Jumat 18 Sep 2026 13:04 WIB

Bukan Sekadar Umpatan! Jancuk Harusnya Masuk KBBI!

Indonesia tidak hanya dibentuk oleh tutur kata yang halus dan serba formal.

Maskot Kota Surabaya, Suro dan Boyo (ikan hiu dan buaya). ilustrasi
Maskot Kota Surabaya, Suro dan Boyo (ikan hiu dan buaya). ilustrasi

Oleh Rizky Fajar Meirawan, akademisi Universitas Indonesia Maju

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Fenomena bahasa interaksi masa kini memperlihatkan meluasnya penggunaan kata "jancuk", khususnya di kalangan mahasiswa dan Gen-Z di daerah selain Surabaya dan Jawa Timur. Pendapat ini berdasarkan pengamatan sehari-hari dari pola interaksi mahasiswa di salah satu perguruan tinggi swasta di Jakarta Selatan.

Penulis menyaksikan langsung bagaimana kata ini berkelindan erat dalam ruang pergaulan urban. Di koridor kampus, kantin, hingga sela-sela diskusi kelompok, leksikon (kosa kata) khas Surabaya tersebut diucapkan secara wajar oleh mahasiswa yang secara demografis dan sosiokultural tidak memiliki darah Jawa Timuran.

Fenomena ini menegaskan bahwa istilah tersebut telah menjelma menjadi kata populer di kawasan Jakarta. Meski demikian, penulis mendapati adanya perbedaan fonetis yang cukup mencolok. Pelafalan “jancuk” oleh mahasiswa Jakarta cenderung melunak dan terpengaruh logat lokal, berbanding terbalik dengan artikulasi penutur asli Surabaya yang lugas, tegas, dan bertekanan berat pada konsonan akhirnya.

Secara fonetis, perbedaan mendasar antara logat asli Surabaya dengan logat lokal non-Surabaya dalam melafalkan kata "jancuk" terletak pada pergeseran artikulasi vokal [u] dan tekanan konsonan penutupnya. Pada dialek asli Suroboyoan , vokal [u] diucapkan secara murni, tebal, dan bulat tepat pada posisi vokal tertutup belakang, sehingga bunyinya secara konsisten dipertahankan murni mendekati pelafalan vokal [u] yang lugas. Penutur asli Surabaya mengeksekusi vokal ini dengan tekanan aksen yang kuat serta mengunci konsonan [k] akhir secara tegas, menghasilkan artikulasi yang padat, tajam, dan penuh bertenaga khas kaum pesisir.

Sebaliknya, pada logat lokal non-Surabaya seperti dialek Jakarta, vokal [u] mengalami pelebaran artikulasi (vowel lowering) hingga bunyinya bergeser dan melemah mendekati pelafalan vokal [o]. Fenomena ini membuat artikulasi kata tersebut berubah menjadi terdengar seperti "jancok" dengan kualitas vokal yang lebih terbuka dan santai.

Ditambah dengan pengujaran konsonan akhir [k] yang cenderung melunak atau dilepaskan secara samar tanpa tekanan berarti. Ritme pengujaran oleh penutur di luar Surabaya terdengar lebih datar, melar, dan kehilangan letupan intonasi tajam yang menjadi karakter dasar artikulasi aslinya.

 

 

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.
Berita Lainnya
Terpopuler

Rekomendasi