Selasa 13 Jan 2026 14:26 WIB

Membedah Profesionalisme Berbasis Nilai di Pondok Modern Gontor

Gontor berdiri di atas nilai-nilai luhur yang menguatkan keberlanjutannya.

Suasana pendidikan di Gontor.
Foto: Dok Republika
Suasana pendidikan di Gontor.

Oleh: Mufti Afif, Dosen Universitas Darussalam Gontor

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Di tengah persaingan dunia pendidikan yang kian sengit, profesionalisme sering kali dimaknai secara sempit sebagai kecakapan teknis dan capaian material belaka. Banyak lembaga pendidikan berlomba meningkatkan efisiensi dan produktivitas, namun kerap mengabaikan fondasi nilai yang seharusnya menyertai pengabdian. Di sinilah Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) hadir dengan pendekatan berbeda yang melampaui standar manajemen konvensional.

Baca Juga

Sejak berdiri pada 1926, Gontor telah mengelola institusinya di atas sistem wakaf. Model ini tidak hanya menjadi pilar keberlanjutan pendidikan, tetapi juga membentuk etos kerja khas yang berakar pada nilai-nilai spiritual. Di lingkungan Gontor, bekerja dipahami sebagai sebuah amanah, bukan sekadar rutinitas administratif atau aktivitas ekonomi semata.

Prinsip kerja ini mengacu pada Panca Jiwa Gontor: keikhlasan, kesederhanaan, berdikari, ukhuwah Islamiyah, dan kebebasan. Kelima nilai ini tidak berhenti sebagai slogan normatif, melainkan dihidupkan dalam praktik sehari-hari, mulai dari pengelolaan unit usaha pesantren hingga pembinaan sumber daya manusia. Hasilnya, profesionalisme tumbuh bukan karena tekanan sistem insentif, melainkan bersemi dari kesadaran moral dan kekuatan keteladanan.

Di tengah arus komersialisasi pendidikan, model Gontor menjadi sangat relevan. Pesantren ini membuktikan bahwa lembaga pendidikan Islam dapat mandiri secara ekonomi tanpa harus mengorbankan idealisme. Wakaf tidak diposisikan sebagai aset pasif, melainkan dikelola secara produktif melalui unit usaha seperti koperasi, percetakan, pertanian, hingga sektor jasa. Seluruh keuntungan dari unit-unit ini dikembalikan sepenuhnya untuk menopang pendidikan dan pengabdian sosial.

Keunikan Gontor dalam membangun etos kerja berbasis wakaf ini kemudian dikaji secara sistematis melalui sebuah penelitian akademik. Riset ini dilakukan oleh tim dosen Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor yang terdiri dari penulis, Arie Rachmat Sunjoto, Khurun’in Zahro’, dan Winda Roini. Kajian tersebut mendalami bagaimana nilai-nilai pesantren diformulasikan menjadi model profesionalisme yang relevan dengan tantangan zaman.

Temuan riset menunjukkan bahwa profesionalisme di Gontor dibentuk melalui internalisasi nilai dan exemplification atau keteladanan. Penulis menjelaskan bahwa nilai-nilai kerja ditransmisikan melalui contoh nyata dari para pimpinan dan pengelola wakaf. "Dari situlah etos kerja terbentuk secara alami. Keikhlasan menjadi dasar, sementara disiplin dan tanggung jawab tumbuh sebagai konsekuensi moral, bukan paksaan struktural," ungkapnya.

Sistem ini pada akhirnya melahirkan sosok "Insan Wakaf", pribadi yang disiplin, tangguh, dan memiliki loyalitas tinggi terhadap lembaga. Profesionalisme mereka tidak hanya diukur dari kinerja teknis, tetapi juga dari integritas dan konsistensi terhadap nilai-nilai yang diyakini.

Keberhasilan Gontor dalam memadukan etika kerja Islam dengan sistem manajemen modern ini mulai menarik perhatian luas dari akademisi maupun praktisi pendidikan, baik di dalam maupun luar negeri. Riset ini mempertegas bahwa profesionalisme berbasis nilai bukanlah sebuah konsep utopis. Ia adalah praktik nyata yang dapat direplikasi dan dikembangkan oleh lembaga pendidikan Islam lainnya guna mencetak sumber daya manusia yang bekerja dengan semangat ibadah, konsistensi, dan dedikasi tanpa batas.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement