Selasa 28 Jul 2026 17:47 WIB
Sebuah Catatan Kuratorial

Syair yang Pulang ke Khutub Khannah

Manuskrip dan teks-teks syair Islam Minangkabau akan dipamerkan di Maninjau.

Museum Buya Hamka terletak di tepian Danau Maninjau, tepatnya di Nagari Sungai Batang, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatra Barat.
Foto: Istimewa
Museum Buya Hamka terletak di tepian Danau Maninjau, tepatnya di Nagari Sungai Batang, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatra Barat.

Oleh: Pramono, Guru Besar Kajian Manuskrip Universitas Andalas dan Kurator Pameran Manuskrip Syair Islam Minangkabau

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ada tempat-tempat tertentu yang tidak hanya menyimpan benda, tetapi juga menyimpan gema. Ia tampak sebagai bangunan, tetapi sesungguhnya adalah ruang ingatan. Ia mungkin sunyi pada hari-hari biasa, tetapi di dalam kesunyiannya tersimpan suara panjang para ulama, murid, pembaca, penyalin, dan masyarakat yang pernah menjadikan ilmu sebagai jalan hidup.

Bagi saya, Khutub Khannah Haji Abdul Karim Amrullah di Sungai Batang, Maninjau, adalah salah satu tempat seperti itu.

Pada 5–15 Juni 2026, ruang bersejarah ini akan menjadi tempat penyelenggaraan “Pameran Manuskrip Syair Islam Minangkabau”. Saya diminta menjadi kurator oleh Nofri Duino Zora, seorang anak muda yang sedang tumbuh sebagai peneliti dan peminat khazanah naskah (manuskrip) di Sumatera Barat. Ia mungkin masih tergolong pendatang baru dalam dunia pernaskahan, tetapi justru di situlah letak harapannya. Dunia naskah tidak boleh hanya diwarisi oleh nama-nama lama. Ia membutuhkan generasi baru yang berani mendekat, belajar, bertanya, dan bekerja dengan tekun.

Nofri memperoleh fasilitasi dari Dana Indonesiana Kementerian Kebudayaan tahun 2025 melalui kategori Pendayagunaan Ruang Publik. Judul kegiatannya “Moderasi melalui Syair: Pendayagunaan Manuskrip Sastra Islam Minangkabau di Ruang Publik”. Kegiatan yang terasa sederhana, tetapi memuat gagasan yang sangat penting: bagaimana manuskrip yang selama ini tersimpan, rapuh, sulit dibaca, dan sering berjarak dari publik, dapat kembali hadir sebagai sumber pengetahuan, percakapan, dan nilai bersama. 

Syair sebagai Jalan Pulang Ilmu

Pameran ini berangkat dari satu keyakinan: manuskrip bukan benda mati. Ia tidak cukup hanya disimpan, difoto, dikatalogkan, lalu dibanggakan sebagai warisan masa lalu. Manuskrip perlu dibaca kembali. Ia perlu didekatkan kepada masyarakat. Ia perlu diberi ruang untuk berbicara kepada zaman sekarang.

Yang dipamerkan kali ini adalah manuskrip dan teks-teks syair Islam Minangkabau. Syair, dalam tradisi ini, bukan sekadar puisi lama. Ia adalah cara ulama menyampaikan ilmu. Ia adalah jalan dakwah yang halus. Ia adalah bentuk pendidikan rasa. Melalui syair, ajaran tauhid, fikih, tasawuf, akhlak, cinta kepada Rasulullah, perjalanan haji, nasihat hidup, bahkan polemik keagamaan, disampaikan dalam bahasa yang berirama dan mudah melekat dalam ingatan.

Di Minangkabau, ilmu tidak selalu datang dalam bentuk uraian yang kaku. Ia juga datang sebagai suara. Dibaca, dilagukan, didengar, dihafal, dan diwariskan. Syair membuat pengetahuan turun dari rak kitab ke ruang dengar masyarakat. Ia menjadikan dakwah tidak berteriak, tetapi menyentuh. Ia mengajarkan bahwa agama dapat disampaikan dengan keindahan, bahwa kritik dapat diberi adab, dan bahwa perbedaan tidak harus selalu berakhir sebagai permusuhan.

Itulah salah satu alasan mengapa pameran ini penting. Dalam syair-syair Islam Minangkabau, kita menemukan sebuah tradisi keberagamaan yang berakar, tetapi tidak kaku; bersuara, tetapi tidak bising; berbeda pendapat, tetapi tetap menjaga martabat. Dalam konteks hari ini, ketika ruang publik sering mudah panas oleh perbedaan, manuskrip syair mengingatkan kita bahwa masyarakat kita pernah memiliki cara yang lebih halus untuk berbicara, menasihati, mencintai, bahkan membantah. 

Berdebat dengan Adab

Salah satu bagian penting pameran ini adalah polemik antara Inyiak Rasul dan Inyiak Canduang tentang Maulid Nabi, khususnya praktik berdiri maulid. Inyiak Rasul, ulama pembaharu dari arus Kaum Muda, mengkritik praktik tersebut. Inyiak Canduang, ulama besar Kaum Tua, membalasnya melalui syair. Perdebatan itu tajam, tetapi tidak menghapus posisi mereka sebagai sesama ulama yang dihormati. Dari sana kita belajar bahwa moderasi bukan berarti meniadakan perbedaan. Moderasi justru tampak ketika perbedaan dikelola dengan ilmu, bahasa, dan adab.

Bagian lain menghadirkan syair-syair cinta kepada Rasulullah. Di sini, Nabi Muhammad hadir bukan hanya sebagai tokoh sejarah, tetapi sebagai pusat rindu umat. Kisah kelahiran, mukjizat, Isra Mikraj, Maulid Nabi, hingga wafat Rasulullah, ditulis dan diwariskan dalam bahasa yang penuh takzim. Dalam syair, sirah menjadi suara. Dalam manuskrip, cinta kepada Rasul menemukan tempat untuk bertahan.

Ada pula syair haji. Di dalamnya, perjalanan ke Makkah tidak hanya dipahami sebagai pelaksanaan rukun Islam, tetapi sebagai perjalanan iman yang penuh air mata. Jamaah berangkat dari kampung, berpamitan dengan keluarga, menempuh laut, singgah di pelabuhan, menghadapi sakit, takut, haru, dan harapan. Laut menjadi jalan rindu. Makkah menjadi tujuan iman. Syair haji memperlihatkan bahwa ibadah tidak pernah lepas dari tubuh, keluarga, jarak, dan keberanian.

Pameran ini juga menampilkan syair tentang bencana dan tanda zaman. Tidak semua syair lahir dari kegembiraan. Sebagian lahir dari luka: ketika kampung diguncang musibah, ketika alam yang memberi hidup tiba-tiba menghadirkan takut. Melalui syair, bencana tidak dibiarkan menjadi luka yang hilang dalam diam. Ia diolah menjadi nasihat, doa, hikmah, dan ingatan bersama. 

Dari Pameran Menuju Ekosistem

Namun, pameran ini bukan hanya tentang materi yang dipamerkan. Bagi saya sebagai kurator, yang tidak kalah penting adalah dampak sosial dan kultural dari prosesnya. Kegiatan ini mulai membangun ekosistem baru pelestarian dan pemanfaatan khazanah naskah Minangkabau. Manuskrip tidak lagi hanya menjadi urusan akademisi atau peneliti. Ia mulai menjadi urusan komunitas lokal, anak-anak muda, pegiat kebudayaan, dan masyarakat di sekitar tempat warisan itu berada.

Dalam hal ini, peran KPGH (Komunitas Pemuda Generasi Hamka) sangat penting. Mereka terlibat penuh dalam proses persiapan pameran. Mereka tidak hanya membantu secara teknis, tetapi juga ikut membangun kesadaran bahwa Khutub Khannah HAKA bukan sekadar bangunan tua. Ia adalah simpul sejarah. Ia adalah ruang yang dapat dihidupkan kembali sebagai pusat pembelajaran, pemajuan kebudayaan, dan kebanggaan masyarakat Sungai Batang.

