
Oleh: Sudarnoto Abdul Hakim, Ketua MUI Bidang Hublu dan Kerja Sama Internasional, Guru Besar UIN Jakarta
REPUBLIKA.CO.ID, Sudah tiga hari saya berada di Amman, Yordania, mengikuti rangkaian muhibah kemanusiaan yang diselenggarakan oleh sebuah konsorsium enam lembaga kemanusiaan yaitu Rumah Zakat, Relawan Nusantara, Masjid Nusantara, Sharing Happines, Rumah Waqaf dan Better Youth. Ikut membersamai acara ini ialah Republika, Jawa Pos, TVONE, dan Garuda TV. Target utama dari aksi ini adalah para pengungsi Palestina yang telah bertahun-tahun hidup di pengungsian Amnan.
Apa yang saya saksikan di lapangan menggambarkan secara nyata wajah kemanusiaan yang terluka, sekaligus menegaskan krisis Palestina bukan sekadar krisis kemanusiaan biasa, melainkan krisis struktural yang berakar pada penjajahan dan kekerasan sistemik yang belum dihentikan. Di antara para pengungsi, sebagian tinggal di bangunan semi permanen yang tidak layak huni, menyewa dengan biaya yang tidak sebanding dengan kondisi bangunan. Sebagian lainnya bertahan hidup di tenda-tenda lusuh yang rapuh menghadapi musim dingin.
Lebih memilukan lagi, saya bertemu dengan anak-anak Gaza yang tengah menjalani perawatan intensif di rumah sakit karena berbagai jenis kanker. Banyak di antara mereka diyakini menjadi korban paparan radiasi senjata penghancur yang digunakan Israel dalam agresi militernya. Kondisi ini sungguh memprihatinkan dan menampar nurani kemanusiaan kita bersama.
Bantuan kemanusiaan dari berbagai negara, termasuk Indonesia, memang terus mengalir. Lembaga-lembaga kemanusiaan lokal di Yordania bekerja dengan dedikasi tinggi, didukung oleh organisasi internasional seperti UNRWA dan Jordan Hashemite Charity Organization (JHCO). Secara umum, bantuan yang diberikan masih didominasi oleh bantuan darurat: paket makanan, minuman, pakaian hangat, dan perlengkapan musim dingin. Bantuan ini sangat penting dan menyelamatkan nyawa, terutama dalam situasi krisis akut.
Selain itu, terdapat pula inisiatif pendidikan bagi anak-anak yatim piatu pengungsi yang diselenggarakan oleh lembaga kemanusiaan lokal dengan dukungan PBB. Namun, pendidikan ini sangat terbatas, umumnya hanya sampai tingkat SMP. Setelah itu, masa depan anak-anak ini menjadi tanda tanya besar. Sementara itu, para orang tua hanya memiliki akses kerja di sektor pertanian dan perkebunan dengan upah yang sangat minim. Bantuan tunai yang mereka terima, maksimal sekitar 50 dinar Yordania, jelas sama sekali tidak mencukupi untuk membayar sewa tempat tinggal, listrik, air, dan kebutuhan makan harian.
Dalam konteks inilah kehadiran konsorsium lembaga kemanusiaan Indonesia menjadi sangat berarti. Program seperti Food Basket for Palestine dan Winter Aid for Palestine tidak hanya meringankan beban hidup para pengungsi, tetapi juga menghadirkan kebahagiaan sesaat, terutama bagi anak-anak dan orang tua yang menerima santunan, hiburan, dan perhatian tulus dari para relawan. Meski demikian, kita juga harus jujur mengakui bantuan ini—betapapun penting dan mulianya—belum mampu menyentuh akar persoalan.