
Oleh: Fahmi Salim, Direktur Al-Fahmu Institute dan Majelis Tabligh PP Muhammadiyah
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Polemik tentang Muhammad Nashiruddin al-Albani kembali ramai di ruang digital: apakah ia layak disebut muhaddits, atau lebih tepat disebut bahits fi al-hadits—peneliti hadis? Di media sosial, persoalan yang sebenarnya bersifat metodologis berubah menjadi pertarungan label dan identitas, bahkan dikaitkan dengan perbandingan dengan tokoh lain. Padahal, sebuah potongan video atau judul yang provokatif tidak selalu merepresentasikan keseluruhan argumentasi seorang ustadz.
Karena itu, pertanyaan yang lebih ilmiah bukan sekadar “Al-Albani muhaddits atau bukan?”, melainkan: dalam pengertian apa seseorang disebut muhaddits; apa kontribusi Al-Albani terhadap ilmu hadis; di mana kekuatan dan keterbatasan metodenya; dan bagaimana umat seharusnya memperlakukan hasil kritik hadis di tengah ekosistem digital?
Siapa Al-Albani dan Mengapa Pengaruhnya Besar?
Muhammad Nashiruddin al-Albani (1914–1999) merupakan salah satu figur paling berpengaruh dalam kebangkitan studi hadis pada abad ke-20. Lahir di Shkodër, Albania, lalu tumbuh di Damaskus, ia menekuni Al-Qur’an, bahasa Arab, fikih Hanafi, dan ilmu hadis. Ia dikenal memiliki produktivitas ilmiah yang sangat besar dan pernah mengajar di Universitas Islam Madinah pada tahun 1961-1964.
Pengaruh Al-Albani tidak hanya lahir dari jumlah karya, tetapi dari keberhasilannya membawa kritik hadis kembali ke ruang publik Muslim modern. Ia melakukan takhrij, meneliti sanad dan perawi, membandingkan jalur riwayat, serta memberikan penilaian seperti sahih, hasan, daif, dan maudhu’. Karya-karyanya membuat jutaan pembaca terbiasa bertanya: “Dari mana hadis ini? Bagaimana kualitasnya?”
Namun, penting ditegaskan: Al-Albani bukan pencipta ilmu kritik hadis. Tradisi jarh wa ta’dil, takhrij, ‘ilal, kritik sanad dan matan, serta penilaian kualitas riwayat telah berkembang berabad-abad sebelum dirinya. Kontribusinya lebih tepat dipahami sebagai revitalisasi, sistematisasi, dan popularisasi tradisi kritik hadis dalam konteks modern.
Muhaddits atau Bahits al-Hadits: Jangan Terjebak pada Label
Istilah muhaddits dalam literatur Islam memiliki spektrum penggunaan yang tidak selalu seragam. Dalam tradisi klasik, gelar keilmuan seperti musnid, muhaddits, hafizh, dan amir al-mu’minin fi al-hadits berkaitan dengan tingkat penguasaan yang berbeda-beda atas riwayat, sanad, perawi, matan, dan ‘ilal. Karena itu, menjadikan satu angka hafalan sebagai definisi tunggal muhaddits juga terlalu sederhana.
Di sisi lain, bahits fi al-hadits secara bahasa berarti peneliti dalam bidang hadis. Istilah itu sendiri tidak otomatis merupakan penghinaan. Yang menentukan adalah konteks penggunaannya: apakah ia sedang menggambarkan fokus keilmuan seseorang atau sedang merendahkan kapasitasnya.
Maka, perdebatan yang lebih produktif ialah: pada level apa Al-Albani dapat disebut muhaddits? Jawabannya bergantung pada definisi yang digunakan. Dalam pengertian modern-fungsional, sangat masuk akal menyebutnya sebagai salah satu tokoh besar ilmu kritik hadis kontemporer. Dalam pengertian hierarki teknis yang sangat ketat sebagaimana sebagian ulama klasik menggunakan istilah tersebut, sebagian sarjana dapat memperdebatkan apakah ia mencapai setiap unsur yang disyaratkan.
Perbedaan ini tidak perlu berakhir pada vonis “ulama A benar, ulama B sesat”. Justru di sinilah adab ilmiah diuji.
Kekuatan Al-Albani: Menghidupkan Budaya Verifikasi
Salah satu jasa terbesar Al-Albani adalah membangkitkan kesadaran bahwa hadis yang beredar di mimbar, buku, majelis, dan media tidak semuanya memiliki kualitas yang sama. Ia mendorong pembaca untuk kembali kepada sumber, menelusuri sanad, dan tidak puas dengan popularitas sebuah riwayat.
Di tengah budaya keagamaan yang kadang mengulang riwayat hanya karena populer, kritik hadis merupakan bentuk tanggung jawab ilmiah. Dan ini tetap menjadi pelajaran penting bagi generasi digital.
Dalam konteks ini, Al-Albani memberikan jasa yang besar. Ia mengingatkan bahwa popularitas sebuah hadis bukan ukuran kesahihannya. Semangat inilah yang menular ke almarhum Prof. KH. Ali Mustafa Yaqub (Imam Besar Masjid Istiqlal periode 2004-2016) sehingga menulis buku ilmiah populer yang legend berjudul ‘Kritik Hadis’ (1995), ‘Hadis-Hadis Bermasalah’ (2003) dan ‘Hadis-hadis Palsu Seputar Ramadhan’ (2003).
Semangat ini sangat relevan pada zaman digital. Hari ini satu hadis dapat beredar jutaan kali hanya karena dikemas indah. Padahal, viral bukan berarti sahih. Bahkan hadis sahih pun belum tentu dipahami dengan benar apabila dilepaskan dari konteks, keseluruhan riwayat, dan penjelasan para ulama.
Dalam arti ini, warisan Al-Albani memiliki relevansi luar biasa: umat perlu memiliki budaya tabayyun terhadap hadis sebagaimana mereka belajar tabayyun terhadap berita.
Tetapi di sinilah kita perlu satu koreksi penting. Sebelum Al-Albani, ulama Islam telah lama melakukan kritik hadis. Jadi, narasi bahwa umat Islam sebelumnya hampir tidak pernah memeriksa hadis adalah tidak tepat. Yang berubah adalah intensitas, gaya, dan jangkauan sosialnya. Al-Albani membawa tradisi verifikasi klasik ke dalam bahasa dan kebutuhan masyarakat modern.