Keterlibatan KPGH memberi harapan bahwa pelestarian naskah tidak harus selalu menunggu proyek besar dari luar. Ia dapat tumbuh dari kampung sendiri. Dari anak-anak muda yang merasa memiliki. Dari komunitas yang melihat bahwa masa depan kebudayaan tidak dapat dibangun hanya dengan nostalgia, tetapi dengan kerja nyata: membersihkan ruang, menyiapkan pameran, memandu pengunjung, membaca ulang sejarah, dan menghubungkan warisan lama dengan kebutuhan baru. 

Khutub Khannah sebagai Simpul Ingatan

Lebih jauh, pameran ini diharapkan mampu mengenalkan kembali Khutub Khannah HAKA kepada publik luas. Tempat ini dahulu merupakan sentra kegiatan intelektual salah satu ulama pembaharu paling berpengaruh di Minangkabau: Syekh Dr. Haji Abdul Karim Amrullah, atau Inyiak Rasul. Di sinilah jejak tulisan, pengajaran, polemik, dan gagasan pembaruan Islam pernah berdenyut. Khutub Khannah juga memiliki arti penting lain: ia merupakan kantor Muhammadiyah pertama di Sumatera Barat.

Sayangnya, dalam arus wisata Maninjau hari ini, Khutub Khannah belum memperoleh perhatian sebesar yang layak diterimanya. Orang datang ke Maninjau untuk melihat danau, menikmati lanskap, atau mengunjungi Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka. Semua itu penting. Tetapi ada satu mata rantai sejarah yang perlu disambungkan kembali: Inyiak Rasul, ayah Buya Hamka, ulama pembaharu yang membentuk lingkungan intelektual tempat Hamka kemudian tumbuh. 

Menyusun “Wisata Trio Amrullah”

Karena itu, saya membayangkan pengembangan wisata Maninjau ke depan dapat diarahkan menjadi “Wisata Trio Amrullah”. Konsep ini sederhana, tetapi kuat. Wisatawan tidak hanya diajak melihat tempat, tetapi menelusuri silsilah intelektual sebuah keluarga ulama besar.

Perjalanan dapat dimulai dari makam Syekh Amrullah, ayah Inyiak Rasul. Letaknya tidak jauh dari Khutub Khannah. Dari sekitar makam, pengunjung dapat menyaksikan pemandangan Danau Maninjau dari ketinggian: hamparan air yang tenang, lengkung bukit yang memeluk danau, dan lanskap kampung yang menyimpan sejarah panjang. Di sana juga terdapat gonjong rumah gadang peninggalan Yus Datuak Papatiah, yang menambah kekayaan visual dan kultural kawasan tersebut.

Dari makam Syekh Amrullah, wisatawan dapat melanjutkan perjalanan ke Khutub Khannah HAKA. Di tempat ini, mereka dapat mengenal Inyiak Rasul melalui manuskrip, edisi cetakan lama, karya-karya polemik, dan informasi tentang dunia Islam Minangkabau awal abad ke-20. Khutub Khannah dapat menjadi ruang yang memperlihatkan bagaimana ulama bekerja dengan ilmu, tulisan, organisasi, dan keberanian berpikir.

Setelah itu, perjalanan dilanjutkan ke Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka. Di sana, pengunjung bertemu dengan generasi berikutnya: Hamka sebagai ulama, sastrawan, sejarawan, pemikir, dan tokoh bangsa. Dengan demikian, wisatawan tidak hanya mengunjungi tiga tempat, tetapi membaca tiga lapis sejarah: Syekh Amrullah, Inyiak Rasul, dan Buya Hamka. Dari ayah, anak, hingga cucu; dari surau, khutub khannah, hingga dunia sastra dan pemikiran Indonesia modern.

Inilah yang saya maksud dengan “Wisata Trio Amrullah”: wisata sejarah, wisata ilmu, wisata keluarga ulama, dan wisata kebudayaan Minangkabau yang menyatu dengan keindahan Danau Maninjau.

Menyeberangi Danau Menyambung Ingatan

Yang menarik, jalur ini dapat dikembangkan secara kreatif. Dari Khutub Khannah menuju Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka, wisatawan dapat menempuh perjalanan melalui danau dengan menggunakan ponton yang sudah dimiliki oleh KPGH. Bayangkan sebuah pengalaman wisata yang tidak hanya memindahkan tubuh dari satu tempat ke tempat lain, tetapi juga memindahkan kesadaran: dari naskah ke lanskap, dari sejarah ke air, dari ruang baca ulama ke rumah kelahiran seorang sastrawan besar.

Maninjau memiliki semua unsur untuk itu: danau yang indah, sejarah ulama yang kuat, rumah kelahiran tokoh nasional, tradisi naskah, komunitas muda, dan lanskap kampung yang masih menyimpan cerita. Yang diperlukan adalah cara membaca dan mengemasnya secara lebih utuh, agar wisata tidak berhenti pada pemandangan, tetapi juga menyentuh pengetahuan.

Permulaan dari Sebuah Pintu Kecil

Pameran manuskrip syair ini hanyalah salah satu pintu masuk. Tetapi kadang-kadang, sebuah pintu kecil dapat membuka ruang yang luas. Dari pameran ini, kita dapat mulai membayangkan kembali Khutub Khannah sebagai pusat kegiatan kebudayaan. Bukan hanya tempat menyimpan peninggalan, tetapi ruang belajar, ruang diskusi, ruang pelatihan membaca naskah, ruang pamer berkala, dan simpul wisata intelektual Maninjau.

Saya percaya, pelestarian tidak cukup dengan menyelamatkan benda. Pelestarian harus menghidupkan hubungan. Hubungan antara naskah dan pembaca. Antara ulama dan generasi muda. Antara ruang sejarah dan komunitas lokal. Antara danau dan ingatan. Antara warisan keluarga Amrullah dan masa depan Maninjau.

Di titik itulah pameran ini menemukan makna yang lebih luas. Ia bukan sekadar peristiwa sepuluh hari, 5–15 Juni 2026. Ia adalah usaha kecil untuk mengembalikan suara syair ke ruang publik, mengembalikan Khutub Khannah ke peta ingatan masyarakat, dan mengembalikan manuskrip kepada kehidupan.

Sebagai kurator, saya melihat pameran ini bukan sebagai akhir, tetapi sebagai permulaan. Permulaan bagi Nofri Duino Zora untuk terus menekuni dunia naskah. Permulaan bagi KPGH untuk semakin percaya diri membangun ekosistem kebudayaan lokal. Permulaan bagi Khutub Khannah HAKA untuk kembali dikenal sebagai ruang ilmu. Permulaan bagi Maninjau untuk mengembangkan wisata yang tidak hanya indah dilihat, tetapi juga dalam untuk dipahami.

Syair-syair lama itu mungkin ditulis di atas kertas yang telah menguning. Tetapi pesan yang dibawanya belum menguning. Ia masih segar untuk zaman kita: bahwa ilmu perlu disampaikan dengan kelembutan, bahwa perbedaan perlu dijaga dengan adab, bahwa cinta kepada Rasulullah perlu dirawat dalam ingatan, bahwa bencana perlu dibaca dengan rendah hati, dan bahwa warisan budaya perlu dikembalikan kepada masyarakat.

Pada akhirnya, pameran ini ingin mengatakan sesuatu yang sederhana: syair belum selesai berbicara. Khutub Khannah belum selesai menyimpan gema. Maninjau belum selesai menceritakan dirinya. Tugas kita adalah mendengarkannya kembali.

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.
Berita Lainnya

Rekomendasi