
Oleh: Endang Yusro, Kepala SMA Muhammadiyah Kota Serang
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Akhir pekan ini 8 Februari 2026, media sosial diramaikan oleh berita mengenai berdirinya tempat ibadah umat Islam, yaitu masjid, di Negeri Tirai Bambu. Salah satu postingan video yang beredar menjadi sorotan banyak pihak, dan momen ini mengingatkan saya pada sebuah ungkapan yang sangat dikenal dalam dunia Islam: “Tuntutlah ilmu sampai ke Negeri China” .
Banyak yang mempertanyakan status kalimat tersebut apakah termasuk hadis nabi atau sekadar pendapat para ulama. Sebagian orang enggan menyebutnya sebagai hadis, mungkin karena ada rasa kurang berkenan terhadap etnis atau negara tersebut. Para ahli hadis seperti Imam Al-Sakhawi, Imam Al-Baihaqi, dan Ibnu Hibban sepakat bahwa kalimat ini bukan hadis sahih; sebagian menggolongkannya sebagai dhaif (lemah), bahkan ada yang menyebut tidak memiliki asal sanad yang benar, sehingga lebih tepat disebut pendapat atau ungkapan masyhur di kalangan ulama, bukan sabda Rasulullah Saw.
Meski begitu, maknanya tetap diakui bernilai: menuntut ilmu wajib sejauh apa pun letaknya, sebagaimana dijelaskan oleh Imam Abdullah Al-Haddad, bahwa sebutan “China” dalam ungkapan itu bermakna tempat yang paling jauh dan sulit dijangkau, sebagai gambaran semangat mencari ilmu tanpa batas .
Terlepas dari perdebatan mengenai keabsahan kalimat itu, satu hal yang kini menjadi kenyataan nyata, apa yang tersirat di dalam ungkapan itu telah terbukti kebenarannya. China kini menguasai berbagai sektor kehidupan di dunia. Kita bisa melihat buktinya di mana-mana. Mulai dari produk makanan, kosmetik, peralatan elektronik, hingga perlengkapan ibadah umat Islam pun tak luput dari sentuhan tangan pekerja di sana.
Jubah, kopiah, sajadah, hingga sorban yang kita gunakan sehari-hari, sering kali kita temukan tulisan “Made in China” di atasnya. Hal ini sejalan dengan firman Allah SWT dalam QS. Saba: 28, yaitu: “Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan”. Ayat ini mengajarkan bahwa Islam dan dampak kebaikannya akan menyebar ke segala penjuru dunia, tanpa dibatasi wilayah atau bangsa.
Dan sekarang, kabar semakin menguat, yaitu Islam berkembang pesat di negara tersebut, seperti ditandai dengan berdirinya banyak masjid dan bertambahnya jumlah pemeluk agama Islam. Hal ini adalah wujud nyata dari janji Allah dalam QS. Al-Anbiya: 107, yaitu “Dan Kami tidak mengutus engkau, melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam”
Kemudian rahmat dan hidayah-Nya sampai juga ke negeri yang dulu dianggap paling jauh itu. Bahkan Rasulullah Saw. pernah bersabda dalam HR. Muslim: “Allah akan menghimpun seluruh dunia hingga aku bisa melihat bagian timurnya dan bagian baratnya, dan Allah akan menjadikan kekuasaan umatku atas seluruh dunia”, yang maknanya mencakup tersebarnya nama Islam dan tempat ibadah di setiap penjuru bumi.