
Oleh : Kifah Gibraltar Bey Fananie, Ketua Umum GP PARMUSI
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ibadah haji sering dipersepsikan sebagai perjalanan spiritual personal. Padahal dalam kenyataan lapangan, haji adalah salah satu operasi kemanusiaan terbesar yang pernah dikelola umat manusia. Jutaan orang dari berbagai negara, bahasa, usia, dan kondisi kesehatan bergerak serempak dalam ruang geografis yang terbatas dan waktu yang sangat ketat. Tidak ada peristiwa global lain yang mempertemukan kerumunan manusia sebesar dan sepadat haji dengan tuntutan ibadah yang sama intensnya.
Indonesia berada pada posisi yang unik dan berat dalam sistem ini. Setiap tahun, lebih dari dua ratus ribu jamaah Indonesia berangkat ke Tanah Suci, menjadikannya kontingen terbesar di dunia. Mayoritas jamaah itu adalah warga lanjut usia, banyak di antaranya memiliki keterbatasan fisik, penyakit bawaan, dan ketahanan tubuh yang tidak lagi optimal. Mereka harus berjalan jauh, berdiri lama, berdesakan di tengah jutaan manusia, serta menjalankan rangkaian ibadah dalam suhu ekstrem yang sering kali melampaui empat puluh derajat celcius.
Karena itu, kesiapan fisik jamaah sendiri sudah menjadi isu penting. Pemerintah mensyaratkan istitha’ah, kemampuan fisik dan kesehatan, sebagai syarat keberangkatan. Namun jika jamaah saja dituntut siap secara jasmani dan rohani, maka tuntutan terhadap petugas haji semestinya jauh lebih tinggi. Petugas tidak hanya beribadah, tetapi juga mengawal, mengatur, membimbing, dan menyelamatkan jamaah. Mereka harus mampu berdiri lebih lama, bergerak lebih cepat, dan tetap jernih di tengah situasi yang bagi jamaah sendiri sudah sangat menguras tenaga dan emosi. Dalam arti ini, petugas haji bukanlah pegawai administratif biasa, melainkan aparatur lapangan negara yang sedang menjalankan misi kemanusiaan berskala raksasa.
Disiplin Tubuh sebagai Fondasi Disiplin Pelayanan
Di tengah realitas lapangan yang keras itu, sering muncul pertanyaan publik tentang mengapa petugas haji perlu dilatih baris-berbaris. Pertanyaan ini muncul karena kita cenderung memisahkan antara pelayanan publik dan disiplin fisik, seolah yang satu adalah urusan administrasi dan yang lain sekadar simbol masa lalu. Padahal dalam psikologi modern, disiplin tubuh adalah fondasi dari disiplin mental.
Kemampuan seseorang untuk tetap tenang, patuh pada prosedur, dan tidak bertindak impulsif ketika berada di bawah tekanan bergantung pada keterlatihan tubuhnya. Tubuh yang terbiasa berada dalam keteraturan akan mengirim sinyal stabil kepada otak, sehingga pengambilan keputusan menjadi lebih jernih. Sebaliknya, tubuh yang tidak terlatih akan lebih mudah jatuh ke dalam reaksi panik, agresif, atau apatis ketika berada dalam situasi ekstrem.
Latihan baris-berbaris bekerja tepat pada wilayah ini. Ia melatih seseorang untuk menahan gerak, menunda keinginan, dan menyesuaikan diri dengan perintah kolektif. Bagi petugas haji, latihan semacam ini menjadi sangat penting karena mereka bekerja di tengah jamaah yang kelelahan, kebingungan, dan sering kali emosional. Petugas yang tidak memiliki disiplin tubuh akan mudah ikut larut dalam kekacauan, sementara petugas yang terlatih akan menjadi jangkar stabilitas di tengah situasi yang tidak menentu.
Sinkronisasi Tubuh dan Sinkronisasi Jiwa
Di dalam barisan, yang dibentuk bukan hanya keteraturan gerak, tetapi juga keteraturan rasa. Ketika sekelompok orang bergerak bersama dalam satu tempo dan arah, tubuh mereka menjadi sinkron dan pikiran mereka pun mengikuti. Ilmu saraf menunjukkan bahwa aktivitas sinkron seperti ini memperkuat rasa kebersamaan, kepercayaan, dan loyalitas. Inilah sebabnya tim penyelamat, pasukan penjaga perdamaian, dan unit darurat selalu dibentuk melalui latihan kolektif yang menata tubuh.
