Selasa 27 Jan 2026 04:30 WIB

Membangun Negara dari dalam Rahim, Stunting Sebagai Ujian Peradaban dan Masa Depan Bangsa

Stunting tidak bisa diselesaikan dengan program sektoral jangka pendek.

Petugas kesehatan menimbang berat badan seorang anak usia bawah lima tahun (balita) saat pelayanan posyandu dan bulan penimbangan anak di Kantor kelurahan Maliaro, Ternate, Maluku Utara, Senin (17/2/2025).Kegiatan penimbangan anak sekaligus pemberian vitamina A di bulan Februari tersebut untuk memantau pertumbuhan dan cakupan gizi anak sebagai salah satu upaya mencegah stunting maupun gizi buruk.
Foto: ANTARAFOTO/Andri Saputra
Petugas kesehatan menimbang berat badan seorang anak usia bawah lima tahun (balita) saat pelayanan posyandu dan bulan penimbangan anak di Kantor kelurahan Maliaro, Ternate, Maluku Utara, Senin (17/2/2025).Kegiatan penimbangan anak sekaligus pemberian vitamina A di bulan Februari tersebut untuk memantau pertumbuhan dan cakupan gizi anak sebagai salah satu upaya mencegah stunting maupun gizi buruk.

Oleh: DR. Cashtry Meher (Board of Experts Prasasti Center)

REPUBLIKA.CO.ID,   SELAMA ini kita terlalu sering memaknai pembangunan sebagai pembangunan fisik: jalan, jembatan, gedung, kawasan industri, dan infrastruktur digital. Semua itu penting, tetapi ada satu fondasi yang sering luput dari kesadaran kolektif kita, yang menentukan kualitas seluruh pembangunan berikutnya, yaitu manusia itu sendiri.

Dari bagaimana manusia dibentuk sejak awal kehidupannya bahkan sejak masih berada dalam kandungan. Di titik inilah stunting harus dipahami bukan sebagai isu gizi semata, melainkan sebagai isu kenegaraan.

Baca Juga

Ketika hampir satu dari lima anak Indonesia tumbuh dalam kondisi stunting, itu bukan sekadar angka statistik kesehatan. Itu adalah sinyal bahwa sistem kehidupan kita belum sepenuhnya mampu menciptakan lingkungan yang sehat, adil, dan layak bagi tumbuh kembang manusia.

Stunting Bukan Kegagalan Individu

Stunting sering kali disederhanakan sebagai persoalan pola asuh, pengetahuan ibu, atau kebiasaan keluarga. Cara pandang ini tidak hanya keliru, tetapi juga berbahaya, karena mengaburkan akar masalah yang sesungguhnya. Ibu dan keluarga tidak hidup dalam ruang hampa. Mereka hidup dalam sistem sosial, ekonomi, dan kebijakan publik.

Di banyak wilayah dengan angka stunting tinggi seperti sebagian wilayah di Nusa Tenggara Timur, Papua, Papua Barat, Sulawesi Barat, dan kawasan 3T lainnya kita melihat pola yang berulang, yaitu keterbatasan akses pangan bergizi, sanitasi yang buruk, air bersih yang terbatas, layanan kesehatan yang jauh, kemiskinan struktural, serta lemahnya integrasi layanan publik.

Dalam konteks ini, stunting tidak lahir dari kelalaian individu, melainkan dari ketidakhadiran sistem yang melindungi kehidupan. Menyalahkan keluarga tanpa memperbaiki sistem adalah bentuk pengingkaran tanggung jawab negara.

 

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.
Berita Lainnya

Rekomendasi