
Oleh: Prof. Kuswaji Dwi Priyono, M.Si, Guru Besar Geografi UMS
REPUBLIKA.CO.ID, Beberapa pekan terakhir masyarakat di berbagai daerah mulai mengeluhkan suhu udara yang terasa semakin menyengat. Aktivitas di luar ruangan menjadi lebih melelahkan, kebutuhan air minum meningkat, dan penggunaan pendingin ruangan semakin tinggi. Di media sosial, tidak sedikit warga yang bertanya-tanya apakah Indonesia sedang mengalami gelombang panas seperti yang terjadi di sejumlah negara. Pertanyaan tersebut menunjukkan masyarakat semakin menyadari adanya perubahan kondisi iklim yang mereka rasakan secara langsung.
Fenomena ini perlu disikapi dengan bijak. Indonesia memang memiliki karakter iklim tropis yang berbeda dengan kawasan subtropis seperti Eropa, Amerika Utara, atau Timur Tengah. Karena itu, istilah “gelombang panas” tidak selalu dapat digunakan dengan pengertian yang sama. Namun demikian, perubahan iklim global telah meningkatkan peluang terjadinya periode suhu udara yang lebih tinggi dari biasanya, terutama pada musim kemarau, ketika langit cerah, curah hujan rendah, dan pengaruh El Niño memperkuat kondisi kering.
Dari sudut pandang geografi, peningkatan suhu udara bukanlah fenomena yang berdiri sendiri. Ia merupakan hasil interaksi yang kompleks antara atmosfer, kondisi permukaan bumi, penggunaan lahan, kepadatan penduduk, serta aktivitas manusia. Dengan kata lain, panas yang kita rasakan hari ini bukan hanya dipengaruhi oleh Matahari, tetapi juga oleh cara kita mengelola ruang dan lingkungan.
Jawa Tengah menjadi salah satu wilayah yang perlu memberikan perhatian lebih terhadap kondisi ini. Pertumbuhan kawasan perkotaan berlangsung cukup pesat, terutama di wilayah Semarang, Solo Raya, dan koridor perkotaan lainnya. Alih fungsi lahan pertanian menjadi kawasan permukiman, pusat perdagangan, kawasan industri, serta pembangunan infrastruktur memang menjadi bagian dari proses pembangunan. Namun, apabila tidak diimbangi dengan penyediaan ruang terbuka hijau yang memadai, maka kawasan tersebut akan semakin mudah menyerap dan menyimpan panas.
Fenomena ini dikenal sebagai Urban Heat Island atau pulau panas perkotaan. Permukaan yang didominasi beton, aspal, dan bangunan akan menyerap radiasi Matahari lebih besar dibandingkan lahan yang masih ditutupi vegetasi. Pada malam hari pun panas tersebut dilepaskan secara perlahan sehingga udara tetap terasa gerah. Tidak mengherankan apabila masyarakat di pusat kota sering merasakan suhu yang lebih tinggi dibandingkan daerah pinggiran yang masih memiliki banyak pepohonan dan lahan terbuka.
Solo Raya merupakan contoh menarik untuk memahami fenomena tersebut. Kota Surakarta bersama Kabupaten Sukoharjo, Klaten, Karanganyar, Boyolali, Sragen, dan Wonogiri mengalami perkembangan wilayah yang cukup dinamis. Pembangunan pusat permukiman baru, kawasan perdagangan, jalan, serta kawasan industri terus berlangsung.
Di sisi lain, sebagian ruang terbuka mengalami penyusutan. Akibatnya, kemampuan lingkungan dalam menyerap panas dan menjaga keseimbangan suhu semakin berkurang.
Sebagai kawasan yang berada di dataran rendah dan dikelilingi oleh pegunungan, Solo Raya memiliki karakter iklim yang relatif unik. Wilayah lereng Merapi, Merbabu, maupun Lawu masih memiliki suhu yang relatif sejuk karena pengaruh ketinggian dan tutupan vegetasi. Sebaliknya, kawasan perkotaan dan dataran rendah lebih rentan mengalami peningkatan suhu, terutama pada musim kemarau. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa faktor geografis sangat menentukan karakter panas suatu wilayah.
Dampak suhu tinggi tidak hanya dirasakan dari sisi kenyamanan. Sektor pertanian juga menghadapi tantangan yang semakin besar. Kekurangan air irigasi, meningkatnya kebutuhan air tanaman, serta risiko penurunan produktivitas menjadi ancaman nyata.