Rabu 16 Sep 2026 18:15 WIB

Ketika QRIS dan Sport Tourism Menggerakkan Ekonomi Kota

Olahraga menjadi alasan awal seseorang melakukan perjalanan.

Foto ilustrasi: Pembeli melakukan transaksi qris di salah satu stan tempat makan di Gelaran ISEF 2025 di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Kamis (9/10/2025).
Foto: Republika/Thoudy Badai
Foto ilustrasi: Pembeli melakukan transaksi qris di salah satu stan tempat makan di Gelaran ISEF 2025 di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Kamis (9/10/2025).

Oleh: Adhy Ramawan Putra*

REPUBLIKA.CO.ID, Pariwisata tidak selalu dimulai dari keputusan seseorang untuk berwisata. Ada kalanya seseorang datang ke sebuah kota karena mengikuti perlombaan lari, mendampingi keluarga bertanding, atau menghadiri kegiatan olahraga bersama komunitasnya.

Namun, begitu tiba di kota tujuan, kebutuhan mereka berkembang menjadi konsumsi, transportasi, akomodasi, belanja produk lokal, hingga kunjungan ke berbagai tempat. Di titik itulah olahraga mulai bertemu dengan ekonomi pariwisata.

Konsep tersebut dikenal sebagai sport tourism. Olahraga menjadi alasan awal seseorang melakukan perjalanan, sementara manfaat ekonominya menyebar jauh melampaui arena pertandingan. Peserta dan pengunjung menciptakan permintaan terhadap berbagai sektor sehingga kegiatan olahraga dapat menjadi bagian dari strategi untuk meningkatkan kunjungan sekaligus memperluas aktivitas ekonomi daerah

Bagi sebuah kota, pendekatan ini menarik karena sumber kunjungan tidak lagi hanya bergantung pada pola wisata konvensional.

Kalender perlombaan lari dan berbagai kegiatan olahraga rekreatif dapat menciptakan alasan baru bagi masyarakat dari luar daerah untuk datang. Semakin besar jumlah pengunjung dan semakin panjang waktu tinggal mereka, semakin luas pula kesempatan bagi hotel, rumah makan, transportasi lokal, perdagangan, UMKM, dan berbagai jasa lainnya untuk memperoleh manfaat ekonomi

Kota Tasikmalaya memiliki gambaran menarik mengenai peluang tersebut melalui penyelenggaraan QRIS UTHM Tasikmalaya pada pertengahan tahun 2026.

Kegiatan yang merupakan sinergi Bank Indonesia melalui KPw BI Tasikmalaya, Universitas Siliwangi, dan Pemerintah Kota Tasikmalaya ini dapat dilihat sebagai salah satu use case bagaimana sport event bertemu dengan aktivitas ekonomi lokal dan digitalisasi pembayaran.

Partisipasinya cukup besar. QRIS UTHM Tasikmalaya diikuti 3.078 pendaftar lari dan mencatat 30.534 transaksi selama penyelenggaraan kegiatan. Dari jumlah tersebut, terdapat 24.507 transaksi QRIS Experience dan 2.949 transaksi QRIS UMKM. Aktivitas tersebut memperlihatkan bahwa sebuah kegiatan

olahraga dapat menghasilkan arus manusia sekaligus arus transaksi dalam waktu yang relatifbersamaan.

Dampak langsungnya juga mulai dapat diidentifikasi. Penerimaan dari pendaftaran peserta mencapai Rp 656,25 juta, sedangkan omzet tenan UMKM mencapai Rp 982,34 juta. Dari dua komponen tersebut saja, aktivitas ekonomi langsung yang terukur mencapai sekitar Rp 1,64 miliar.

Angka ini belum mencakup seluruh pengeluaran peserta dan pengunjung pada penginapan, rumah makan, transportasi, pusat perdagangan, maupun berbagai layanan lainnya.

Di sinilah pentingnya melihat sport tourism bukan semata sebagai penyelenggaraan perlombaan.

Sebuah lomba dapat menjadi pintu masuk bagi peserta untuk mengalami sebuah kota. Kuliner yang dicicipi, produk lokal yang dibeli, tempat yang dikunjungi, serta interaksi dengan masyarakat menjadi bagian dari pengalaman perjalanan.

Ketika pengalaman tersebut positif, peluang kunjungan tidak berhenti ketika perlombaan selesai karena peserta dapat kembali bersama keluarga maupun komunitasnya.

Dampaknya kemudian dapat berkembang menjadi visitor economy yang lebih luas.

 

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.
Berita Lainnya
Terpopuler

Rekomendasi