kehilangan tulang punggungnya.
Saat artikel ini ditulis, operasi pencarian dan penyelamatan (SAR) telah resmi dihentikan. Harapan menemukan para wartawan mungkin tipis, karena telah beberapa hari berlalu. Kita semua berdoa agar kelima rekan jurnalis tersebut dapat ditemukan dalam kondisi apa pun. Sykur bila ada keajaiban mereka dapat pulang ke pelukan keluarga mereka, dan kembali ke ruang redaksi untuk menceritakan kisah penyintas mereka sendiri. Semoga lima wartawan dan awak kapal yang mengantar mereka segera ditemukan dan semua pihak yang terlibat dalam peliputan erupsi Gunung Anak Krakatau dapat kembali ke pangkauan keluarganya. Semoga.