
Oleh: Dr. CA. Jamaluddin, LC, Ms.J, Pemerhati Hubungan Indonesia – Timur Tengah dan Isu Global
REPUBLIKA.CO.ID, Saat ini mata dunia sedang tertuju ke Markas Besar Perserikataan Bangsa-Bangsa (PBB), di mana pergulatan diplomasi Tingkat Elit sedang berlangsung untuk menentukan siapa yang menggantikan posisi Sekretaris Jenderal (Sekjen) PBB setelah berakhirnya Mr. António Guterres, Sekjen PBB saat ini pada 31 Desember 2026 mendatang.
Terdapat tujuh kandidat yang bersaing untuk posisi Sekretaris Jenderal baru PBB tersebut. Para kandidat tersebut meliputi figur-figur penting dari berbagai negara seperti: Rafael Mariano Grossi (Argentina) – Kepala Badan Energi Atom Internasional (IAEA), Michelle Bachelet (Chile) -mantan presiden Chile dan mantan komisaris tinggi HAM PBB, Maria Fernanda Espinosa Garcés (Ekuador) - mantan presiden Majelis Umum PBB dan mantan menteri Luar Negeri Ekuador, Rebeca Grynspan Mayufis (Kosta Rika) – Sekretaris Jenderal UNCTAD dan mantan Wakil Presiden Kosta Rika, Carolyn Rodrigues-Birkett (Guyana) – Mantan menteri luar negeri Guyana, Macky Sall (Senegal) – mantan presiden Senegal dan Olara Otunnu (Uganda) – mantan diplomat dan pejabat tinggi PBB yang diajukan kemudian oleh Uganda.
Lantas bagaimana mekanisme pemilihan Sekretaris Jenderal PBB yang baru? Benarkah pemilihan tersebut kental dengan dimensi geopolitik dan dinamika global saat ini? Bagaimana peran diplomasi RI dalam organisasi dunia tersebut?