Senin 09 Feb 2026 10:00 WIB

Ramadhanomics: Saatnya Ibadah Menyejahterakan Umat

Ramadhan membawa denyut spiritualitas dan ekonomi.

Buruh angkut membawa barang belanja milik pengunjung di pusat grosir Pasar Tanah Abang, Jakarta, Senin (9/2/2026). Sepuluh hari Menjelang Ramadhan 1447 Hijiriah, kawasan Pasar Tanah Abang mulai dipadati oleh pengunjung yang berbelanja.  Menurut salah satu pedagang, rata-rata pembeli merupakan pedagang untuk kebutuhan stok jualan di daerahnya seperti wilayah Jabodetabek, Jawa, Sumatera hingga Malaysia. Jumlah permintaan produk busana mengalami peningkatan 30 hingga 50 persen menjelang Ramadhan. Selain itu, tren busana favorit pada Ramadhan kali ini merupakan busana dengan rompi gamis berwarna emerald.
Foto: Republika/Thoudy Badai
Buruh angkut membawa barang belanja milik pengunjung di pusat grosir Pasar Tanah Abang, Jakarta, Senin (9/2/2026). Sepuluh hari Menjelang Ramadhan 1447 Hijiriah, kawasan Pasar Tanah Abang mulai dipadati oleh pengunjung yang berbelanja. Menurut salah satu pedagang, rata-rata pembeli merupakan pedagang untuk kebutuhan stok jualan di daerahnya seperti wilayah Jabodetabek, Jawa, Sumatera hingga Malaysia. Jumlah permintaan produk busana mengalami peningkatan 30 hingga 50 persen menjelang Ramadhan. Selain itu, tren busana favorit pada Ramadhan kali ini merupakan busana dengan rompi gamis berwarna emerald.

Oleh : Setiawan Budi Utomo, Pemerhati Ekonomi Syariah dan Kebijakan Publik

REPUBLIKA.CO.ID, Ramadhan selalu datang membawa dua denyut yang berjalan beriringan. Denyut pertama adalah spiritualitas yang menguat: puasa, tarawih, zakat, dan sedekah menjadi ritme harian masyarakat. Denyut kedua adalah ekonomi yang bergerak lebih cepat: pasar takjil ramai, belanja pangan meningkat, UMKM kuliner dan fesyen muslim panen pesanan, sementara perputaran uang melonjak tajam menjelang Idul Fitri.

Namun, di balik geliat itu, pertanyaan mendasar perlu terus diajukan: apakah Ramadhan telah kita kelola sebagai momentum menyejahterakan umat secara berkelanjutan, atau masih berhenti sebagai euforia konsumsi musiman?

Data mutakhir menunjukkan, tingkat kemiskinan Indonesia per Maret 2025 berada di kisaran 8,47 persen, atau sekitar 23,85 juta jiwa. Angka ini membaik, tetapi masih menyisakan jutaan keluarga yang hidup sangat dekat dengan garis kemiskinan. Sedikit saja kenaikan harga pangan atau biaya transportasi dapat mengguncang keseimbangan rumah tangga mereka. Dalam konteks inilah Ramadhan seharusnya diperlakukan bukan hanya sebagai puncak ibadah ritual, melainkan laboratorium kebijakan sosial-ekonomi.

Ramadhan dan Konsumsi: Mesin Ekonomi yang Perlu Arah

Konsumsi rumah tangga merupakan penopang utama perekonomian nasional, dengan kontribusi sekitar 53–55 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Setiap kali konsumsi bergerak, ekonomi ikut berdenyut. Ramadhan memperkuat pola ini secara signifikan.

Bank Indonesia secara rutin mencatat bahwa perputaran uang tunai selama Ramadhan–Idul Fitri berada pada kisaran ratusan triliun rupiah. Pada periode Ramadhan–Lebaran 2024, misalnya, uang kartal yang diedarkan mencapai sekitar Rp 197 triliun, sedangkan pada Ramadhan–Idul Fitri 2025 Bank Indonesia menyiapkan uang layak edar sekitar Rp 180–190 triliun, dengan realisasi penarikan dan perputaran uang tetap berada di atas Rp 150 triliun. Angka ini mencerminkan betapa besarnya aktivitas transaksi masyarakat selama bulan suci dan libur Lebaran.

Jika angka tersebut dilihat sebagai “energi ekonomi”, maka Ramadhan adalah puncak akumulasi energi konsumsi tahunan. Persoalannya, energi besar ini sering kali hanya berputar di hilir pada belanja akhir tanpa cukup mengangkat sisi produksi dan nilai tambah, terutama di tingkat UMKM dan daerah.

Di sinilah gagasan Ramadhanomics menjadi relevan: mengubah arus konsumsi ratusan triliun rupiah itu menjadi penggerak kesejahteraan umat, bukan sekadar lonjakan belanja sesaat.

UMKM dan Ekonomi Kreatif: Pemenang Alami Ramadhan

Ramadhan adalah panggung alami bagi UMKM, yang jumlahnya lebih dari 64 juta unit, menyerap hampir 97 persen tenaga kerja nasional, dan menyumbang sekitar 61 persen PDB. Lonjakan permintaan Ramadhan secara langsung menyentuh sektor yang didominasi UMKM: kuliner takjil dan pangan olahan, fesyen muslim dan modest fashion, kerajinan tangan, parcel Lebaran, hingga jasa berbasis digital dan logistik.

Tak berlebihan jika dikatakan, sebagian besar uang ratusan triliun rupiah yang beredar selama Ramadhan bersinggungan langsung dengan UMKM. Namun tanpa desain kebijakan dan ekosistem yang memadai, UMKM sering hanya menikmati kenaikan omzet jangka pendek, sementara margin keuntungan tergerus oleh kenaikan harga bahan baku dan biaya distribusi.

Di sisi lain, ekonomi kreatif Indonesia telah mencatat nilai tambah lebih dari Rp1.400 triliun, menunjukkan daya ungkit besar sektor ini. Ramadhan bisa menjadi etalase nasional bagi produk kreatif daerah kuliner khas, kriya, wastra lokal jika belanja masyarakat diarahkan secara sadar dan berpihak.

Dengan kata lain, jika belanja Ramadhan ratusan triliun rupiah itu mengalir ke produk UMKM dan ekonomi kreatif lokal, maka efek gandanya terhadap pendapatan daerah dan lapangan kerja akan sangat signifikan.

Hilirisasi Komoditas Konsumsi Ramadhan: Mengunci Nilai Tambah

Di tengah lonjakan konsumsi tersebut, satu aspek strategis yang sering terlewatkan adalah hilirisasi komoditas konsumsi Ramadhan. Selama ini, hilirisasi kerap dipersepsikan sebagai agenda industri besar. Padahal, komoditas konsumsi Ramadhan yang menyerap belanja masyarakat dalam jumlah masif justru sangat potensial untuk hilirisasi berbasis rakyat.

Hilirisasi Ramadhan berarti memindahkan nilai tambah dari penjualan bahan mentah ke pengolahan, pengemasan, branding, dan distribusi berbasis UMKM.

Pada sektor pangan, misalnya, permintaan tinggi terhadap beras, daging, ayam, telur, gula, minyak goreng, dan aneka bahan pokok setiap Ramadhan melibatkan nilai transaksi yang sangat besar. Tanpa hilirisasi, petani dan peternak hanya menikmati harga bahan mentah, sementara nilai tambah terbesar dinikmati di hilir.

Dengan penguatan UMKM pengolahan seperti pangan olahan halal, frozen food, kue kering, bumbu siap pakai nilai tambah dapat dikunci di daerah produksi.

Demikian pula pada tradisi parsel Lebaran. Jika sebagian dari ratusan triliun rupiah belanja Ramadhan dialihkan ke hampers berbasis produk lokal kue tradisional, madu nusantara, kopi dan teh lokal, rempah, kriya daerah maka Ramadhan menjadi motor penggerak industri kecil dan menengah di berbagai wilayah.

Di sektor fesyen muslim, permintaan pakaian Lebaran yang selalu melonjak dapat diarahkan untuk memperkuat modest fashion berbasis wastra lokal, sehingga konsumsi Lebaran turut menghidupkan sentra batik, tenun, dan kriya.

ZISWAF: Menopang Sisi Penawaran Ekonomi Umat

Ramadhan juga identik dengan zakat, infak, dan sedekah. Potensi zakat nasional diperkirakan mencapai ratusan triliun rupiah per tahun, sementara realisasi masih berada di kisaran puluhan triliun. Meski demikian, pengalaman zakat produktif menunjukkan bahwa dana sosial Islam mampu mengentaskan ratusan ribu mustahik dari kemiskinan jika dikelola secara tepat.

Dalam kerangka Ramadhanomics, ZISWAF berperan sebagai penyangga sisi penawaran. Ketika konsumsi Ramadhan melonjak ratusan triliun rupiah, zakat produktif dan pembiayaan mikro syariah dapat memastikan umat juga memiliki kapasitas produksi melalui modal kerja, alat usaha, pendampingan, dan akses pasar.

Dengan begitu, umat tidak hanya hadir sebagai konsumen Ramadhan, tetapi juga sebagai produsen yang berdaya.

Menjaga Ruh Ramadhan: Antara Konsumsi dan Kesederhanaan

Ramadhan mengajarkan pengendalian diri. Namun realitas modern sering menghadirkan paradoks: diskon besar, promosi masif, dan gaya hidup Lebaran yang berlebihan. Tanpa kesadaran kolektif, perputaran uang ratusan triliun rupiah selama Ramadhan bisa menjauh dari nilai keadilan sosial yang menjadi ruh ibadah.

Karena itu, Ramadhanomics menuntut keseimbangan. Belanja boleh meningkat, asal berpihak kepada UMKM, produk lokal, dan ekonomi kreatif daerah. Berbagi harus diperluas, asal produktif. Masjid dan komunitas perlu diperkuat bukan hanya sebagai pusat ibadah, tetapi juga pusat literasi keuangan dan pemberdayaan ekonomi umat.

Ramadhan Momentum Penguatan Ekonomi Ummat

Dengan konsumsi rumah tangga sebagai motor PDB, dengan perputaran uang Ramadhan–Lebaran yang mencapai ratusan triliun rupiah setiap tahun, dan dengan kemiskinan yang masih menyentuh puluhan juta jiwa, Ramadhan seharusnya menjadi laboratorium nasional keadilan ekonomi.

Ramadhanomics mengajak kita melangkah lebih jauh: menjadikan ibadah berdampak nyata melalui penguatan UMKM, ekonomi kreatif daerah, hilirisasi komoditas konsumsi Ramadhan, serta pengelolaan ZISWAF yang produktif dan terukur.

Ramadhan tentunya bukan sekadar menahan lapar. Ramadhan adalah momentum menahan kesenjangan dan menumbuhkan keberkahan yang menyejahterakan umat.

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement