Kamis 12 Mar 2026 08:56 WIB

Belajar dari Fathu Makkah: Strategi Damai Jaga Stabilitas Ekonomi

Hikmah Fathu Makkah kian relevan bagi dunia kini yang hadapi ketegangan geopolitik

ILUSTRASI Fathu Makkah terjadi pada 20 Ramadhan tahun kedelapan Hijriah.
Foto: ANTARA FOTO/Andika Wahyu
ILUSTRASI Fathu Makkah terjadi pada 20 Ramadhan tahun kedelapan Hijriah.

Oleh: Faozan Amar*)

Pada 10 hari terakhir Ramadhan, umat Islam sering diingatkan pada salah satu peristiwa monumental dalam sejarah Islam, yakni Fathu Makkah yang terjadi pada 20 Ramadhan tahun kedelapan Hijriah. Peristiwa ini tidak hanya menjadi tonggak kemenangan umat Islam, tetapi juga memberikan pelajaran strategis tentang kepemimpinan, diplomasi, dan pengelolaan konflik yang elegan.

Ketika Nabi Muhammad SAW memasuki Makkah dengan sekitar 10 ribu pasukan, dunia mungkin membayangkan sebuah penaklukan penuh pertumpahan darah. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Kota Makkah dapat dikuasai tanpa perang besar. Rasulullah SAW bahkan memberikan jaminan keamanan bagi masyarakat Makkah, termasuk bagi mereka yang sebelumnya memusuhi Islam.

Baca Juga

Kebijakan ini menunjukkan, kemenangan sejati tidak selalu dicapai melalui konfrontasi terbuka, melainkan melalui strategi yang matang, kepemimpinan moral, dan kemampuan mengelola situasi secara bijaksana. Dalam konteks modern, peristiwa ini menjadi contoh klasik bagaimana strategi yang cerdas mampu menciptakan stabilitas yang berkelanjutan.

Strategi tanpa konfrontasi

Dalam perspektif strategi modern, pendekatan Rasulullah SAW saat Fathu Makkah sejalan dengan teori Indirect Approach yang dikemukakan oleh BH Liddell Hart (1954). Menurutnya, kemenangan strategis tertinggi bukanlah menghancurkan lawan secara frontal, melainkan menciptakan kondisi yang membuat lawan kehilangan kemampuan atau kemauan untuk bertarung.

Strategi Rasulullah SAW mencerminkan prinsip tersebut. Pergerakan pasukan dilakukan secara terencana dan relatif senyap sehingga kaum Quraisy tidak memiliki waktu untuk mempersiapkan perlawanan yang signifikan. Ketika kekuatan Islam tiba di Makkah, kondisi psikologis lawan sudah berubah. Perlawanan menjadi tidak lagi rasional.

Dalam kajian manajemen strategi modern, kemampuan membaca lingkungan eksternal merupakan faktor penting dalam menciptakan keunggulan strategis. Michael E Porter (1985) menjelaskan, organisasi atau negara yang mampu memahami struktur lingkungan dan memanfaatkan momentum strategis akan memiliki posisi kompetitif yang lebih kuat.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Republika Online (@republikaonline)

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement