
Oleh: Pramono, Guru Besar Kajian Manuskrip Universitas Andalas dan Kurator Pameran Manuskrip Syair Islam Minangkabau
REPUBLIKA.CO.ID, Ada tempat-tempat tertentu yang tidak hanya menyimpan benda, tetapi juga menyimpan gema. Ia tampak sebagai bangunan, tetapi sesungguhnya adalah ruang ingatan. Ia mungkin sunyi pada hari-hari biasa, tetapi di dalam kesunyiannya tersimpan suara panjang para ulama, murid, pembaca, penyalin, dan masyarakat yang pernah menjadikan ilmu sebagai jalan hidup.
Bagi saya, Khutub Khannah Haji Abdul Karim Amrullah di Sungai Batang, Maninjau, adalah salah satu tempat seperti itu.
Pada 5–15 Juni 2026, ruang bersejarah ini akan menjadi tempat penyelenggaraan “Pameran Manuskrip Syair Islam Minangkabau”. Saya diminta menjadi kurator oleh Nofri Duino Zora, seorang anak muda yang sedang tumbuh sebagai peneliti dan peminat khazanah naskah (manuskrip) di Sumatera Barat. Ia mungkin masih tergolong pendatang baru dalam dunia pernaskahan, tetapi justru di situlah letak harapannya.
Dunia naskah tidak boleh hanya diwarisi oleh nama-nama lama. Ia membutuhkan generasi baru yang berani mendekat, belajar, bertanya, dan bekerja dengan tekun.
Nofri memperoleh fasilitasi dari Dana Indonesiana Kementerian Kebudayaan tahun 2025 melalui kategori Pendayagunaan Ruang Publik. Judul kegiatannya “Moderasi melalui Syair: Pendayagunaan Manuskrip Sastra Islam Minangkabau di Ruang Publik”. Kegiatan yang terasa sederhana, tetapi memuat gagasan yang sangat penting: bagaimana manuskrip yang selama ini tersimpan, rapuh, sulit dibaca, dan sering berjarak dari publik, dapat kembali hadir sebagai sumber pengetahuan, percakapan, dan nilai bersama.