Senin 03 Aug 2026 14:04 WIB

Pesantren Pertanian Darul Fallah: Menanam Nilai-nilai, Memupuk Kemandirian, Memanen Generasi Unggul

Dari hati dan tangan para founding fathers, tertanam sebuah gagasan besar.

Dr. Ir. Naufal Mahfudz, MBA, MM
Foto: Fakhri Hermansyah
Dr. Ir. Naufal Mahfudz, MBA, MM

REPUBLIKA.CO.ID, OlehDr. Ir. Naufal Mahfudz, MBA, MM*

 

Milad ke-66 Yayasan Pesantren Pertanian Darul Fallah, Ciampea, Bogor (9 April 1967-9 April 2026), adalah momen yang sarat makna. Sebuah titik hening untuk menengok jejak langkah panjang yang telah ditorehkan sejak awal berdirinya oleh KH Sholeh Iskandar, KH Abdul Gaffar Ismail, H. Tabrani, H. Janamar Adjam, dan RHO Djunaedi.

Dari hati dan tangan para founding fathers, tertanam sebuah gagasan besar, bahwa pendidikan sejati adalah yang mampu menyatukan iman, ilmu, dan kemandirian hidup.

Enam puluh enam tahun lalu, mungkin yang tampak hanyalah kesederhanaan, lahan, semangat, dan keyakinan. Namun justru dari kesederhanaan itulah tumbuh kekuatan. Para pendiri tidak sekadar mendirikan sebuah pesantren, tetapi merintis sebuah gerakan mengembalikan manusia pada fitrahnya sebagai penjaga bumi, melalui pendidikan yang berakar pada nilai-nilai keislaman dan kebijakan agraris.

Darul Fallah kemudian dikenal sebagai pesantren yang unik, tempat di mana Al Quran dan ajaran Islam dipahami berdampingan dengan pengolahan tanah, di mana dzikir menyatu dengan kerja, dan di mana santri belajar bahwa kemandirian bukan hanya cita-cita, melainkan laku hidup sehari-hari. Filosofi ini menjadi semakin relevan di tengah dunia modern yang kerap menjauh dari nilai-nilai keberlanjutan dan keseimbangan.

Refleksi milad ini mengajak kita untuk kembali menghidupkan semangat awal yang diwariskan oleh sang pendiri. Apakah kita masih menjaga ruh keikhlasan dalam belajar dan mengajar? Apakah kita masih melihat ilmu sebagai jalan pengabdian, bukan sekadar pencapaian? Pertanyaan-pertanyaan ini penting agar perjalanan panjang ini tidak kehilangan arah.

Di usia ke-66, Darul Fallah tidak hanya dituntut untuk mengenang, tetapi juga merespons zaman. Tantangan seperti krisis pangan, perubahan iklim, dan transformasi digital membuka peluang bagi pesantren untuk tampil sebagai pusat solusi. Dengan warisan nilai yang kuat, Darul Fallah memiliki posisi strategis untuk melahirkan generasi santri yang berdaya, yang mampu mengelola sumber daya alam secara bijak sekaligus memanfaatkan teknologi secara tepat.

Lebih dari itu, milad ini adalah pengingat bahwa setiap santri, setiap guru, dan setiap alumni adalah bagian dari mata rantai perjuangan yang tidak boleh terputus. Apa yang telah dirintis oleh para pendiri adalah amanah yang harus terus dijaga, dirawat, dan dikembangkan.

Pada akhirnya, Milad ke-66 ini bukan sekadar perayaan usia, melainkan peringatan akan nilai-nilai. Nilai-nilai tentang kesederhanaan, kemandirian, keberanian bermimpi, dan keteguhan dalam berjuang. Semoga Darul Fallah terus menjadi ladang kebaikan dan tempat tumbuhnya generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berakar kuat dan berbuah manfaat bagi sesama. Semoga senantiasa diberi kekuatan untuk terus menanam nilai-nilai kebaikan, merawat kemandirian dan keberkahan, dan memanen generasi unggul yang memberi manfaat bagi umat, bangsa, dan semesta.

Selamat Milad ke-66.

Mari bangkit.

Mari berjuang.

Mari maju bersama.

Terus tumbuh.

Mengakar kuat.

Menjulang tinggi.

Dan berbuah lebat.

Untuk ummat.

*Ketua Umum Yayasan Pesantren Pertanian Darul Fallah

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.
Berita Lainnya
Terpopuler

Rekomendasi