Rabu 31 Dec 2025 10:11 WIB

Pemerintah, BUMN, dan Penanganan Bencana

Gotong royong inilah yang kini sukses menghadirkan 500 hunian baru.

Pekerja membangun hunian sementara (huntara) untuk korban bencana banjir bandang di Karang Baru, Aceh Tamiang, Aceh, Ahad (28/12/2025). Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang telah menyiapkan 14 titik lahan HGU milik sejumlah perkebunan untuk lokasi pembangunan huntara dengan ukuran 4,5 x 4.5 meter persegi per unit bagi warga korban bencana hidrometeorologi akhir November lalu yang kehilangan rumah atau mengalami rusak berat.
Foto: ANTARA FOTO
Pekerja membangun hunian sementara (huntara) untuk korban bencana banjir bandang di Karang Baru, Aceh Tamiang, Aceh, Ahad (28/12/2025). Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang telah menyiapkan 14 titik lahan HGU milik sejumlah perkebunan untuk lokasi pembangunan huntara dengan ukuran 4,5 x 4.5 meter persegi per unit bagi warga korban bencana hidrometeorologi akhir November lalu yang kehilangan rumah atau mengalami rusak berat.

Oleh : Abdullah Sammy

REPUBLIKA.CO.ID, ACEH TAMIANG -- Hunian baru bagi korban bencana Sumatra siap diserahterimakan. Presiden Prabowo Subianto akan menyerahkan hunian baru kepada masyarakat atas nama negara.

Di belakang Prabowo, ada puluhan ribu orang yang bekerja. Dialah relawan, buruh bangunan, pekerja lintas kementerian dan BUMN. Usaha keras bergotong royong yang dipimpin langsung Presiden Prabowo berbuah berdirinya hunian baru secara cepat.

Ibarat adagium, "jangan memukul kabut dengan pedang, cukup tunggu matahari terbit." Penanganan bencana memang selalu membutuhkan waktu. Apalagi yang skala besar. Luasnya wilayah ditambah rusaknya infrastruktur membuat proses penanganan bencana tak bisa instan.

Namun kompleksitas itu bisa perlahan terurai lewat usaha keras bergotongroyong. Saya menyaksikan sendiri bagaimana puluhan ribu orang bekerja tanpa henti secara bahu membahu.

Ada TNI, Polri, dan BNPB yang melakukan langkah reaktif paling awal. Hingga puluhan BUMN bersinergi dengan memberikan lahan baru hingga membangun konstruksi hunian baru.

Semua pihak berkolaborasi demi pemulihan bencana. Bekerja bukan karena siapa tapi bagaimana membuat situasi sulit menjadi lebih mudah. Ini khususnya di Aceh Tamiang, wilayah terparah yang dihantam bencana banjir.

Kini 500 hunian baru sudah terbangun di Aceh Tamiang hanya dalam tempo kurang dari sepekan. Total akan ada 15 ribu hunian baru yang dibangun pemerintah lewat BUMN.

Meski begitu, tetap ada kritik yang muncul. Kritik menjadi kewajaran. Dengan kritik pemerintah justru mendapat sudut pandang berbeda yang dapat meningkatkan kualitas penanganan bencana.

Ini seperti kritik soal sebaran bantuan yang direspons pemerintah dengan semakin meratanya lokasi penanganan bencana. Bahkan kini BUMN sedang membuka lokasi lahan baru untuk pembangunan hunian bagi masyarakat terdampak.

Kekurangan memang masih ada di sana-sini dalam penanganan bencana. Tapi progres penanganan bencana adalah fakta nyata yang bisa disaksikan langsung di lokasi. Fakta yang dibangun lewat kerja keras dan gotong royong. Antara pemerintah, rakyat, serta dunia usaha termasuk BUMN di dalamnya.

Gotong royong inilah yang kini sukses menghadirkan 500 hunian baru yang dilengkapi fasilitas penunjang yang memadai. Fasilitas mulai dari tempat tidur, selimut, kipas angin, sanitasi serta air bersih, ruang trauma healing, sarana permainan anak, hingga wifi gratis.

Dan di atas hunian dengan segala fasilitas yang memadai itu harapan dan asa mulai dirangkai kembali masyarakat terdampak bencana. Harapan untuk menatap masa depan yang lebih baik di atas atap hunian baru.

Sejatinya saat kita berusaha keras dan bekerja sama akan selalu lahir kemudahan dari setiap kesulitan, fa'inna ma'al-'usri yusrā, Inna ma'al-'usri yusrā (Surat Al-Insyirah ayat 5 dan 6).

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement