Rabu 27 May 2026 05:49 WIB

Ayah Teladan

Nabi Ibrahim membina keluarga sesuai tuntunan Allah dan Rasul-Nya.

Jamaah haji melempar jumrah aqobah di Jamarat, Makkah, Arab Saudi, Ahad (16/6/2024). Lempar jumrah aqobah merupakan salah satu syarat yang wajib dilakukan pada ibadah haji sebagai simbol pengusiran setan yang pernah dilakukan Nabi Ibrahim AS.
Foto: EPA-EFE
Jamaah haji melempar jumrah aqobah di Jamarat, Makkah, Arab Saudi, Ahad (16/6/2024). Lempar jumrah aqobah merupakan salah satu syarat yang wajib dilakukan pada ibadah haji sebagai simbol pengusiran setan yang pernah dilakukan Nabi Ibrahim AS.

Oleh: Kepala Divisi Humas dan Dakwah Pesantren Husnul Khotimah Kuningan Jawa Barat

REPUBLIKA.CO.ID, Kaum Muslimin akan kembali merayakan Hari Raya Idul Adha atau yang sering disebut dengan Idul Kurban. Hari Raya Idul Kurban erat kaitannya dengan sejarah perjalanan keluarga Nabi Ibrahim AS yang sarat dengan nilai keteladanan. Selain sebagai suami teladan, Nabi Ibrahim AS juga sebagai sosok ayah teladan. Allah SWT berfirman, 

قَدۡ كَانَتۡ لَكُمۡ أُسۡوَةٌ حَسَنَةٞ فِيٓ إِبۡرَٰهِيمَ وَٱلَّذِينَ مَعَهُۥٓ 

Baca Juga

“Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia.” (QS Al-Mumtahanah [60]: 4).

Nabi Ibrahim AS merupakan kepala keluarga. Ia membina keluarga sesuai tuntunan Allah dan Rasul-Nya. Sebagai suami, ia berlaku adil kepada kedua istrinya. Kedua istrinya, Sarah dan Hajar taat kepadanya. Ketaatan istri ini tidak terlepas dari ketaatan suami kepada-Nya. 

Hal ini mengajarkan kepada kaum laki-laki (suami), jika ingin ditaati oleh istri, suami harus menjaga ketaatan kepada Allah SWT, bertanggung jawab, berkepribadian mulia, cinta keluarga, dan berperilaku sesuai tuntunan agama.

Sulit rasanya jika menginginkan istri taat dan salehah, sementara suami berakhlak tidak terpuji. Sia-sia suami menginginkan istrinya berubah ke arah yang lebih baik, sementara suami tidak mau merubah kebiasaan buruknya.

Sebagai ayah, Nabi Ibrahim AS tampil sebagai pendidik yang penuh dengan kasih sayang, demokratis dan menjadi teladan. Simak dialog Nabi Ibrahim AS sebagai ayah ketika menjalankan perintah Allah untuk menyembelih putranya. 

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ ٱلسَّعۡيَ قَالَ يَٰبُنَيَّ إِنِّيٓ أَرَىٰ فِي ٱلۡمَنَامِ أَنِّيٓ أَذۡبَحُكَ فَٱنظُرۡ مَاذَا تَرَىٰۚ قَالَ يَٰٓأَبَتِ ٱفۡعَلۡ مَا تُؤۡمَرُۖ سَتَجِدُنِيٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّٰبِرِينَ  

“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu.” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, Insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar” (QS Ash-Shaffat [37]: 102). 

Dalam dialog, terlihat Nabi Ibrahim sangat menyayangi anaknya dan bersifat demokratis. Sifat kasih sayang ini tergambar dari pilihan kata yang digunakan dalam memanggil anak. Ya bunayya (wahai anakku). Penggunaan kata “ya bunayya” merupakan panggilan kasih sayang. Lalu, Ibrahim meminta pendapat kepada sang anak ketika diperintah untuk menyembelihnya. 

Tampak jiwa demokratis, Nabi Ibrahim AS sebelumnya telah menanamkan nilai-nilai pendidikan kepada Ismail. Hal itu tidak terlepas dari doa, usaha, dan keteladanan yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim AS. 

رَبِّ هَبۡ لِي مِنَ ٱلصَّٰلِحِينَ  

 

 

 

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement