Jumat 29 May 2026 13:51 WIB

Saat Haji Bertransformasi: Saudi Vision 2030 dan Masa Depan Ekosistem Ekonomi Umat

Haji tidak lagi hanya dipahami sebagai ritual spiritual tahunan.

Suasana jamaah haji berjalan menuju Jamarat untuk melempar jumrah aqobah di Mina, Makkah, Arab Saudi, Rabu (27/5/2026). Lempar jumrah aqobah pada 10 Zulhijah merupakan salah satu wajib haji yang dilakukan sebagai simbol pengusiran setan yang pernah dilakukan Nabi Ibrahim AS.
Foto: ANTARA FOTO/Citro Atmoko
Suasana jamaah haji berjalan menuju Jamarat untuk melempar jumrah aqobah di Mina, Makkah, Arab Saudi, Rabu (27/5/2026). Lempar jumrah aqobah pada 10 Zulhijah merupakan salah satu wajib haji yang dilakukan sebagai simbol pengusiran setan yang pernah dilakukan Nabi Ibrahim AS.

Oleh: Setiawan Budi Utomo, Peneliti, Pemikir dan Praktisi Kebijakan Sektor Jasa Keuangan, Dosen Tamu Pascasarjana di PTN dan PTS

REPUBLIKA.CO.ID -- Di tengah dunia Islam yang terus berubah, haji tidak lagi hanya dipahami sebagai ritual spiritual tahunan. Arab Saudi kini menjadikan ekosistem haji dan umrah sebagai bagian penting dari transformasi ekonomi nasional melalui Saudi Vision 2030. Perubahan ini bukan sekadar pembangunan infrastruktur atau modernisasi layanan jamaah, tetapi juga pergeseran besar cara dunia memandang hubungan antara spiritualitas, teknologi, dan ekonomi.

Perluasan Masjidil Haram, kereta cepat Haramain, digitalisasi visa, layanan smart hajj, hingga integrasi kecerdasan artifisial menjadi bagian dari strategi besar Saudi untuk mengurangi ketergantungan pada minyak dan memperkuat ekonomi berbasis jasa serta pariwisata religi. Saudi bahkan menargetkan kapasitas umrah mencapai 30 juta jamaah per tahun pada 2030.

Namun menariknya, di tengah modernisasi besar tersebut, jumlah jamaah haji 2025 tercatat sekitar 1,67 juta orang dari 171 negara, lebih rendah dibanding tahun sebelumnya yang mencapai sekitar 1,83 juta jamaah. Penurunan ini dipengaruhi pengetatan regulasi, pengawasan visa ilegal, cuaca ekstrem, dan meningkatnya biaya perjalanan global. Fakta ini menunjukkan bahwa transformasi haji tidak selalu identik dengan lonjakan jumlah jamaah, tetapi juga menyangkut aspek keamanan, tata kelola, dan keberlanjutan layanan.

Ketika Haji Menjadi Mesin Ekonomi

Dalam perspektif teori experience economy dari Pine dan Gilmore, nilai ekonomi modern tidak lagi hanya berasal dari barang dan jasa, tetapi dari pengalaman emosional dan spiritual. Haji kini berkembang menjadi bagian dari global religious experience economy yang melibatkan hotel, transportasi, logistik, layanan kesehatan, fintech, kuliner halal, hingga ekonomi digital berbasis data jamaah.

Artinya, sektor haji tidak lagi berdiri sendiri sebagai aktivitas ibadah musiman. Ia telah menjadi salah satu mesin ekonomi baru yang menghubungkan industri keuangan, teknologi, pariwisata, dan perdagangan global.

Transformasi ini sekaligus memperlihatkan bagaimana spiritualitas di era modern juga menjadi bagian dari perebutan nilai tambah ekonomi dunia. Saudi membaca perubahan itu dengan sangat cepat. Negara tersebut tidak hanya membangun infrastruktur fisik, tetapi juga membangun ekosistem layanan religius yang semakin terintegrasi dan berbasis teknologi tinggi.

Kontribusi sektor nonmigas Saudi terhadap PDB terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir, dan sektor pariwisata religi menjadi salah satu pilar pentingnya. Dalam konteks geopolitik ekonomi, haji kini bukan hanya soal pelayanan umat, tetapi juga instrumen soft power dan penguatan posisi Saudi dalam ekonomi Islam global.

 

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement