Senin 15 Dec 2025 15:13 WIB

Bencana Sumatera dan Etika Kenegaraan

Negara perlu hadir dengan suara resmi, empati terbuka, dan pengakuan duka rakyatnya.

Bencana Sumatera dan Etika Kenegaraan
Foto: Republika-Daan Yahya
Bencana Sumatera dan Etika Kenegaraan

Oleh : Prof Basuki Supartono; Guru Besar Fakultas Kedokteran UPN Veteran Jakarta

REPUBLIKA.CO.ID,Perdana Menteri Australia, Anthony Albanese, baru saja mengambil langkah simbolik di saat negaranya berduka akibat penembakan massal di Pantai Bondi. Langkah sederhana namun penuh makna. Pemerintah Australia memutuskan mengibarkan bendera nasional setengah tiang di seluruh negeri sebagai bentuk penghormatan dan solidaritas kepada para korban wafat dan luka dan keluarganya.

Keputusan ini disampaikan cepat secara resmi, terbuka dan kenegaraan. Sebagai penanda bahwa negara hadir bukan hanya untuk mengelola situasi, tetapi juga untuk merasakan duka cita warganya.

Baca Juga

Tindakan semacam ini menunjukkan bahwa dalam situasi bencana, empati negara bukan sekadar ekspresi pribadi pemimpin, melainkan bagian dari sikap kenegaraan resmi. Duka tidak hanya dimakanai sebagai urusan keluarga korban semata, namun dijadikan sebagai pengalaman kolektif bangsa. Di banyak negara, isyarat simbolik semacam ini dipahami sebagai bagian integral kepemimpinan publik. Terutama ketika negara dihadapkan pada peristiwa yang mengguncang rasa kemanusiaan bersama. 

 
 
 
Lihat postingan ini di Instagram
 
 
 

Sebuah kiriman dibagikan oleh Republika Online (@republikaonline)

Bencana banjir dan longsor yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat patut dimaknai lebih dari sekadar kejadian alam. Laporan terakhir menyebutkan jumlah korban meninggal telah mencapai 1.016 orang, dengan 212 orang masih dinyataan hilang, serta 624.670 warga harus bertahan di pengungsian.

Angka ini bukan sekedar data namun mencerminkan penderitaan seluruh warga bangsa dan menyentak kesadaran kolektif nasional bahwa bencana ini telah berkembang menjadi krisis kemanusiaan. Negara hadir secara teknis. Aparat bergerak di lapangan, evakuasi dilakukan, bantuan logistik disalurkan, dan koordinasi lintas sektor berjalan.

Upaya tersebut penting dan patut dihargai. Namun di tengah besarnya korban jiwa dan luasnya dampak sosial, publik juga mencermati bahwa respons pemerintah pusat lebih sering disampaikan dalam bahasa administratif. 

Laporan situasi, pembaruan data, dan mekanisme penanganan. Belum tampak kuat kehadiran simbolik melalui pernyataan belasungkawa pemerintah resmi yang tegas dan mewakili negara secara institusional. Secara pribadi Presiden Prabowo Subianto telah menyampaikan duka cita melalui akun pribadinya.

 
photo
Hingga pembaruan data per 15 Desember 2025, program respon darurat dan bantuan lanjutan yang dijalankan Rumah Zakat bersama para mitra kolaborator telah menjangkau 35.675 penerima manfaat di Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. - (Rumah Zakat)

 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement