
Oleh Andi Firmansyah, Pengamat Kebijakan Korporasi
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sate Pak Romli. Warung sederhana di Jalan Lintas Barat Bengkulu-Lampung di Desa Sukaraja, Kabupaten Seluma, Bengkulu itu cukup ramai. Menu andalannya adalah sate, tetapi peminat tongseng juga tak sedikit.
Jika sore menjelang, halaman warung yang tidak luas itu banyak sepeda motor parkir. Beberapa lelaki memilih tetap duduk di atas jok sepeda motor sambil memainkan ponsel. Mereka menunggu istri atau mungkin anaknya yang mengantre di hadapan bara api yang sedang memberongot daging kambing atau daging ayam dalam tusukan.
Tulisan ini tidak akan membahas kelezatan atau resep sate Pak Romli. Tetapi seulas kisah tentang bisnis kuliner yang dijalankan lelaki asal Tanjungbintang, Lampung Selatan ini. Cerita jatuh bangunya warung sate Pak Romli cukup representatif mewakili banyak pelaku pasar di sekitarnya, bahkan denyut nadi ekonomi kawasan. Yakni, resonansi ekonomi kawasan sekitar wilayah operasional PTPN I. Salah satunya Desa Sukaraja, Kabupaten Seluma, Bengkulu yang terdapat satu unit kerja PTPN I Regional 7 berupa kebun dan pabrik karet Padang Pelawi.
Penulis singgah di warung sate itu sekira setahun yang lalu. Kedekatan asal daerah, yakni Lampung membuat Pak Romli begitu welcome ketika diajak mengobrol. Satu point of view yang tertangkap dari cerita dia adalah ketergantungan atau pengaruh atau resonansi cashflow PTPN I Kebun Padang Pelawi. Secara singkat dapat disimpulkan, warung satenya sangat bergantung kepada kondisi keuangan BUMN Perkebunan yang berada tak jauh dari tempatnya membuka usaha.
“Saya buka warung sate ini sudah puluhan tahun. Dulu, masa jayanya PTPN I (dulu PTPN VII) saya ikut jaya. Pas tahun berapa itu ya, sekitar 2015 lah, PTPN tidak baik-baik, saya ikut tidak baik-baik. Warung saya sempat tutup karena nggak laku, nggak ada yang beli. Jadi, kondisi ekonomi di sekitar sini ini ya tergantung dengan kondisi PTPN,” tutur Romli.
Analisis Romli memang lebih kepada studi asumsi, tetapi kebenarannya sangat valid. Dia menyebut, kawasan itu kini menjadi pusat ekonomi baru yang sangat bergairah sejak beberapa tahun terakhir. Indikator yang dipakai pedagang sate ini cukup sederhana, yakni jumlah sate dan tongseng yang terjual setiap hari yang berkorelasi langsung dengan jumlah uang yang berhasil dia dapatkan pada hari itu.
Romli juga mengidentifikasi pangsa, strata, siapa, dan kerja apa pembelinya, terlebih pelanggan setianya. Dengan komunikasi sederhana, ia menyimpulkan mayoritas pelanggan loyalnya adalah karyawan PTPN I Regional 7 Kebun Padang Pelawi.
Urutan nomor dua adalah para pelaku usaha yang sudah cukup mapan di kawasan itu. Di belakangnya ada para “juragan baru” pemilik kebun kelapa sawit dan karet di daerah itu seiring harga komoditas yang cukup menjanjikan. Sedangkan pembeli dari para pelintas yang singgah tidak terlalu banyak.
Indikator pasar kawasan adalah data paling jujur dan valid untuk memberi nilai kepada pengaruh suatu entitas usaha bagi lingkungannya. Sample pasar atau Kawasan ekonomi baru Sukaraja di dekat Kebun Padang Pelawi cukup merepresentasikan influence ekonomi aktivitas bisnis PTPN I di semua wilayah kerja. Potret itu sangat kentara karena hampir semua wilayah kerja teknis perkebunan PTPN I memang berada di lipatan-lipatan wilayah yang jauh dari keramaian lama.
Denyut nadi ekonomi kawasan seputar wilayah kerja PTPN I cukup progresif dalam setahun terakhir. Transformasi bisnis PTPN I difokuskan pada restrukturisasi fundamental, penguatan kelembagaan, dan diversifikasi bisnis menjadi subholding yang solid sejak 2023. Langkah ini mencakup digitalisasi, optimalisasi aset non-core, dan pengelolaan komoditas teh, kopi, serta karet untuk meningkatkan laba bersih, efisiensi operasional, dan keberlanjutan (ESG). Cashflow perusahaan di semua unit kerja lebih lancar sehingga menciptakan ekosistem ekonomi kawasan semakin bergairah.