
Oleh: Asep Lukman*
REPUBLIKA.CO.ID, Sejujurnya, saya adalah orang yang merasa janggal dengan kesimpulan orang-orang pintar yang bekerja di lembaga survei dan terindikasi kepada pro pemerintah.
Sejak awal saya meragukan motivasi mereka jika disebut sebagai analis dan surveyor yang independen karena beberapa alasan. Di antaranya tidak sedikit survei prapemilu lebih merupakan penggiringan opini daripada potret keadaan yang sesungguhnya.
Pada kesempatan ini, lebih khusus saya ingin menyoroti hasil survei tingkat kepuasan publik Indonesia pada kinerja Presiden Jokowi yang konon katanya 80% lebih. Padahal masyarakat yang ikut pemilu saja hanya sekitar 75%. Dan sudah pasti sebagian di antara yang ikut pemilu adalah yang anti-Jokowi.
Bukankah fakta, jika masyarakat kita terbagi pada tiga kelompok antara yang pro dan kontra, juga apatis (golput).
Kenapa saya hubungkan dengan angka keikutsertaan pemilu dan golput?. Ini untuk menggambarkan bahwa angka markup itu jauh melampaui angka partisipasi pemilu. Muncul beberapa pertanyaan dalam benak : Apa mungkin orang yang puas lalu bersikap apatis (golput), dan apa mungkin juga orang yang puas lalu ikut pemilu dengan harapan adanya perubahan (pergantian presiden).
Mungkin orang-orang pintar yang ada di lembaga survei mengira masyarakat yang mengusung isu perubahan (kontra/oposisi) itu ber-KTP di pelanet lain. Di sisi lain, lembaga survei yang sama mengatakan, bahwa Anies Baswedan sebagai calon oposisi yang mengusung isu perubahan hanya menempati urutan ke 3 dibanding Ganjar dan Prabowo. Anies hanya memiliki 25% elektabilitas.
Nah, anggap saja ini benar. Lalu kelompok pro Anies ini apakah dapat dikategorikan orang yang puas terhadap kinerja presiden Jokowi?. Bukankah tidak sedikit kelompok pendukung oposisi dituduh sebagai kelompok anti-Jokowi, radikal, dan rasis, karena mereka kelompok yang sejak awal mengusung isu perubahan dan menginginkan pergantian presiden.
Maka jika lembaga survei konsisten dengan angka yang notabene mereka buat sendiri saja, kepuasan terhadap kinerja presiden Jokowi dikurangi oleh jumlah pendukung Anies harusnya tidak 85%, tapi tersisa sekitar 75%.
Tentu ini baru satu variabel yang dapat mengurangi, karena ada variabel lain semisal masyarakat golput, para pendukung Prabowo dan bahkan pendukung Ganjar Pranowo pun sangat belum tentu seluruhnya merasa puas dengan hasil kerja Presiden Jokowi. Dan lagi-lagi itu pun jika saja angka yang mereka katakan terkait elektabilitas bakal calon presiden benar adanya. Karena ada dugaan terkait rendahnya hasil survei pada Anies Baswedan dan figur oposisi lainnya sesungguhnya hanya sebagai “angka-angka bullying” semata dari kubu yang kontra.
Selain itu, baru-baru ini muncul juga di media sosial survei yang menyimpulkan bahwa konon katanya 76% masyarakat Indonesia menginginkan presiden Jokowi tiga periode. Artinya, secara kuantitatif jumlah mereka sama dengan 100% masyarakat Indonesia yang ikut pemilu, seluruhnya menginginkan Jokowi tidak mau diganti. Bukankah survei semisal ini telah melupakan fakta bahwa sekaliber Megawati, Prabowo, Surya Paloh, SBY dan Ahmad Saikhu pun menolak masa jabatan presiden 3 periode. Tokoh-tokoh ini adalah ketua umum partai besar yang jika dijumlahkan, memiliki konstituen mayoritas menolak jabatan tiga periode.
Bagi saya, kesimpulan statistika hasil orang-orang survei itu sering sekali terlalu mudah menggeneralisir, tapi tidak equivalen dengan fakta yang ada.
*) Penulis adalah penggiat sosial dan pemerhati politik