
Oleh: Achmad Tshofawie, Kordinator ECOFITRAH; Peminat Geopolitik dan Penikmat Sepakbola Piala Dunia
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Empat tahun lalu dunia menyebut Maroko sebagai "kuda hitam". Kini, sebutan itu mulai kehilangan relevansinya. Pada Piala Dunia FIFA Qatar 2022, Maroko yang dijuluki Atlas Lions mencatat sejarah sebagai negara Afrika dan dunia Arab pertama yang menembus semifinal.
Mereka mengalahkan Belgia di fase grup, menyingkirkan Spanyol melalui adu penalti pada babak 16 besar, kemudian menumbangkan Portugal di perempat final sebelum akhirnya dihentikan Prancis di semifinal. Banyak pengamat menganggapnya sebagai kejutan terbesar dalam sejarah sepak bola modern. Namun, sejarah sering kali membedakan antara sebuah kejutan dan sebuah kebangkitan.
Empat tahun berselang, Maroko kembali menunjukkan konsistensinya di Piala Dunia FIFA 2026. Setelah lolos dari fase grup, Atlas Lions tampil meyakinkan dengan mengalahkan Kanada 3–0 untuk melaju ke babak perempat final. Dunia kini mulai memahami bahwa pencapaian tahun 2022 bukanlah kebetulan. Maroko telah berubah. Dan perubahan itu jauh lebih besar daripada sekadar sepak bola.
Dalam salah satu artikelnya, pakar geopolitik/cendekiawan Maroko - Dr Cherkaoui Roudani memperkenalkan istilah yang menarik: Connective Power. Menurutnya, sepak bola tidak mengubah posisi Maroko di dunia. Sepak bola hanya membuat dunia akhirnya menyadari bahwa Maroko memang telah berubah. Kalimat sederhana itu sesungguhnya mengandung pesan geopolitik yang sangat mendalam.
Selama lebih dari satu abad, dunia mengukur kekuatan bangsa melalui ukuran-ukuran yang relatif sama. Negara dianggap besar apabila memiliki angkatan bersenjata yang kuat (hard power), ekonomi yang dominan, atau kemampuan memengaruhi dunia melalui budaya, pendidikan, teknologi, dan diplomasi (soft power), sebagaimana dipopulerkan oleh ilmuwan politik Joseph S Nye Jr Paradigma itu tidak keliru. Namun, dunia abad ke-21 tampaknya sedang bergerak menuju dimensi baru.
Kekuatan tidak lagi hanya ditentukan oleh kemampuan mendominasi. Kekuatan mulai ditentukan oleh kemampuan menghubungkan. Inilah esensi connective power.
Negara yang memiliki connective power bukanlah negara yang memaksa pihak lain mengikuti kehendaknya. Sebaliknya, ia menjadi negara yang dibutuhkan karena mampu mempertemukan berbagai kepentingan, menghubungkan kawasan, memfasilitasi perdagangan, membuka ruang dialog, membangun jejaring ilmu pengetahuan, memperkuat kerja sama ekonomi, bahkan menyatukan masyarakat dunia melalui olahraga. Maroko sedang menunjukkan bagaimana konsep tersebut bekerja.
Secara geografis, negeri itu berada di persimpangan Afrika, Eropa, Samudra Atlantik, Laut Mediterania, dan dunia Arab. Tetapi letak geografis saja tidak pernah cukup. Banyak negara memiliki posisi strategis tanpa pernah menjadi pemain penting dalam geopolitik dunia. Yang membedakan Maroko adalah keberhasilannya mengubah posisi geografis menjadi posisi strategis.
Mereka membangun pelabuhan modern seperti Tanger Med, memperkuat diplomasi ekonomi ke Afrika, memperluas jaringan perdagangan dengan Eropa dan Timur Tengah, berinvestasi pada energi terbarukan, memperbaiki infrastruktur nasional, mengembangkan sektor pariwisata, dan secara konsisten membangun sepak bola melalui akademi, pembinaan usia dini, peningkatan kualitas pelatih, serta tata kelola federasi yang profesional.
Hasilnya mulai terlihat. Dunia tidak lagi hanya mengenal Casablanca atau Marrakesh. Dunia kini juga mengenal Atlas Lions. Sepak bola berubah menjadi bahasa universal yang memperkenalkan wajah baru Maroko kepada masyarakat internasional. Inilah yang menarik. Maroko tidak sedang "mengekspor sepak bola". Maroko sedang mengekspor kepercayaan (trust).
Dalam geopolitik modern, kepercayaan merupakan salah satu bentuk modal strategis yang nilainya sering kali melampaui kekuatan militer. Negara yang dipercaya lebih mudah menarik investasi, menjadi mitra dagang, menjadi tuan rumah forum internasional, bahkan memperoleh pengaruh yang tidak dapat dibeli dengan senjata.
Pelajaran inilah yang sesungguhnya sangat relevan bagi Indonesia. Selama ini Indonesia sering dipandang sebagai middle power, yakni negara dengan pengaruh menengah yang mampu memainkan peran penting dalam diplomasi internasional tanpa menjadi negara adidaya. Namun, mungkin sudah saatnya Indonesia mulai memikirkan paradigma yang lebih sesuai dengan karakter bangsa. Bukan menjadi sSuper power. Bukan pula berlomba menjadi Hard Power, melainkan menjadi connective power.
Sesungguhnya Indonesia memiliki hampir seluruh prasyarat untuk memainkan peran tersebut. Secara geografis, Indonesia berada di persimpangan Samudra Hindia dan Samudra Pasifik, menguasai salah satu jalur pelayaran tersibuk di dunia, serta menjadi penghubung alami antara Asia Timur, Asia Selatan, Australia, dan Pasifik.
Secara politik, Indonesia menjalankan prinsip politik luar negeri bebas aktif yang memungkinkannya berdialog dengan berbagai kekuatan dunia tanpa terjebak dalam rivalitas blok. Secara ekonomi, Indonesia merupakan anggota G20 dan BRICS, sekaligus motor utama ASEAN.
Secara demografi, Indonesia adalah negara Muslim terbesar di dunia, dengan masyarakat yang plural dan relatif moderat.
Secara ekologis, Indonesia merupakan salah satu negara dengan keanekaragaman hayati terbesar di muka bumi, menjadikannya sangat penting dalam isu pangan, iklim, dan konservasi.
Semua itu adalah modal connective power. Namun modal tidak akan berarti tanpa visi.
Sebagaimana Maroko tidak menjadi kekuatan sepak bola hanya karena memiliki pemain berbakat, Indonesia pun tidak akan menjadi connective power hanya karena memiliki letak geografis yang strategis.
Diperlukan kepemimpinan yang visioner, birokrasi yang profesional, pendidikan yang unggul, investasi pada riset dan inovasi, pembangunan infrastruktur yang terintegrasi, penguatan ekonomi maritim, diplomasi yang konsisten, serta tata kelola yang bersih.
Dalam konteks inilah olahraga, termasuk sepak bola, memiliki makna yang jauh lebih besar daripada sekadar mengejar trofi.
Prestasi olahraga membangun kebanggaan nasional. Kebanggaan nasional memperkuat identitas bangsa. Identitas bangsa memperkuat citra internasional. Citra internasional meningkatkan kepercayaan. Dan kepercayaan merupakan fondasi dari connective power.
Indonesia sesungguhnya dapat membangun connective power melalui banyak jalur sekaligus: menjadi pusat ekonomi syariah dunia, pusat industri maritim tropis, pusat riset biodiversitas, simpul logistik Indo-Pasifik, pusat diplomasi Global South, bahkan pusat pengembangan olahraga di kawasan Asia.
Semua itu saling terhubung. Karena pada akhirnya, connective power bukanlah tentang seberapa besar kekuatan yang kita miliki. Ia adalah tentang seberapa besar manfaat yang dapat kita hubungkan bagi dunia.
Maroko telah memperlihatkan bahwa sebuah bola yang menggelinding di lapangan hijau ternyata mampu mengubah cara dunia memandang sebuah bangsa.
Indonesia memiliki peluang yang bahkan lebih besar. Bukan karena kita lebih luas wilayahnya. Bukan pula karena jumlah penduduknya lebih banyak. Tetapi karena sejarah, geografi, budaya, dan politik luar negeri Indonesia telah menempatkan negeri ini di persimpangan berbagai peradaban dunia.
Abad ke-20 adalah abad ketika bangsa-bangsa berlomba menjadi yang paling kuat. Abad ke-21 mungkin akan dikenang sebagai abad ketika bangsa-bangsa berlomba menjadi yang paling mampu menghubungkan. Dan jika itu benar, maka masa depan Indonesia tidak terletak pada ambisi menjadi negara yang mendominasi dunia, melainkan pada keberanian menjadi bangsa yang menghubungkan dunia: menghubungkan perdagangan dengan kesejahteraan, ilmu pengetahuan dengan kemanusiaan, teknologi dengan etika, serta peradaban dengan perdamaian. Di situlah makna terdalam dari Connective Power.
Peminat Geopolitik dan Penikmat Sepakbola Piala Dunia.