Senin 06 Jul 2026 14:15 WIB

Mengais Rezeki di Negeri Orang: Dilema Pekerja Perempuan di Tengah Badai PHK

Saatnya slogan save migration diubah menjadi smart migration

Pekerja perempuan memproduksi alat pelindung diri sebuah perusahaan garmen. ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/aww.
Foto: ANTARA/M RISYAL HIDAYAT
Pekerja perempuan memproduksi alat pelindung diri sebuah perusahaan garmen. ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/aww.

Oleh: Sri Suwarsi, Guru Besar Manajemen Sumber Daya Manusia FEB Universitas Islam Bandung dan pemerhati Migran Worker Indonesia.

REPUBLIKA.CO.ID, Di tengah meningkatnya gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) yang melanda berbagai daerah industri di Indonesia, terdapat kisah-kisah tersembunyi dan senyap yang jarang menjadi perhatian publik. Namun kisah ini terasa membekas kuat di hati Mbak Mira (nama samaran), kisah seorang ibu rumah tangga yang muram kala itu, seperti terkena sambaran petir di siang bolong, ketika mendengar suaminya harus kehilangan pekerjaan.

Sementara dengan pesangon yang minim dan tabungan yang relatif kecil, sang suami harus membiayai kebutuhan rumah tangga sehari-hari, dengan empat orang anak. Anak yang terkecilnya berusia delapan bulan, dan si sulung di kelas 8 SMP. 

Kisah itu bukan hanya tentang suami yang kehilangan pekerjaan, tetapi juga tentang para perempuan yang harus mengambil keputusan sulit: tetap tinggal bersama keluarga yang sedang menghadapi kesulitan ekonomi atau berangkat ke luar negeri untuk mencari nafkah. Begitu cerita pembuka di sore hari penulis dengan seorang Purna Pekerja Migran Perempuan sambil menyeruput kopi  dan camilan di café sekitar kampus Unisba, beberapa waktu lalu.

Cerita Mbak Mira mewakili cerita dari kaum perempuan lainnya yang terpaksa mencari nafkah, menjadi tulang punggung keluarga. Beruntung Mbak Mira saat ini setelah bekerja di luar negeri, yakni di Arab Saudi, nasibnya berubah. Dia menjadi salah satu instruktur  pada sebuah lembaga training persiapan calon tenaga kerja ke luar negeri dan sekali-kali mendapatkan order katering olahan khas Timur tengah.

Mbak Mira juga didapuk menjadi pemandu wisata kelompok wisatawan asal Timur Tengah, karena Mbak Mira  sangat fasih berbahasa Arab.  Walau kisah pilu pernah dialaminya yaitu ketika harus berurusan dengan polisi, dan akhirnya dipenjara gara-gara berkelahi dengan seorang pria asing yang mencoba melecehkannya. Beruntung hanya dipenjara selama tiga hari, karena mendapat solidaritas rekan-rekannya untuk mengumpulkan uang denda untuk pembebasannya.

Kisah Mbak Mira hanya sekelumit kisah sebagian para pekerja migran perempuan. Kisah-kisah tersebut akan penulis sampaikan dalam buku tersendiri, agar menjadi inspirasi dan pegangan para kaum perempuan di negeri orang. Ternyata saat ini para perempuan Indonesia sudah mengglobal, berkat cerita dari mulut ke mulut atau bahkan melalui media sosial tentang peluang kerja di negeri orang.

Walaupun minim pendidikannya dan banyak di antara mereka tersebar di negara-negara yang jauh. Contoh lain, yaitu Mbak Emi. Saat ini Mbak Emi bekerja di Italia. Dia sempat berkonsultasi dengan penulis terkait putrinya yang kuliah di salah satu universitas di Jakarta. Lalu, harus memutuskan untuk pindah ke universitas di Bali.

Luar biasa perjuangan Mbah Emi, sebagai orang tua tunggal dengan dua orang putri yang saat ini sedang kuliah, dan satu putra yang masih sekolah di SMA. Mbak Emi rela menempuh perjalanan yang sangat jauh Indonesia-Italia. Cerita singkat mengapa sampai bisa bekerja di sana, karena ajakan wisatawan dari Italia yang sering bolak-balik ke Bali, dan Mbak Emi bekerja di salah satu restoran di Bali saat itu.

Kemudian pasangan lansia Italia itu mengajak tinggal di sana, dengan gaji yang besar dan akhirnya sejak 2017 Mbak Emi tinggal di sana. Kepada penulis melalui telepon, Mbak Emi mengaku kangen dengan Tanah Air, namun harus bertahan demi pendidikan putra-putrinya. Dalam perbincangan terakhir dengan penulis, Mbak Emi mengaku sedang ngulek sambal matah sebagai ekspresi kerinduannya terhadap masakan Bali.

Begitulah kisah-kisah perjuangan para perempuan. Bagi sebagian keluarga, PHK yang menimpa suami bukan sekadar kehilangan penghasilan bulanan. PHK sering kali menjadi titik awal ketidakpastian ekonomi rumah tangga.

Cicilan harus tetap dibayar, biaya pendidikan anak tidak bisa ditunda. Sementara kebutuhan hidup sehari-hari terus berjalan. Dalam kondisi seperti ini, banyak perempuan yang sebelumnya berperan sebagai ibu rumah tangga atau pekerja informal, mulai mempertimbangkan bekerja sebagai pekerja migran di luar negeri.

Keputusan tersebut tentu tidak mudah. Di satu sisi, kesempatan bekerja di luar negeri menawarkan harapan baru. Penghasilan yang diperoleh di negara tujuan seperti Taiwan, Hong Kong, Singapura, atau negara-negara Timur Tengah sering kali jauh lebih besar dibandingkan peluang kerja yang tersedia di daerah asal.

Bagi keluarga yang sedang terpuruk akibat PHK, bekerja di luar negeri menjadi jalan keluar yang dianggap paling realistis. Namun di sisi lain, keputusan itu menyisakan dilema yang mendalam. Perempuan yang berangkat bekerja ke luar negeri harus meninggalkan anak-anak yang masih membutuhkan perhatian dan pendampingan.

Mereka juga harus meninggalkan suami yang sedang berjuang menghadapi tekanan psikologis akibat kehilangan pekerjaan. Tidak sedikit keluarga yang harus menjalani hubungan jarak jauh selama bertahun-tahun demi mempertahankan keberlangsungan ekonomi rumah tangga.

Fenomena ini menunjukkan bahwa di balik angka statistik pekerja migran yang terus bertambah, yang mampu menjadi penopang ekonomi keluarga, juga menambah devisa negara, terdapat pengorbanan sosial yang tidak kecil. Ketika seorang ibu memilih mengais rezeki di negeri orang, sesungguhnya ia sedang menanggung beban ganda. Selain memikul tanggung jawab ekonomi keluarga, ia juga harus menghadapi kerinduan terhadap keluarga yang ditinggalkan, dan juga kadang kurang beruntung di perantauan, karena perlakuan majikannya.

Dalam banyak kasus, keputusan para perempuan menjadi pekerja migran bukanlah pilihan pertama, melainkan pilihan terakhir, setelah sekian pertimbangan sudah dilakukan. Banyak perempuan berangkat karena kesempatan kerja yang layak di daerah asal semakin terbatas, kalaupun ada upahnya sangat minim dan tidak layak. Ketika suami terkena PHK dan lapangan kerja baru sulit ditemukan, migrasi menjadi strategi bertahan hidup yang tidak bisa terhindarkan.

Di sinilah perlunya kehadiran negara dan pemerintah dalam hal perlindungan terhadap pekerja yang terkena PHK, tidak cukup hanya melalui bantuan sosial atau jaminan kehilangan pekerjaan. Yang lebih penting adalah menciptakan peluang kerja baru yang sifatnya padat karya, program pelatihan keterampilan baru yang sesuai dengan kebutuhan industri, serta pemberdayaan ekonomi keluarga agar migrasi ke luar negeri benar-benar menjadi pilihan, bukan keterpaksaan.

Menjadi pilihan karena mereka berangkat ke luar negeri dengan kompetensinya. Beberapa kali penulis terlibat dalam penyiapan calon pekerja migran dalam bentuk pengabdian masyarakat.  Mereka sangat membutuhkan kompetensi sesuai dengan pekerjaan yang akan dikerjakan di negara penempatan. Untuk itu dibutuhkan para instruktur yang punya pengalaman atau sebagai purnamigran di bidang pekerjaan dan di negara yang sesuai.

Dengan begitu, maka akan terjadi proses transfer pengetahuan (tacit knowledge) dan ini sangat dibutuhkan. Selain itu juga dibutuhkan pembekalan etika kerja, bahasa, pengelolaan uang dan juga kewirausahaan.

Pemerintah telah mencanangkan sebuah slogan save migration, dimana proses migrasi harus mendapatkan sistem perlindungan yang baik, yang dimulai dari proses perekrutan, pelatihan, penempatan, perlindungan selama bekerja, hingga kembali ke Tanah Air. Jangan sampai mereka yang berangkat untuk menyelamatkan ekonomi keluarga, justru menghadapi persoalan baru berupa eksploitasi, kekerasan, atau pelanggaran hak-hak pekerja, atau bahkan ada  yang tidak kembali ke Tanah Air.

Menurut hemat penulis, slogan save migration sudah harus diubah menjadi slogan smart migration untuk menjadikan poses migrasi sebagai strategi pemerintah dalam membangun ketahanan ekonomi masa depan. Jika ada waktu, penulis akan lanjutkan dengan menulis konsep ini dengan detail dalam ruang yang lebih luas. 

Terakhir dari tulisan ini, bahwa ketika seorang perempuan Indonesia memutuskan meninggalkan rumah untuk bekerja ke luar negeri, sesungguhnya mereka sedang menunjukkan daya juang yang luar biasa sebagai seorang perempuan. Itulah sejatinya sebuah energi seorang ibu yang berani karena kondisi terpaksa, atau istilah the power of emak-emak.

Di balik senyum samar saat keberangkatan, tersimpan harapan besar agar anak-anaknya tetap bisa sekolah, kebutuhan keluarga tetap terpenuhi, dan masa depan yang lebih baik dapat diraih. Pada akhirnya, dilema pekerja migran perempuan adalah cermin dari tantangan ketenagakerjaan yang masih harus kita hadapi. Selama PHK terus meningkat dan kesempatan kerja yang layak masih terbatas di negeri sendiri, akan selalu ada perempuan-perempuan tangguh yang memilih berpisah dengan keluarga demi mengais rezeki di negeri orang.

Mereka berangkat bukan karena ingin pergi, tetapi karena keadaan yang memaksa untuk bertahan hidup. Selamat berjuang wahai perempuan, semoga lelahmu akan menjadi bahagiamu kelak di hari tua.

 

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.
Berita Lainnya

Rekomendasi