
Oleh: DR. KH. Nanang Firdaus Masduki, Lc. MM, Pimpinan Syafana Islamic School BSD City www.home.syafana.sch.id, Pengasuh Syafana Islamic Boarding School BSD City, Alumni Universitas Al-Azhar Mesir, Jurusan Akidah Filsafat
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menatap sosok Kiai Haji Imam Jazuli hari ini, ingatan saya seperti memutar masa lalu, masa-masa menjadi aktifis mahasiswa di Kairo. Rutenya tiap hari hampir sama, antara kampus Al-Azhar, toko buku murah, Azbekiyah Atabah, Wisma Nusantara di Rabiah al Adawiyah. Bedanya, beliau tinggal di Hayyu Asyir, sementara saya tinggal di Madinatul Buuts.
Saat itu, kami biasa memanggilnya Izul. Kami sama-sama menjadi mahasiswa di Universitas Al-Azhar, Mesir. Fakultas dan jurusan yang sama, Akidah Filsafat. Dan, Izul adalah anomali. Di saat banyak mahasiswa memilih menekuni muqarar atau diktat kitab di apartemen, dia justru memilih jalur "berisik".
Dia aktivis tulen. Nafasnya ada di organisasi. Jejaknya berceceran di mana-mana: ICMI Orsat Cairo, KMNU Mesir, pers media mahasiswa, hingga Senat Ushuluddin PPMI. Belum lagi organisasi kedaerahan. Logikanya sederhana: kalau mau pintar, baca buku; kalau mau matang, berorganisasi.
Ajaibnya, meski jadwalnya sepadat jadwal kereta bawah tanah Kairo, akademiknya tak kedodoran. Dia lulus tepat waktu. Ini fenomena langka di kalangan aktivis Al-Azhar saat itu. Biasanya, kalau tidak lulusnya telat, ya organisasinya yang mandek. Izul sabet keduanya.
Dari Aktivis ke Pengusaha
Tahun 2000, jalan kami membelah. Dia ke Malaysia untuk pascasarjana, saya pulang ke tanah air. Kami kehilangan kontak. Enam tahun berselang, takdir mempertemukan kami di kawasan Fatmawati, Jakarta.
Semangatnya masih sama: menggebu, bicaranya cepat, dan gagasannya seringkali out of the box. Tapi ada yang berbeda. Izul bukan lagi aktivis kampus yang mengandalkan proposal. Dia telah menjelma menjadi pengusaha dan seorang "saudagar gagasan".
Ia mendirikan PT Fikruna dan Fikruna Center yang kantornya ada di Jakarta dan Bandung. Bukan sekadar bisnis, tapi jembatan ilmu. Dia membantu santri menembus universitas di ASEAN, Timur Tengah, hingga Eropa. Bukan cuma konsultasi, tapi diantar sampai gerbang kampus. Hal yang pada saat itu sepertinya belum pernah dilakukan oleh siapapun.
Lewat Fikruna Center, dia mengorkestrasi para dai lulusan Al-Azhar untuk masuk ke jantung BUMN dan Kementerian. Dia tahu betul kualitas kawan-kawannya, dan dia tahu ke mana kualitas itu harus disalurkan.
Melalui Fikruna Center itu Izul rupanya tidak mau sekadar kejar tayang menggelar ceramah agama yang masuk telinga kanan keluar telinga kiri, tapi berani ambil risiko melakukan investasi training serius untuk pengembangan SDM berbasis spiritual.