Senin 16 Feb 2026 14:21 WIB

Merobohkan Hirarkisme dalam Transformasi Tata Kelola Haji dan Umrah

Pro dan kontra seputar fungsi asrama haji bagian dari proses deliberasi.

Sejumlah Jamaah calon haji mengikuti kegiatan manasik haji di anjungan Pantai Manakarra, Mamuju, Sulawesi Barat, Ahad (15/2/2026). Kantor Kementerian Agama Mamuju menggelar manasik haji yang diikuti sebanyak 240 orang untuk memberikan bimbingan jamaah calon haji yang akan diberangkatkan ke Tanah Suci pada Mei 2026 mendatang.
Foto: ANTARA FOTO
Sejumlah Jamaah calon haji mengikuti kegiatan manasik haji di anjungan Pantai Manakarra, Mamuju, Sulawesi Barat, Ahad (15/2/2026). Kantor Kementerian Agama Mamuju menggelar manasik haji yang diikuti sebanyak 240 orang untuk memberikan bimbingan jamaah calon haji yang akan diberangkatkan ke Tanah Suci pada Mei 2026 mendatang.

Oleh : H Ki Jal Atri Tanjung; Pengamat Kebijakan Publik

REPUBLIKA.CO.ID,Di tengah perubahan lanskap komunikasi publik, negara tidak lagi bisa berdiri terlalu jauh dari rakyatnya. Bahasa yang kaku, jarak yang hirarkis, dan pola komunikasi satu arah perlahan kehilangan relevansi. Publik hari ini menuntut pendekatan yang lebih egaliter, negara yang bersedia berdialog, bukan sekadar memberi instruksi.

Dalam konteks itulah gaya komunikasi Wakil Menteri Haji dan Umrah Republik Indonesia, Dahnil Anzar Simanjuntak, menarik untuk dibaca sebagai fenomena kepemimpinan publik yang berbeda.

Baca Juga

Dahnil kerap berbicara dengan cara yang apa adanya. Lugas kadang terasa bebas, bahkan sesekali menerabas batas-batas formalitas birokrasi. Bagi sebagian kalangan, gaya ini dianggap tidak konvensional. Di sisi lain, pendekatan tersebut justru memperlihatkan upaya merobohkan tembok hirarkisme yang selama ini membuat kebijakan terasa jauh dari masyarakat. Negara tidak lagi tampil sebagai otoritas yang berjarak, tetapi hadir dalam percakapan yang lebih setara.

Ia mencoba membangun kebebasan berdebat diruang digital yang tidak dilakukan oleh pejabat lain, dengan ringan  meladeni semua debat bahkan dengan bahasa ala "netizen", yang juga kerapkali dimanfaatkan  untuk menyerang secara  personal. Tapi bagi dia justru dimanfaatkan sebagai ruang dialektika yang menyumbang ide semakin dalam masuk ke ruang-ruang debat kebijakan.

photo
Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Kloter (Bekasi) JKS dan Kertajati (KJT) memandu jamaah haji saat akan melakukan lempar jumrah pada gladi posko layanan operasional Arafah, Muzdalifah, Mina (Armuzna) Haji 1447H/ 2026 M di Asrama Haji Indramayu, Jawa Barat, Selasa (10/2/2026). Gladi posko yang diikuti 352 petugas PPIH Kloter (Bekasi) JKS dan Kertajati (KJT) tersebut untuk memantapkan kesiapan saat puncak pelaksanaan haji 2026 di Arab Saudi. - (ANTARA FOTO/Dedhez Anggara)

Salah satu diskursus yang memantik perdebatan publik Belakangan ini adalah gagasan opsi keberangkatan jemaah umrah melalui asrama haji dengan konsep One Stop Service. Wacana ini memunculkan beragam respons dukungan, kekhawatiran, hingga kritik terbuka. Dalam sejumlah penjelasan resmi, konsep tersebut ditegaskan sebagai pilihan sukarela (Opsional), bukan kewajiban, dengan tujuan memperkuat perlindungan jemaah sekaligus mendorong integrasi layanan haji dan penerbangan nasional.

Di titik ini, gaya komunikasi yang egaliter terlihat jelas. Alih-alih menutup ruang kritik, Dahnil justru membuka percakapan. Bahasa yang ia gunakan sering kali terasa seperti obrolan lintas ruang sosial tidak terjebak pada diksi birokrasi yang kaku. Pendekatan ini seakan menerabas batas antropologis antara negara dan masyarakat, menjadikan isu kebijakan yang kompleks lebih mudah dipahami publik.

Dari perspektif kebijakan publik, gagasan One Stop Service memperlihatkan upaya menggeser peran asrama haji dari sekadar fasilitas transit menjadi simpul integrasi layanan yang lebih modern. Pemeriksaan dokumen, proses check-in, hingga pengantaran jamaah dirancang dapat dilakukan sejak di embarkasi. Pro dan kontra yang muncul bukanlah anomali, melainkan bagian alami dari proses deliberasi yang sehat.

Narasi yang dibangun Dahnil juga tidak berhenti pada aspek teknis pelayanan. Ia berulang kali mengaitkan transformasi haji dan umrah dengan penguatan ekosistem ekonomi keumatan mulai dari optimalisasi maskapai nasional, tata kelola travel, hingga pemanfaatan fasilitas embarkasi sebagai ruang produktif.

 

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Republika Online (@republikaonline)

 

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement