Senin 25 May 2026 19:44 WIB

Kita Terlalu Lama Belajar Menerima Paradoks Sebagai Kewajaran

Saatnya Indonesia berpihak terhadap rakyat kecil.

Presiden Prabowo Subianto (kanan) mengoperasikan mesin pemanen bersama Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman (ketiga kiri) dan Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan (kedua kiri) saat panen raya padi di Desa Randegan Wetan, Ligung, Majalengka, Jawa Barat, Senin (7/4/2025). Presiden Prabowo memimpin panen raya padi secara serentak bersama petani di 14 provinsi dan 157 kabupaten/kota sebagai upaya memperkuat ketahanan pangan nasional.
Foto: ANTARA FOTO/Dedhez Anggara
Presiden Prabowo Subianto (kanan) mengoperasikan mesin pemanen bersama Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman (ketiga kiri) dan Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan (kedua kiri) saat panen raya padi di Desa Randegan Wetan, Ligung, Majalengka, Jawa Barat, Senin (7/4/2025). Presiden Prabowo memimpin panen raya padi secara serentak bersama petani di 14 provinsi dan 157 kabupaten/kota sebagai upaya memperkuat ketahanan pangan nasional.

REPUBLIKA.CO.ID, Ada sesuatu yang perlahan membatu dalam perjalanan ekonomi Indonesia selama lebih dari dua dasawarsa terakhir yaitu kita terlalu lama belajar menerima paradoks sebagai kewajaran.

Kita melihat gunung-gunung dibabat dan berubah menjadi danau raksasa, kapal-kapal mengangkut mineral keluar negeri, jutaan hektare tanah menghasilkan kekayaan, angka pertumbuhan diumumkan setiap tahun, gedung-gedung menjulang di kota besar, tetapi pada saat yang sama kita juga melihat petani menjual gabah dengan cemas, nelayan pulang dengan solar mahal, anak-anak muda desa meninggalkan kampung karena pekerjaan tak tersedia, dan kelas menengah hidup dalam ketakutan diam-diam terhadap biaya pendidikan, kesehatan, serta masa depan yang makin mahal.

Baca Juga

Selama 22 tahun terakhir, ekonomi Indonesia memang bergerak. Tetapi dalam banyak hal, ia bergerak seperti mesin besar yang terlalu lama diarahkan untuk menjaga stabilitas, bukan keberanian mengubah struktur.

Kita membangun jalan, tetapi terlalu lambat membangun kedaulatan industri. Kita mengekspor kekayaan alam, tetapi terlalu lama mengimpor nilai tambah. Kita memuji investasi, tetapi sering lupa bertanya: setelah tambang habis, apa yang tersisa bagi rakyat sekitar?

Di banyak daerah, ironi itu terasa sangat nyata.

Tanah yang kaya justru melahirkan masyarakat yang miskin. Daerah penghasil batu bara tetap memilikisekolah rusak.

Kawasan tambang strategis masih menyisakan desa dengan air keruh dan jalan berlubang.

Sawit tumbuh luas, tetapi buruhnya hidup pas-pasan. Negeri maritim terbesar di dunia masih membuat nelayannya bertarung dengan pasar brutal dan harga yang tidak adil.

Dan yang paling menyakitkan: semua itu terlalu lama dianggap normal.

photo
Presiden Prabowo Subianto (kedua kiri) didampingi Menteri Koordinator Bidang Pangan (Menko Pangan) Zulkifli Hasan (kedua kanan) Wamen KKP Didit Herdiawan (kanan) berbincang dengan warga saat meninjau panen raya udang di lokasi Tambak Budidaya Udang Berbasis Kawasan (BUBK) Kebumen, Jawa Tengah, Sabtu (23/5/2026). Kawasan tambak seluas sekitar 100 hektare tersebut memiliki nilai produksi mencapai sekitar Rp67,2 miliar per siklus atau berpotensi menembus Rp134,4 miliar per tahun dan mampu menyerap ratusan tenaga kerja. - (ANTARA FOTO/Galih Pradipta)

 

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.
Berita Lainnya

Rekomendasi