Dalam penyelenggaraan haji, kekompakan semacam ini bukanlah kemewahan, melainkan kebutuhan operasional. Ketika arus jamaah berubah, ketika cuaca memburuk, atau ketika terjadi keadaan darurat medis, petugas harus mampu bergerak sebagai satu kesatuan. Mereka tidak bisa berpikir sendiri-sendiri. Baris-berbaris melatih kesadaran bahwa keselamatan jamaah hanya bisa dijaga ketika semua orang bergerak dalam irama yang sama.
Menghancurkan Ego demi Melayani Umat
Salah satu aspek terpenting dari latihan baris-berbaris adalah penundukan ego. Dalam barisan, tidak ada ruang untuk bertindak semaunya sendiri. Setiap orang harus menyesuaikan diri dengan yang lain, karena satu kesalahan akan memengaruhi keseluruhan formasi. Dari sini tumbuh rasa tanggung jawab kolektif dan rasa malu yang sehat ketika melanggar aturan.
Dalam konteks pelayanan haji, nilai ini sangat krusial. Petugas yang mengedepankan ego, enggan mengikuti prosedur, atau ingin tampil sendiri justru menjadi ancaman bagi jamaah. Baris-berbaris melatih aparatur untuk memahami bahwa keselamatan umat berada di atas kepentingan pribadi. Ini bukan hanya disiplin organisasi, tetapi etika pelayanan yang sejalan dengan nilai-nilai keislaman.
Barisan dan Spirit Ibadah dalam Islam
Islam sendiri sangat menekankan disiplin kolektif. Dalam shalat berjamaah, umat diperintahkan untuk berdiri lurus, merapatkan shaf, dan mengikuti imam. Tidak boleh ada yang mendahului atau bertindak sendiri. Pola ini melatih penundukan diri dan kesadaran akan keteraturan. Baris-berbaris dalam pelatihan petugas haji pada dasarnya adalah terjemahan fisik dari prinsip spiritual ini.
Dengan demikian, disiplin barisan bukanlah sesuatu yang asing dalam tradisi Islam. Ia justru merupakan bagian dari riyadhah al-nafs, latihan menundukkan jiwa melalui keteraturan tubuh. Dalam pelayanan haji, nilai ini menjadi sangat nyata karena petugas tidak hanya bekerja, tetapi juga menjalankan amanah ibadah sosial.
Negara Lapangan dan Retret Kepemimpinan Prabowo
Menariknya, penekanan pada disiplin fisik dan keteraturan kolektif juga tercermin dalam retreat para menteri yang digagas Presiden Prabowo Subianto. Dalam kegiatan tersebut, para pejabat tinggi negara tidak hanya berdiskusi, tetapi juga dilatih dalam disiplin barisan, ketahanan fisik, dan keteraturan gerak. Pesan simboliknya jelas: negara tidak boleh hanya menjadi mesin regulasi, tetapi harus menjadi institusi yang siap bekerja di lapangan.
Apa yang diterapkan kepada para menteri itu sejatinya sejalan dengan apa yang dibutuhkan oleh petugas haji. Negara yang ingin hadir secara nyata di tengah rakyat memerlukan aparatur yang bukan hanya cerdas, tetapi juga tangguh secara fisik dan mental. Di Tanah Suci, para petugas haji adalah wajah paling konkret dari negara Indonesia di hadapan umatnya.
Penutup: Barisan sebagai Infrastruktur Tak Terlihat
Sering kali publik hanya melihat baris-berbaris sebagai gerakan fisik yang tampak sederhana. Padahal di baliknya terdapat proses pembentukan karakter, ketahanan mental, dan kesadaran kolektif yang sangat dalam. Dalam penyelenggaraan ibadah haji, kualitas-kualitas inilah yang menentukan apakah jamaah dapat beribadah dengan aman, tertib, dan bermartabat.
Jika jamaah saja dituntut siap secara fisik dan mental untuk menunaikan ibadah di Tanah Suci, maka petugas yang melayani mereka seharusnya jauh lebih siap. Di sinilah latihan baris-berbaris menemukan maknanya yang paling relevan sebagai infrastruktur tak terlihat bagi negara yang ingin benar-benar hadir di tengah umat, bahkan di medan paling berat sekalipun.